Dekonstruksi Ibu

.

jalanpanjang -Ketika menyusuri Jl. Sudirman di Jakarta malam itu, seperti biasa saya mengisi kekosongan dengan mendengarkan radio melalui ponsel.  Terdengarlah seorang penyiar yang bercerita dengan penuh semangat mengenai sebuah riset yang baru saja dilaksanakan oleh para ahli.  Menurut hasil riset tersebut, kaum perempuan yang sudah menikah hanya menghabiskan total tiga tahun saja dalam hidupnya untuk mengurus dirinya sendiri.  Sisa waktunya, tentu saja, habis untuk keluarga.

Ada sedikit nada mengiba, prihatin, bahkan menghina dalam suaranya ketika mengatakan bahwa kaum ibu tidak punya waktu yang cukup untuk memanjakan dirinya sendiri.  Semua ini karena tanggung jawab yang diberikan padanya untuk mengurusi suami dan anak-anaknya.

Saya teringat seorang teman yang pernah menulis sebuah artikel yang sangat menarik tentang ketidakadilan – bahkan pengkhianatan – kaum feminis terhadap perempuan.  Menurutnya, kaum feminis tidak membela kepentingan perempuan, melainkan hanya membela imej perempuan yang ada dalam benaknya sendiri.  Mereka bela perempuan yang dilarang-larang membuka aurat, tapi tak pernah mereka bela perempuan yang dipaksa membuka aurat atau dilarang menutupnya.  Mereka junjung tinggi perempuan yang ingin jadi presiden, seolah-olah yang mereka bela itu memang pantas jadi presiden, namun pada saat yang bersamaan mereka rendahkan perempuan yang dengan penuh kesadaran akal sehat memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga.

Sebagian kaum feminis berpendapat bahwa akar masalahnya adalah uang.  Karena para suami adalah pencari nafkah, maka merekalah yang memegang kendali.  Andaikan kaum perempuan juga mencari nafkah dan mendapatkan penghasilan yang tidak kalah tingginya, maka mereka bisa mendapatkan ‘posisi tawar’ yang lebih baik di hadapan suami-suami mereka.  Namun pada titik ini, rumah tangga pun sudah menjadi absurd, karena keharmonisan dan hubungan saling mengayomi sudah diganti dengan kompetisi bebas.

Sebagian lainnya sudah lebih gamblang menyatakan penolakannya terhadap institusi rumah tangga.  Buat apa berumah tangga, karena toh semua kebutuhan manusia bisa dipenuhi tanpa harus berkomitmen dengan pasangan.  Di dunia Barat, hubungan antara lelaki dan perempuan memang seringkali direduksi menjadi seks.  Adapun seks memang tidak butuh sumpah setia, apalagi sehidup-semati.  Tanpa ikatan perkawinan, hidup justru makin bervariasi, karena pasangan bisa berganti kapan saja.  Kalau ingin punya anak, bisa langsung datang ke bank sperma.  Kalau kelak anaknya protes karena tidak punya ayah, itu lain soal.  Embrio tidak punya hak menggugat.

Feminis yang paling radikal menggugat segala kemapanan, termasuk laki-laki dan agama.  Kesengsaraan perempuan sudah pasti merupakan kesalahan lelaki.  Lelaki-lah yang merupakan sumber masalah, dan karena itu, perempuan harus melepaskan diri sepenuhnya dari lelaki.  Dengan demikian, dalam pandangan sebagian kaum feminis, lesbianisme adalah pembebasan sejati dari jerat lelaki.  Lesbianisme adalah sebuah pernyataan sikap bahwa perempuan tidak butuh lelaki.  Dengan demikian, harapan mereka, perempuan bisa diperlakukan setara dengan kaum lelaki.  Namun tidak jelas juga apakah golongan ini punya agenda yang secara serius memaparkan langkah-langkah untuk melepaskan diri dari kaum lelaki sepenuhnya dalam ranah sosial-politik, misalnya dengan membentuk rumah sakit perempuan, jasa angkutan khusus perempuan, bank perempuan, parpol perempuan, atau sekalian negara perempuan!

Kalau sudah menyalahkan keberadaan lelaki, maka sungguh masuk akal jika agama pun dipersalahkan.  Sebab yang menciptakan lelaki tidak lain adalah Tuhan sendiri.  Bahkan agamalah yang dianggap telah berlaku tidak adil karena menyerahkan kepemimpinan pada lelaki, sedangkan perempuan hanya ditempatkan untuk tugas-tugas domestik yang – menurut mereka – tidak penting.  Akan tetapi, meninggalkan agama sepenuhnya dirasa tidak mungkin, atau tidak strategis.  Bagaimanapun kebanyakan manusia masih memandang penting agama.  Oleh karena itu, agama harus direvisi.  Di Barat, kaum feminis sudah banyak memperlihatkan penafsiran sepihaknya terhadap Bibel.  Bahkan banyak yang protes mengapa Tuhan selalu menggunakan kata ganti lelaki (He), dan bukannya (She).  Berhubung tak pernah ada yang bertemu dengan Tuhan, maka mengapa tak boleh menerima kemungkinan bahwa Tuhan adalah perempuan?

Sejarah feminisme begitu panjang dan berbelit-belit.  Bagaimana pun, memang kentara benar bahwa kaum feminis memang hanya membela imej perempuan yang ada dalam benaknya sendiri.  Kaum ibu hanya mendapat provokasi, bukan pembelaan.

Toh, sampai detik ini masih banyak perempuan yang ingin menjadi ibu.  Provokasi kaum feminis, termasuk dengan memaparkan hasil riset di awal tulisan ini, hanya menyentuh sebagian kecil kaum perempuan.  Di seluruh penjuru dunia, setiap manusia yang dilahirkan sebagai perempuan pastilah punya naluri untuk menjadi ibu.  Ketika seorang anak perempuan memilih boneka untuk ditimang-timang dari setumpuk mainan lainnya, tahulah kita bahwa Allah SWT telah menaruh sebuah naluri dasar yang sangat kuat dalam jiwanya.  Naluri keibuan, tidak peduli apa kata Freud, barangkali adalah naluri terkuat yang dimiliki oleh manusia, dan ia hanya dimiliki oleh kaum perempuan.  Setiap pemburu tahu, seganas-ganasnya hewan buas, yang paling berbahaya adalah induk yang mempertahankan anak-anaknya.

Allah Yang Maha Adil telah mempertemukan naluri perempuan dengan tanggung jawab yang harus diembannya.  Kaum ibu bertanggung jawab atas suami dan anak-anaknya.  Rumah tangganya adalah medan jihad-nya.  Bagaimana mungkin tidak dikatakan sebagai jihad, sedangkan hasil riset menunjukkan bahwa kaum ibu hanya menghabiskan total tiga tahun dalam hidupnya untuk mengurusi dirinya sendiri?  Tidak semua lelaki pergi ber-jihad, namun tak terhitung betapa banyaknya perempuan yang mengabaikan dirinya sendiri demi sebuah misi suci.  Sungguh wajar jika Rasulullah saw. menyuruh setiap orang untuk menghormati ibunya, ibunya, ibunya, baru kemudian ayahnya.  Bukanlah sebuah kelemahan jika ‘Umar ra. menahan diri ketika diomeli istrinya.  Sangatlah pantas jika Allah mentakdirkan kematian yang sulit bagi orang yang belum mendapatkan maaf dari ibunya, sebagaimana yang pernah terjadi di jaman Rasulullah saw. dahulu.

Ungkapan baitii jannatii bukanlah kosong semata.  Ketika Rasulullah saw. diliputi ketakutan setelah menerima wahyu pertama, beliau tidak melarikan diri ke Baitullah, padahal tempat itu diyakini kesuciannya.  Beliau berlindung pada sebuah rumah sederhana yang laksana benteng megah karena kebesaran seorang Khadijah ra.  Ketika itu tak ada sahabat yang setia seperti Abu Bakar ra., pembela seperti ‘Umar ra., atau pemuda gagah seperti ‘Ali ra.  Yang menunggunya di rumah hanyalah Khadijah ra. yang tanpa setitik ragu pun mengatakan bahwa suaminya adalah pribadi yang mulia dan selamanya takkan pernah diganggu oleh syetan.  Bertahun-tahun setelah Khadijah ra. wafat, kemegahan bentengnya masih terkenang oleh Rasulullah saw.  Telah termasyhur kata-kata Rasulullah saw. yang diucapkannya jauh setelah kepergian Khadijah ra.: “(Khadijah) beriman ketika orang-orang ingkar kepadaku, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dan dia membantuku dengan hartanya ketika orang-orang memboikotku.”  Sungguh agama ini telah tegak berdiri di atas kaki Khadijah ra.

Seorang istri dan ibu senantiasa berada dalam medan pertempuran.  Jihad-nya berlangsung sepanjang hari, sepanjang malam, dan terus berkecamuk.  Ketika mereka memutuskan untuk menjadi istri dan ibu, saat itulah hidup mereka digadaikan kepada Allah.  Itulah sebabnya mereka begitu dimuliakan.  Sayang, kini banyak kaum perempuan yang merasa tidak mulia dengan predikat itu, sedangkan kaum lelaki pun banyak yang tidak memahami kemuliaan istri dan ibu mereka.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

Artikel Terkait



Tags:

Jalan Panjang.web.id

Didedikasikan sebagai pelengkap direktori arsip perjuangan dakwah, silahkan kirim artikel maupun tulisan Tentang Dakwah ke jalanpanjangweb@gmail.com