Menagislah Di Tahun Baru




Tekad Baru
Bagi kebanyakan orang, tahun baru hanya berarti hura-hura dan ekspresi kebebasan yang kelewat batas. Esensi dan makna hakiki pergantian tahun hilang sama sekali. Ketika peniupan terompet, tradisi jahiliyah modern, tanda pergantian waktu ditiup dengan sekeras-kerasnya, beraduk dengan hiruk pikuk suara teriakan dan tepuk tangan bersuka cita, bisa dipastikan semua yang terlibat lupa bahwa kelak akan terjadi tiupan sangkala mahadahsyat, bukan pertanda pergantian waktu melainkan tanda berakhirnya waktu kehidupan dunia. Ketika itu, tiada teriakan suka cita, melainkan jeritan dan raungan tangis ketakutan dan kepanikan.

Kehadiran tahun baru bagi umat Islam sesungguhnya bukan peristiwa sakral. Bukan hari raya yang harus dirayakan dengan segala ritual dan prosesinya. Namun, peristiwa itu hendaklah menyadarkan kita betapa setiap kali berganti tahun berarti berkurang pula ajal dan jatah usia kita hidup di dunia. Sehingga kehadiran tahun baru bukan semakin membuat kita lupa diri dan bersuka cita karena merasa punya kesempatan ke depan untuk membuat kehura-huraan dan kesenangan model baru. Sebaliknya, tahun baru hendaklah membangkitkan kesadaran kita betapa semakin sempit masa kita untuk sekedar bersenang-senang padahal kita butuh bekal sangat besar untuk melanjutkan perjalanan kita setelah melewati garis akhir kehidupan dunia ini. Tahun baru adalah momentum kelahiran tekad baru, semangat dan azam baru untuk menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya.

Tahun Hijrah
Gagasan untuk memiliki tahun sendiri bagi umat Islam memang sangat tepat. Bukan berarti tahun Masehi tidak boleh dikatakan milik umat Islam. Itu juga milik kita, karena Allah menjadikan matahari dan bulan adalah pertanda dan ayat bagi semua manusia. Bahkan ibadah sholat lima waktu kita pun berpandukan pada perjalanan matahari (solar sistem). Hanya saja, kebanyakan waktu ibadah dan peristiwa penting dalam Islam banyak berpandukan pada bulan-bulan qamariah (lunar sistem). Seperti puasa Ramadan, puasa 6 hari di bulan syawal, haji dan lain-lain.

Untuk menentukan momentum yang paling tepat untuk dijadikan sebagai titik awal penghitungan kalender Islam terjadi banyak usulan. Hingga akhirnya pendapat Khalifah Umar bin Khatablah yang disepakati. Yaitu menggunakan momentum hijrahnya Rasulullah saw. ke Madinah sebagai patokannya. Ini membawa arti sangat penting karena spirit hijrah dengan segala maknanya yang luas itu akan terus hidup dan menyala di hati umat meski pun berganti waktu dan tahun. Hijrah adalah perpindahan terus menerus dari satu kondisi kepada kondisi yang lebih baik. Meski pun hijrah makani, yakni perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain boleh saja telah berhenti, namun hijrah maknawi, yakni perpindahan dari keburukan kepada kebaikan, dari kemunduran kepada kemajuan, dari kebodohan kepada pengetahuan, dari kesesatan kepada petunjuk dan seterusnya adalah hijrah yang tidak boleh berhenti dalam jiwa umat. Sebab jika semangat hijrah seperti itu telah sirna dari jiwa umat maka akan berakhir pada kematian umat itu sendiri.

Maka pergantian tahun hijriyah bagi umat Islam tidak akan dimaknai sebagai kesempatan untuk bersenang-senang, melainkan momentun untuk bermuhasabah dan mengevaluasi prestasi hidup. Bahkan saat kita harus menangisi dosa-dosa masa lalu seraya bangkit untuk memperbaiki diri di masa mendatang. Betapa pun kemarin kita buruk, esok kita harus menjadi baik. Karena barang siapa yang hidupnya pada hari ini lebih buruk dari hari kemarin adalah orang yang merugi dan celaka. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak seorang pun yang mati melainkan pasti akan menyesal.” Bertanya sahabat, “Apakah yang disesali ya Rasulullah?” Jawab beliau, “Jika dia orang baik maka akan menyesal kenapa tidak meningkatkan terus kebaikannya, dan jika dia orang jahat dia akan menyesal kenapa tidak berhenti dan bertaubat dari kejahatannya.”

Berbekal
Peningkatan dan perubahan kepada kondisi yang lebih baik itulah pesan kuat yang terkandung dalam setiap pergantian tahun baru. Kehidupan di penghujung tahun adalah etape baru untuk membuat kita semakin bersemangat untuk mendayung bahtera kita hingga mencapai garis finish kehidupan duniawi. Namun yang harus kita sadari adalah bahwa hanya di sini dan dalam waktu singkat inilah kita diberi kesempatan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya bekal perjalanan yang masih harus diteruskan sesudah kematian, bahkan jauh lebih panjang dari kehidupan duniawi. Di belakang kita menunggu alam Qubur atau alam Barzakh, kemudian hari kebangkitan, perhimpunan agung di padang mahsyar, perjalanan meniti jembatan sirath, lalu nasib kita akan berakhir pada kehidupan abadi di surga atau di neraka. Sungguh perjalanan panjang itu membutuhkan bekal yang amat banyak.

Coba apakah yang akan kita katakan jika pada suatu hari kita bertemu tetangga kita yang tiba-tiba membawa hampir seluruh isi rumahnya untuk sebuah perjalanan singkat. Hanya untuk perjalanan dalam waktu sehari dua hari saja tetapi hampir seluruh miliknya dibawa. Mungkin kita mengatakan dia itu “kurang waras.” Tapi sungguh kalimat itu juga pantas kita katakan untuk diri kita sendiri. Bukankah kita juga tidak jauh berbeda dari tetangga kita yang aneh itu. Bahkan kita jauh lebih aneh. Kenapa?? Betapa banyak waktu, tenaga, harta dan segala yang berharga dalam hidup kita hanya semata-mata untuk kepentingan duniawi sang singkat. Bukankah kita tahu, sebagai orang yang beriman, bahwa kehidupan akhirat itu jauh lebih panjang dan jauh lebih membutuhkan bekal yang banyak ketimbang kehidupan duniawi ini. Akan tetapi berapa jamkah dalam sehari kita gunakan waktu kita untuk benar-benar beribadah kepada Allah? Berapa besarkah harta dan tenaga kita yang kita curahkan untuk menjadi bekal akhirat dibanding yang kita gunakan untuk bersenang-senang secara duniawi? Jujur, kita malu.

Sebaik Bekal
Ya perjalanan kita sangat panjang. Jalan hijrah terus terbuka. Dan, perjalanan panjang kita itu baru berakhir pada terminal keredhaan Allah di surga ataukah terminal kemurkaan-Nya di neraka. Lalu bekal apakah yang terbaik harus kita bawa untuk perjalanan kita menghadap Allah? Saat atasan kita meminta kita untuk menghadap, kita akan datang dengan sekuat tenaga dengan segala modal dan penampilan agar dapat membuatnya senang. Akan tetapi apakah yang kita persiapkan dan kita bawa ketika Allah -- bukan atasan kita, melainkan Pencipta kita, Pengasih kita, Penjaga dan Pelindung kita – memanggil kita untuk menghadap-Nya? Sekali lagi, kita malu dengan jawaban kita.

Ingatlah, “Pada hari ketika tidak berguna harta dan anak-anak kecuali yang datang menghadap Allah dengan hati yang sejahtera”! (Qs. 26 : 88) Hati yang sejahtera adalah hati yang bersih dari noda-noda syirik, riya’, sombong dan dengki. Hati yang sejahtera adalah hati yang berisi taqwa dan yang selalu dibersihkan dengan niat ikhlas dan hanya berusaha untuk membuat Allah redha. Segala bekal yang bisa kita bawa menghadap kepada Allah akan sia-sia saja jika tidak dilandasi dengan iman dan taqwa, ikhlas dan taat kepada Allah semata. “Maka berbekalah kalian semua, namun sebaik-baik bekal itu adalah taqwa.” (Qs. 2 : 197 )

Sungguh perjalanan panjang itu tidak cukup hanya dengan amal dan ibadah kita yang asal-asalan. Apalagi bukan semata-mata amal kita yang kelak akan membawa kita masuk surga. Sabda Nabi, “Ingatlah bahwa tidak akan membawa kalian masuk surga hanya karena amal kalian?” Sahabat terkejut dan bertanya, “Tidak juga Engkau ya Rasulullah?” Jawab Nabi, “Tidak juga aku, melainkan jika Allah berkenan melimpahkan rahmat-Nya.” Rahmat Allah itu hanya diraih dengan keikhlasan, mujahadah dan istiqamah. Sungguh tidak pantas jika kita mengharap rahmat Allah yang menjadi kunci masuk surga itu kita undang dengan amal seenaknya, ibadah seingatnya dan infaq sesisa harta kita.

Coba renungkanlah riwayat ini: Kelak di akhirat akan dipanggil manusia yang paling lama hidupnya dan paling banyak ibadahnya. Maka dihadirkanlah seorang ahli ibadah yang pernah hidup selama lima ratus tahun dan menggunakan hampir seluruh hidupnya untuk beribadah. Lalu dikatakan kepadanya, “Wahai hamba-Ku, masuklah kamu ke dalam surga karena rahmat-Ku!” Orang itu berkata, “Oh tidak ya Allah! Bukankah saya masuk surga adalah karena ibadahku selama itu?” Maka diperintahkanlah kepada malaikat pencatat amal, “Coba kamu hitung seberapa besarkah nilai ibadahnya?” Belum lama menghitung, malaikat itu berhenti dan berkata (dan Allah tentu sudah tahu terlebih dahulu tentang hasilnya), “Ya Allah, bobot ibadahnya selama itu jika ditimbang dengan nilai nikmat-Mu berupa sebelah matanya saja masih belum dapat mengalahkan.”

Subhanaallaah! Jika begitu bagaimana kita merasa puas dengan bekal amal kita yang seadaanya itu. Seandainya seluruh umur kita yang pendek ini kita gunakan beribadah sepenuhnya sebagai bentuk syukur kita kepada Allah atas nikmat kehidupan dengan mata, hidung, telinga, hati, tangan dan segala fasilitas jasmani dan rohani kita masih saja belum memadai dibanding dengan besarnya nilai nikmat Allah itu. Lalu bagaimana mungkin surga Allah yang “seluas langit dan bumi” dan “kesenangan abadi” itu akan kita beli dengan amal kita yang asal-asalan. Sungguh orang beriman dan berakal tidak akan bisa berdiri dan bersenang-senang di tahun baru, jika pergantian tahun ini justru menjadikan peluangnya hidup sudah semakin berkurang sementara bekal amalnya tidak kunjung meningkat. Di tahun baru, justru menjadi tahun duka cita, tahun kesedihan dan tangisan jika semakin bertambah umur, ternyata kita belum bertambah sadar dan bertambah bekal untuk menghadap Allah.[]

Hamim Tohari Abu Syauqi

Artikel Terkait



Tags:

Jalan Panjang.web.id

Didedikasikan sebagai pelengkap direktori arsip perjuangan dakwah, silahkan kirim artikel maupun tulisan Tentang Dakwah ke jalanpanjangweb@gmail.com