Ditempat Licin Itu



Share dari  FB akh Akmal Syafril

Salah satu nasihat almarhum Papa yang saya ingat benar – yang kemudian menjadi salah satu pondasi terkuat dalam pemikiran saya perihal kepemimpinan – adalah bahwa jika kita tidak bisa melakukan dengan lebih baik, maka jangan kritisi orang yang berbuat salah.  Setelah saya tumbuh dewasa, saya menjadi semakin yakin bahwa prinsip ini adalah salah satu titik pembeda utama antara seorang yang berjiwa pemimpin (baik ia sudah menjadi pemimpin atau belum) dengan seorang pecundang. 

Di sini, saya tidak membedakan antara pemimpin dan yang dipimpin, melainkan seorang yang berjiwa pemimpin dengan seorang pecundang.  Tentu tak semua orang bisa setiap saat menjadi pemimpin, namun Islam mewajibkan kita untuk berjiwa pemimpin.

Di masa kecil dulu, karena sifat saya yang temperamental, tidak jarang saya bertengkar dengan teman karena telinga ini merasa tidak nyaman mendengar kritik darinya.  Seringkali orang menghindar ketika ada tanggung jawab yang harus diambil.  Akan tetapi ketika tanggung jawab itu diambil oleh orang lain, tiba-tiba saja mereka yang menghindar menjadi komentator handal.  Seharusnya dia begini, seharusnya dia begitu, masak begini nggak bisa, masak begitu saja nggak ngerti, dan seterusnya.  Otak saya, yang sudah terprogram oleh prinsip emas almarhum Papa, biasanya akan menyuruh lisan untuk meledakkan kata-kata: “Kalau lu bisa kenapa tadi diem aja?”

Banyak bentuk kepecundangan yang sering menjadi bahan pemikiran saya.  Pada saat ujian, ada seorang teman yang mencoba-coba menyontek dari lembar jawaban saya.  Karena tidak mau repot, saya beritahukan saja jawabannya.  Tapi setelah diberitahu, dia malah protes, dan protesnya berlanjut hingga ujian selesai, hingga akhirnya saya cukup kehilangan konsentrasi.  Di luar kelas, saya bentak dia, “Udah nanya, protes lagi!  Kalo bego nggak usah sok tau!”

Please notice that I wasn’t – and am not – proud of my temperAnd you DEFINITELY shouldn’t help your friend cheating.

Semasa kuliah dulu, saya kagum sekali mendengar penuturan pengalaman ust. Rahmat Abdullah rahimahullaah ketika menjabat sebagai anggota DPR.  Pada suatu saat, adzan berkumandang, tapi pimpinan rapat tidak peduli.  Karena melihat tak ada orang yang bereaksi, maka ust. Rahmat berinisiatif meminta rapat diskors untuk shalat.  Di jalan menuju tempat shalat, seseorang dari parpol Islam lain menyalami ust. Rahmat.  Katanya, selama ini di DPR tak pernah ada yang berani meminta rapat diskors ‘hanya’ untuk shalat.  Sebagaimana semua anak muda yang mendengar kisah ini saat itu, saya pun terpukau dan berjanji kalau suatu hari menghadapi kasus serupa insya Allah akan bersikap sama pula.

Tapi itulah ust. Rahmat Abdullah.  Keliru betul kalau saya atau Anda atau siapa pun mengasosiasikan diri dengan beliau atau dengan orang lain.  Prestasinya adalah miliknya sendiri, bukan milik orang lain.  Maka keteguhan hati ust. Rahmat tidak bisa otomatis kita copy-paste ke dalam hati kita hanya karena kita sudah mendengarkan ceritanya dengan khidmat, bahkan dengan bercucuran air mata sekalipun.

Di dunia kerja, saya lihat sendiri betapa sulitnya menempatkan diri di posisi ust. Rahmat.  Dalam suatu rapat penting, saya mendampingi atasan untuk menghadapi customer yang sebagiannya adalah orang asing.  Mereka jelas tidak mengerti urgensi shalat bagi seorang Muslim.  Mereka tidak tahu kapan adzan berkumandang, meskipun bisa dipastikan semua orang yang tinggal di DKI Jakarta pastilah pernah mendengar suara adzan, karena Masjid ada di mana-mana.  Syahdan, saking serunya, rapat yang dimulai pukul 1 siang belum menunjukkan tanda-tanda akan menemukan titik temu pada pukul 5 sore.  Waktu Ashar sudah hampir habis, sedangkan para ekspat ini masih asyik berdiskusi.

Sir, could we have a few-minutes break?  We have to pray.  It won’t take very long.

Apa susahnya?  Susah sekali!

Jika sesama anggota DPR saja banyak yang merasa sungkan untuk meminta rapat diskors, maka tentu saja posisi kami saat itu lebih runyam, karena rapat tersebut menentukan dilanjutkan atau tidaknya proyek yang sedang kami tangani.  Jika sampai kehilangan proyek ini, maka perusahaan akan terancam.  Maklum, perusahaan masih sangat kecil dan proyeknya hanya satu-dua.  Kehilangan satu proyek, beberapa pegawai mungkin harus diberhentikan.  Saya bisa membayangkan pikiran-pikiran semacam ini berkecamuk dalam benak atasan saya saat itu.  Dia pun sudah berulang kali melakukan kontak mata dengan saya, dan saya bisa lihat sendiri betapa gugupnya ia memikirkan waktu Ashar yang sebentar lagi akan lewat.

Sebagai bawahan yang diajak rapat hanya untuk menambah wawasan, saya mendapat rejeki.  Atasan memberi kode agar saya pergi saja agar bisa mengejar shalat Ashar.  Saya pun bergegas ke Mushola, menunaikan shalat Ashar hanya dua puluh menit sebelum waktu Maghrib.

Setelah shalat, saya sempat istirahat sebentar.  Dari kejauhan, saya lihat atasan saya berlari tergopoh-gopoh dan buru-buru wudhu.  Syukur alhamdulillaah, akhirnya rapat selesai juga.  Naas, setelah ia selesai wudhu, adzan Maghrib berkumandang.  Saya lihat ia hampir menangis dan agak kebingungan mesti berbuat apa.  Akhirnya ia shalat Ashar, kemudian shalat Maghrib bersama jama’ah di Mushola.  Saya, atasan saya, dan mungkin sebagian besar dari Anda yang membaca tulisan ini, memang tidak sekaliber ust. Rahmat Abdullah.  Perbedaan antara saya dan atasan saya hanyalah saya diuntungkan karena jabatannya lebih rendah, sedangkan ia disusahkan oleh kedudukannya yang lebih penting.

Berinteraksi dengan para ekspat, tentu saja saya pun mengalami dilema yang sama sebagaimana yang dihadapi oleh ust. Tifatul Sembiring tempo hari.  Kebanyakan orang tidak berani menolak ketika ada perempuan (bule atau tidak bule) menyodorkan tangannya untuk bersalaman.  Kita orang Muslim sudah dilatih untuk tidak membuat orang tersinggung, apalagi perempuan, yang umumnya lebih menjaga sikap di depan umum.  Jangankan yang mengajak bersalaman, perempuan bule yang langsung melingkarkan tangannya ke bahu pun saya sudah pernah bertemu (tapi korbannya bukan saya, alhamdulillaah).

Fenomena ‘penyerangan’ terhadap ust. Tifatul belakangan ini sangat menarik, karena motifnya berbeda-beda.  Ada yang mencela bukan karena setuju bahwa salaman dengan perempuan non-mahram itu tidak boleh, melainkan karena senang melihat ust. Tifatul akhirnya gagal menjaga prinsipnya.  Ada juga yang pemikirannya langsung melanglang buana sehingga menyebut ust. Tifatul tidak konsisten dalam beragama, seolah-olah ‘bersalaman atau tidak bersalaman dengan Michelle Obama’ hanyalah satu-satunya bab dalam beragama.  Padahal, yang bersangkutan telah mengakui bahwa insiden itu tidak disengaja olehnya; artinya, ia sendiri mengakui bahwa bersalaman dengan perempuan non-mahram itu tidak boleh (sebagai catatan, Syaikh al-Qaradhawi memiliki pendapat yang agak berbeda dalam hal ini).

Bisa jadi, ust. Tifatul kelihatan begitu kontroversial hanya karena kehidupannya ‘ada di depan kamera’.  Semua tweet-nya dianggap penting, semua tulisan statusnya di Facebook begitu diperhatikan orang, bahkan posisi tangannya pun bisa jadi bahan pembicaraan sampai ke surat kabar di luar negeri.  Bagaimana jika semua perhatian itu dipindahkan pada kita?  Akan terlihat imej yang lebih baikkah, atau malah lebih memalukan?

Ada juga kawan yang sempat nyeletuk, “Masak ustadz menolak salaman aja nggak mampu!”  Sambil tertawa, saya bertanya, “Lu udah pernah meeting sama bule belum?”  Seperti yang sudah diperkirakan, jawabannya adalah: “Ya belum, lah!”  Ya, begitulah!

Memang mudah mengomentari orang kalau kita selalu menghindar dari tanggung jawab.  Kita takkan dipermalukan selama kita tak berdiri di bawah lampu sorot itu.  Kita bisa bilang ini-itu gampang, yang ini sudah jelas aturannya, yang itu sudah pasti keharamannya, tapi mungkin saja kita telah mengalami delusi setelah mendengar kehebatan orang lain, seolah-olah kehebatan itu adalah milik kita.  Kemudian kita pun marah ketika orang lain tak mampu memiliki kehebatan yang sama, seolah-olah semuanya itu adalah perkara gampang.  Mudah menghindari korupsi kalau bisnisnya cuma jualan sari kurma di rumah sendiri.  Gampang melewati jeram-jeram pemikiran sekuler kalau pergaulannya hanya di pesantren.  Tidak akan terkilir kalau tak pernah bermain bola, takkan tertembak musuh kalau tak ikut berjuang.  Jalan yang licin memang membuat banyak orang tergelincir, kecuali mereka yang memutuskan untuk mengurung diri di dalam rumah.

Keluar dari zona nyaman, pasti adakalanya kita berbuat salah.  Keberanian untuk keluar dari zona nyaman – atau keberanian untuk menguji kemampuan sendiri di luar zona nyaman -  itulah yang membedakan antara seorang yang berjiwa pemimpin atau pecundang.

Artikel Terkait



Tags:

Jalan Panjang.web.id

Didedikasikan sebagai pelengkap direktori arsip perjuangan dakwah, silahkan kirim artikel maupun tulisan Tentang Dakwah ke jalanpanjangweb@gmail.com