• Beranda
  • Subscribe to my RSS
  • Twitter
  • FB Fan Page

.

  • Home
  • Kiprah Dakwah
    • Parlemen
    • Eksekutif
    • Teladan
    • Internasional
    • Aksi Sosial
    • Struktur
  • Kabar Dakwah
    • Internasional
    • Nasional
    • Palestina
    • Internasional
    • Bayan
    • Agenda
  • Suplemen
    • Wawasan
    • Inspirasi
    • Tokoh
    • Menjawab Fitnah
    • Pilar
  • Topik Khusus
    • Serial Cinta
    • Mavi Marmara 1
    • 2011
      • Revolusi Mesir
      • Operasi Menggoyang PKS
      • Kepergian Bunda Yoyoh
      • Kemenangan AKP Turki
    • Pilkada DKI 2012
    • Category
  • Resensi
  • Info
    • Beasiswa
    • Lowongan
    • Lomba
    • Category
  • Video
  • Opini



assalaamu'alaikum wr. wb.

Sejak hasil quick count pertama kali keluar, sudah ada yang minta saya
untuk membuat analisa. Meskipun berbagai pertanyaan muncul, tapi
muaranya satu : mengapa PKS hanya dapat (sementara ini sekitar) 8%
suara?

Hal pertama yang harus diklarifikasi adalah bahwa saya tidak memiliki
basis data maupun latar belakang keilmuan yang cukup untuk memberikan
analisa yang komprehensif dan dapat dipertanggungjawabk an secara
ilmiah. Kedua, saya juga bukan orang yang berwenang dalam menentukan
langkah-langkah strategis PKS ke depannya, sehingga tak mungkin bagi
saya untuk memberitahukan bagaimana sikap resmi PKS berikutnya. Ketiga
dan terakhir, setelah saya pikir-pikir, nampaknya analisa yang ada di
otak saya terlalu rumit untuk dituangkan dalam sebuah artikel atau dalam
pembicaraan- pembicaraan singkat lagi santai.

Yang lebih penting daripada analisa, hemat saya, adalah memberikan
respon yang tepat terhadap semua fenomena. Penting sekali bagi setiap
Muslim untuk terus mengingatkan dirinya bahwa hidup ini cuma
aksi-reaksi. Allah SWT sebagai pemberi aksi, dan kita dituntut untuk
memberikan reaksi yang tepat. Bocorannya sudah diberikan sejak dahulu
kala. Rasulullah saw. pernah menjelaskan bahwa hanya ada dua hal yang
menyebabkan kehidupan seorang Muslim begitu luar biasa, yaitu : sabar
dan syukur. Respon yang perlu kita berikan tidak akan keluar dari yang
dua ini.


Prinsip pertama yang harus dipegang adalah berprasangka baik kepada
Allah SWT. Semua kehendak-Nya pasti terlaksana, dan tak ada satu pun
ciptaan-Nya yang tanpa hikmah, baik berupa material maupun fenomena.
Tapi tak cukup berhenti sampai titik itu. Kita pun wajib meyakini bahwa
skenario yang dipilih oleh Allah adalah yang terbaik. Perbedaan dari
evaluasi yang benar dengan menyesali nasib adalah pada perilaku
berandai-andai. Sebenarnya akal manusia tidak punya kemampuan untuk
menyusun skenario kehidupan, karena begitu banyaknya variabel yang
terlibat.

Maka, pandanglah angka 8% itu dengan perasaan dekat dengan Allah. Jika
hati merasa berat, maka bersabarlah. Kemudian cobalah tinjau fenomena
ini dari berbagai perspektif yang akan membuat kita untuk mudah
bersyukur.


Kenaikan dukungan dari 1,5% pada Pemilu 1999 menjadi 7,5% pada Pemilu
2004 tidak hanya ditanggapi dengan gegap gempita, namun ada juga sisi
bahayanya. Kita sudah sama-sama mengalami tahapan ketika dakwah harus
dilaksanakan seperti petak umpet dengan rejim penguasa. Kita juga
mengalami tahapan ketika para da'i merasa gamang diterjunkan ke kancah
politik. Kemudian, barangkali tempo hari adalah masa-masanya kita
mencicipi euforia ketika dukungan dari masyarakat berlipat ganda dan PKS
menjadi parpol yang sangat diperhitungkan. Namun pada saat yang
bersamaan, ketika jatah kursi di DPR berlipat ganda, maka waktu
pendewasaan diri bagi para kader pun disingkat hingga berkali-kali pula.

Pembagian tugas adalah sebuah keniscayaan. Ada yang harus duduk di
Majelis Syuro, ada yang mesti menerima amanah di Dewan Syariah, ada yang
'terpaksa' menjadi pengurus DPP, DPW, DPD, DPC, hingga ke DPRa. Di luar
jabatan struktural itu, ada juga yang mesti menjalani kaderisasi sebagai
mutarabbi, ada pula yang menjadi murabbi (sekaligus mutarabbi juga,
karena tarbiyah tidak mengenal kata 'lulus'). Kenaikan suara yang
signifikan tentunya memaksa kader untuk mengambil tanggung jawab yang
lebih tinggi daripada sebelumnya. Nampaknya, tidak semua kader siap.

Ini titik kekuatan sekaligus tantangan besar bagi PKS. PAN dan PMB,
yang memiliki background Muhammadiyah, misalnya, punya sumber daya
manusia yang sangat besar. Demikian pula PKB dan PKNU, mereka punya
basis dengan SDM yang sangat masif. Di partai-partai lain, kadang kita
temukan juga 'kader karbitan', yang pindah dari parpol satu ke parpol
lainnya, lalu tiba-tiba menerima jabatan yang cukup tinggi. Politik
uang atau apa, entahlah. Yang jelas, hal yang semacam ini sangat tidak
disukai di PKS yang murni partai kader dengan jenjang kaderisasi yang
sangat jelas.

Ketika dukungan naik menjadi 7,5%, tentunya tidak seluruhnya dari 7,5%
itu merupakan kader. Banyak juga yang simpatisan; tidak terlibat di
struktur PKS namun mendukung perjuangan PKS (dan tentunya, insya Allah
memilih PKS). Jika angka 1,5% pada Pemilu 1999 cukup mendekati
prosentase jumlah kader diantara keseluruhan masyarakat Indonesia, maka
angka 7,5% pada Pemilu 2004 bergerak semakin jauh dari realita jumlah
kader. Andaikan perbandingan kader dan simpatisan adalah 50:50, maka
itu berarti hanya setengah dari 7,5% perolehan suara tersebut yang
merupakan mesin politik PKS.


Target suara 20% dalam Pemilu 2009 juga mesti dilihat dari dua sisi.
Tentu tidak ada salahnya mematok harapan setinggi langit, namun harus
siap juga menghadapi kewajiban-kewajiban yang datang beserta cita-cita
itu. Andaikan angka 20% benar-benar berhasil ditembus, itu artinya
dukungan suara untuk PKS kembali berlipat ganda hingga nyaris tiga kali
lipat. Kalau benar-benar mendapat 20% suara, bagaimanakah perbandingan
antara kader dan simpatisan? Seberapa siapkah mesin politik PKS untuk
mengelola tanggung jawab sebesar itu?

Kalau sudah bisa menerima angka 8% dengan hati lapang (baca : bersabar),
tibalah gilirannya untuk bersyukur. Pandanglah angka 8% sebagai tanda
cinta Allah kepada jalan dakwah ini. Segala puji bagi Allah yang tidak
menuntut hamba-hamba- Nya untuk melakukan sesuatu di luar kemampuannya.
Kita punya waktu lima tahun lagi untuk membenahi apa-apa yang belum
sempat kita benahi lima tahun ke belakang. Segala yang kendur bisa
dikencangkan, yang lalai bisa dikoreksi, sementara mendewasakan diri
untuk menerima tanggung jawab di marhalah dakwah berikutnya. Kita tidak
perlu memaksa diri mengambil tanggung jawab 'level 20%' jika posisinya
masih di 'level 8%'.

Keadilan Untuk PKS

Menjelang Hari-H Pemilu 2009 kemarin, iklim perdebatan di kalangan umat
Islam mencapai puncaknya. Dari wacana golput atau tidak golput, beralih
pada topik kekecewaan terhadap parpol-parpol Islam, dan biasanya
berujung pada kritik pedas terhadap PKS. PKS tidak seperti Al-Ikhwan
Al-Muslimun lah, PKS tidak seperti Masyumi lah, PKS tidak seperti PK
lah, dan seterusnya.

Nampaknya memang sikap paling bijak dalam menyikapi debat kusir adalah
meninggalkannya. Kita semua (termasuk saya) harus belajar untuk
mengimani sungguh-sungguh petuah Rasulullah saw. tentang hal ini. Pada
akhirnya, debat kusir hanya mencederai ego masing-masing. Yang salah
akan mencari pembenaran, dan yang benar akan menghadapi resiko sombong
(ingat, yang sombong takkan masuk surga!). Kalau atmosfernya sudah
dipenuhi keinginan untuk saling menjatuhkan, itulah saatnya untuk
mundur.


Sebagian orang 'menyerang' PKS simply karena memang tidak suka.
Akibatnya, setiap isu negatif soal PKS akan langsung dicerna, bahkan
disebarluaskan ke milis-milis. Asalkan berita tentang PKS itu buruk,
mereka akan langsung percaya tanpa mengecek sanad-nya. Kadang-kadang
berita semacam itu mereka ambil dengan mudahnya dari media-media sekuler
yang jelas-jelas memusuhi Islam, bahkan mereka pun pernah membicarakan
tentang keberpihakan media-media tersebut kepada kekuatan anti-Islam.
Untuk berita yang lain, mereka mau tabayyun. Untuk berita soal PKS,
lain lagi hukumnya. Kalau mau direpotkan oleh yang seperti begini, maka
waktu 24 jam sehari akan habis begitu saja. Yang terbaik yang bisa kita
lakukan adalah mendesain rencana ke depannya untuk menangkis
berita-berita tidak benar tentang PKS.

PKS memang seringkali diperlakukan tidak adil oleh sebagian pihak.
Kalau melihat fenomena parpol-parpol Islam yang sulit bersatu, tiba-tiba
semua pandangan diarahkan ke PKS, seolah-olah PKS-lah biang kerok tidak
terwujudnya persatuan tersebut. Kemudian jika ada satu saja keburukan
PKS, maka orang akan bersikap seolah-olah PKS adalah yang paling buruk
dari semua parpol, bahkan yang paling buruk diantara semua parpol.


Banyak orang menyindir PKS karena menunjukkan keinginan untuk berkoalisi
dengan Partai Demokrat. Menurut mereka, PKS hanya akan dimanfaatkan
saja oleh kekuatan sekuler di partai itu. Tapi ketika PKS menunjukkan
sikap tegasnya belakangan ini (yaitu untuk menimbang ulang koalisi jika
Partai Golkar ikut-ikutan dalam koalisi), nyaris tak ada yang mau
memberikan apresiasinya. Padahal, sikap tegas ini menunjukkan bahwa PKS
pun siap menunjukkan integritasnya untuk kepentingan umat. "Sungguh,
umat terdahulu ada yang digergaji kepalanya dan disisir oleh sisir besi,
namun mereka tidak mundur dari agamanya. Sungguh, demi Allah, urusan
ini akan disempurnakan kelak. Akan tetapi kalian terlalu terburu-buru. "
Begitulah penggalan nasihat Rasulullah saw. kepada umatnya yang kurang
bersabar. Ingin berlagak raksasa padahal masih kelas liliput.

PKS memang banyak kekurangan, namun tidak jarang juga difitnah. Dari
sekian banyak berita bohong yang disebarluaskan itu, berapakah yang
dikembalikan dengan sebuah permintaan maaf? Sepanjang pengamatan saya
di berbagai milis, belum ada. Mereka yang menebar berita bohong tentang
PKS sama sekali enggan meminta maaf meskipun beritanya sudah terbukti
bohong. Insiden memalukan yang kerap terjadi ini semestinya tidak
membuat hati kita susah. Jelaslah bahwa diskusi yang sehat dengan
oknum-oknum semacam ini sudah nyaris tak mungkin terjadi, karena egonya
sudah mendahului akal dan moralnya. Jika mereka tak sanggup bersikap
adil, barangkali memang kitalah yang ditakdirkan untuk menjadi orang
yang lebih besar hatinya.


Melarikan Diri ?

Beredar pula sugesti-sugesti negatif. "Dulu saya aktif di PK.
Sekarang, saya sudah muak. PKS tidak sama dengan PK. Militansinya jauh
beda. Kualitas kader menurun jauh. Buat apa saya habiskan waktu dengan
jamaah yang seperti ini?"

Buang waktu atau tidak, itu sepenuhnya keputusan dirinya sendiri. Jika
memang tidak mampu lagi mengambil manfaat, maka itu adalah kelemahan
dirinya sendiri. Hampir semua orang yang menyatakan dirinya 'mantan
aktifis PK / PKS yang kecewa berat' tidak mau (atau tidak mampu)
membuktikan klaimnya. Ada beberapa orang yang saya kenal dengan
karakter seperti itu, namun ternyata ia bukan aktifis dimana-mana.
Aktifisme yang dibangga-banggakann ya di masa lalu itu cuma sebatas
halaqah pekanan dan beberapa kepanitiaan saja, itu pun statusnya cuma
'bantu-bantu' , bukan Ketua Panitia atau apalah. Sama dungunya seperti
pernyataan Arbania Fitriani yang konon 'membongkar rahasia PKS' sebagai
parpol yang hendak menyebarluaskan kultur Arab di Indonesia.


Para pengkhianat takkan pernah jadi kader yang baik. Komprador akan
dipandang rendah, baik di negerinya sendiri maupun di negeri penyandang
dananya. Paling tinggi, ia hanya akan jadi alat bagi orang lain.


Dalam pandangan saya, orang yang melarikan diri dari jamaah (jamaah apa
pun, asalkan masih dalam tubuh umat Islam) ketika ia menjumpai
kekurangan di dalamnya, sebenarnya telah memelihara sikap khianat dalam
dirinya. Yang seperti ini takkan pernah puas, karena jamaah impiannya
(yaitu jamaah yang sempurna tanpa cela) takkan pernah eksis. Lagipula,
sikap mental meninggalkan kelompok yang butuh bimbingan bukanlah modal
yang baik bagi seorang da'i (ingat kisah Nabi Yunus as.?). Meskipun
ilmu agamanya selangit, namun jika masih terus-terusan menjadi barisan
sakit hati, pasti bukan da'i namanya, dan pasti bukan dakwah kerjanya.


Mau kecewa sampai kapan? Mereka yang gampang memisahkan diri dari
jamaah biasanya hanya jadi penggembira dan pengamat, bukan pekerja yang
sesungguhnya. Paling banter hanya akan jadi Khawarij umat ini, dan
bukannya Bilal ra. yang memompa semangat di Perang Badar, atau pasukan
pemanah yang tidak ikut silau matanya dengan harta rampasan di Perang
Uhud. Lucu juga membayangkan apa jadinya jika pasukan pemanah pada
Perang Uhud itu terbagi dua : kelompok yang pertama lari menyongsong
harta rampasan, kelompok yang kedua diam di posnya masing-masing
kemudian kecewa dengan jamaah dan pergi meninggalkan medan perang. Di
medan perang manapun, mereka yang pergi meninggalkan teman-temannya
ketika tenaganya justru sangat dibutuhkan tidak akan pernah dicatat
dalam sejarah.


Seorang pembawa acara di sebuah stasiun televisi swasta nampak
kebingungan ketika ust. Hidayat Nur Wahid menceritakan sekelumit sejarah
di balik berdirinya PK. Banyak orang tak menyangka bahwa dulunya beliau
termasuk kelompok yang tidak setuju didirikannya parpol. Namun beliau
tunduk pada syura', memahami resiko dari pilihan yang diambil, dan
konsisten bersama jamaah ini, menghadapi senang dan susahnya. Siapakah
yang namanya lebih besar, ust. Hidayat ataukah barisan sakit hati yang
hanya bersama kita di saat senang?


oleh: Akmal Sjafril
(Mahasiswa Program Pasca Sarjana, Magister Pendidikan dan Pemikiran
Islam, Universitas Ibnu Khaldun Bogor)


jalanpanjang.web.id
Taujih kedua Anis Matta dalam acara Kemah Peduli di Cibubur) disarikan dari buku : INTEGRASI POLITIK DAN DAKWAH

Ikhwah sekalian,

Kemarin saya telah menyampaikan tiga cita-cita kita. Pertama : Cita-cita Politik, yaitu bagaimana kita bisa menembus batas masyumi 20%.
Kedua : Cita-cita dakwah, yaitu menembus batas 50+1% dari total suara partai-partai islam dengan kontribusi PKS yang akan kita berikan minimum 30%.
Ketiga : Cita-cita peradaban, yaitu menjadikan Indonesia sebagai kiblat politik dunia islam, Insya Allah..

Pada saat itu, kita akan mengatakan apa yang dikatakan oleh Nabi Sulaiman kepada Balqis, “innahumin Sulaiman wa innahu bismilahirrahmanirr ahiim, alla ta’lu alayya wa’tuni muslimin.” Kita juga akan mengatakan apa yang dikatakan Rasulullah SAW kepada raja-raja yang ada di zamannya, seperti surat beliau kepada Heraklius, “Aslim taslam walakal ajru marratain.” Masuk Islamlah dan kamu akan selarmat dan kamu akan dapat dua kali lipat pahala. Kita bermimpi pada suatu waktu kita akan menulis surat-surat semacam itu, Insya Allah. Sehingga kita tidak hanya membaca dan mengulang-ulanginya lagi. Kita berada pada periode Mekkah tetapi tidak pernah berada di ujung periode Madinah. Pada suatu waktunya kita hanya selalu berdoa,”Rabbisysyra h lii shadri wayassir li amri wahlul uqdatan min lisaani yafqahu qaulii.” Itulah doa nabi Musa ketika beliau berhadapan dengan Fir’aun. Doa-doa ini yang biasanya kita ucapkan waktu kita berhadapan dengan raja-raja tiran hari ini.
Kita juga bermimpi bahwa pada suatu waktu, kita akan berdoa seperti doa nabi Sulaiman,”Rabbi habli mulkan laa yan baghli li ahadin min ba’di.” Ya Allah berikan aku kerajaan yang tidak akan pernah kau berikan kepada siapapun yang datang sesudah kami. Mudah-mudahan kita akan mengucapkan hal itu setelah PKS mendapatkan suara 35% dalam pemilu yang akan datang. Insya Allah.


Ikhwah sekalian.

Kita ingin menghadirkan sejarah itu pada hari kita, pada zaman kita, pada generasi kita. Dan, Salah satu hal yang patut kita syukuri-dan saya selalu mengulang-ulang hal ini-bahwa Allah SWT mentakdirkan datangnya zaman reformasi ini ketika kita semuanya masih muda belia, dan ketika kita masih punya banyak waktu untuk belajar dan mempercepat pertumbuhan kita. Kalau kita mempunyai
cita-cita besar setelah ini, maka ada dua keyword yang kemudian harus kita hafal. Setelah cita cita politik, cita cita dakwah dan cita cita peradaban ini, ada dua kata lagi yang harus kita hafal, dua kata ini yaitu : Pertama adalah Asset, Kedua adalah kapitalisasi. Kita harus membangun asset-asset dakwah kita ini, agar kita mempunyai laverage untuk berkuasa. Agar kita layak empunyai kapasitas untuk memimpin negeri ini. Dan asset yang harus kita miliki itu minimal ada tiga. Pertama adalah ide, yang kedua adalah orang, yang ketiga adalah uang. Inilah tiga asset dakwah yang harus kita miliki.

1. Ide
Ikhwah sekalian, partai ini adalah partai dakwah, partai intelektual yang datang dengan sebuah kerangka sistem, yang datang dengan sebuah konsep, untuk mengelola dan merekonstruksi kembali kehidupan kita di Indonesia . Jadi kalau kita tidak punya ide-ide besar untuk mengelola negeri ini, kita tidak akan pernah mempunyai laverage untuk membangun negeri ini. Dulu kenapa Soekarno berhasil mengalahkan Masyumi karena kalau kita membaca debat-debat politik dan debat-debat ideologi pada waktu itu, harus kita katakan dengan jujur bahwa Soekarno lebih mampu mengelaborasi ide-idenya ketimbang tokoh-tokoh muslim pada waktu itu. Ketika Soekarno menulis misalnya tentang Marhaen, dia menjelaskan gagasan tentang sosialisme dengan cara yang sangat sederhana dan dia mengisi satu kekosongan ideologi pada waktu itu. Sekarang di zaman reformasi ini, kita juga menyaksikan bahwa negeri kita sedang mengalami kevakuman ideologi.
Siapa saja kekuatan politik yang mampu mengisi kekosongan tersebut ini maka dia akan merebut masa depan di Indonesia. Kita beruntung ikhwah sekalian, kita mempunyai suatu landasan pemikiran, suatu landasan manhaj ketika kita masuk ke dunia politik. Inilah yang dapat menjelaskan, bahwa partai-partai islam yang lain tidak mamp bertahan lebih lama di panggung politik negeri ini jika mereka tidak membawa sesuatu yang membuat mereka berbeda dari yang lain. Kita berbeda karena membawa kekhasan ideologi, kekhasan konsep dan itu yang membuat kita berbeda. Dan, Insya Allah, bisa bertahan lebih lama dibanding yang lain.

Ikhwah sekalian,
Negeri sebesar Indonesia ini, bukan hanya membutuhkan orang besar, tapi juga membutuhkan otak besar untuk mengaturnya. Kalau kita datang tidak dengan otak besar seperti itu, niscaya kita tidak akan bisa mengatur negeri ini. Saya percaya ketika Allah SWT menakdirkan kita semua lahir di negeri ini, lahir diatas tanah ini,lahir di zaman ini, dan besar di zaman reformasi ini, itu artinya Allah SWT mentakdirkan kita untuk mengurus negeri ini. Itu berarti bahwa Insya Allah di Partai ini ada begitu banyak otak besar yang bisa mengatur negeri ini di masa yang akan datang.

2. Orang
Setiap ide besar juga membutuhkan orang besar. Dan kategori orang besar yang kita perlukan
setidaknya ada empat :

1. Orang yang akan mengelola dan mengoperasikan harakah.
Kita adalah orang tersebut. Oleh karena itu dalam fiqh dakwah, dalam Siyasatud Dakwah kita belajar tentang apa yang disebut dengan Qaidah Harokiyah. Qaidah Harakiyah yaitu basis pergerakan. Orang orang yang akan menjadi tulang punggung pergerakan. Tulang punggung pergerakan itulah yang kita sebut kader inti. Itu tulang punggungnya, tetapi di sekitar kader inti ada kader pendukung. Apabila kita ingin mengatur 220 juta penduduk Indonesia ,berapa kira kira tulang punggung pergerakan yang kita perlukan untuk itu? Ini musti ada rasio.
Jadi ketika kita menetapkan 2 juta orang kader pada tahun 2009 nanti, 2 juta orang ini hanya mendekati 1% dari total jumlah penduduk di Indonesia. Karena kita tidak akan pernah bisa mengendalikan negeri sebesar ini kecuali kalau kita punya sistem pengendalian yang kuat, yaitu kader-kader kita. Sehingga kita bisa mengatakan pada suatu waktu, apabila jumlah rasio kader kita setidak-tidaknya ini setara dengan nishab zakat 2,5% kita mempunyai kader sekitar 5 juta orang, maka tidak boleh ada satu jengkal di negeri ini, yang disitu tidak ada kader inti, Insya Allah. Karena itu dalam strategi pengembangan harakah kita ke depan, kita sudah menetapkan bahwa Insya Allah di tahun yang akan datang, target rasio maksimum kita adalah, pada setiap desa di seluruh Indonesia , minimumnya ada satu unit pembinaan kader inti. Ini target kita dalam kaitannya dengan rekrutmen orang pada kategori operator pergerakan (Qaidah Harakiyah).
2. Orang-orang yang akan kita siapkan menjadi pemimpin politik.
Dalam amanat Munas yang lalu, kita tetapkan untuk menokohkan sekitar 100 orang pimpinan pusat kita sebagai tokoh nasional. Sebab kader ini adalah operator, tetapi kalau kita tidak punya icon di tingkat pusat, maka kita juga tidak bisa memimpin negeri ini. Jadi kita memerlukan orang-orang yang kita siapkan untuk menjadi pemimpin politik. Dalam basis pergerakan kita, dalam manhaj siyasatud dakwah, kita juga menemukan bahwa Qaidah siyasiah adalah elemen tertinggi dalam hirarki kepemimpinan kita di dalam jamaah dakwah ini. Jadi kita perlu juga menyiapkan itu walaupun sumberdaya kepemimpinan politik ini, berasal dari basis pergerakan yaitu Qaidah Harakiyah, dari para operator harakah yang kita bina, seperti kita semuanya.
3. Orang-orang yang kita rekrut untuk mengoperasikan negara
Dr.Yusuf Qardhawi mengatakan,” janganlah harakah ini bermimpi, bahwa pada suatu waktu, kita akan memimpin negeri ini seorang diri tanpa orang lain. Kita musti berbagi dengan orang lain, setidak-tidaknya cara berbaginya adalah sebagaimana singa membagi rusa yang baru saya ditangkapnya. Antum pernah melihat planet animals? Begitu seekor singa menerkam rusanya, dia mengambil dulu bagiannya yang terbanyak, habis itu dia panggil teman-temannya. Oleh karena itu angka 35% yang disebutkan pak Ripto tadi adalah jatah singa. Orang-orang Arab menyebutnya hisshatul asad. Itu jatah singa, sisanya kita berbagi. Dan ketika kita berbagi, kita berbagi bukan karena kita lemah,tetapi karena itu adalah kemurahan hati kita.
Oleh karena itu ikhwah sekalian, kita tidak mungkin bisa membayangkan bahwa misalnya ketika Presiden yang muncul dari Partai Keadilan Sejahtera, Presiden ini akan mengangkat 35 orang menteri dari PKS. Kemudian dibawah setiap departemen itu ada sekitar 50 eselon satu dan dua, yang jumlahnya mungkin total seluruh departemen sekitar 1500-an lebih. Setelah itu juga kita mengangkat sekitar 10 direksi dan komisaris pada 158 BUMN. Ini tidak mungkin begitu..Jadi kita musti merekrut orang-orang di luar, orang-orang yang sudah matang diluar, kemudian kita rekrut ke dalam menjadi bagian dari supporting system dakwah kita. Oleh karena itu di dalam amanat Munas juga, kita melihat program ini ada dan program ini disebut rekrutmen 1000 profesional kelas atas. Jadi ikhwah sekalian, inilah asset kedua yaitu asset orang..
4. Orang, dalam kategori sya’biah yaitu para followers dan para pengikut.
tiga kategori pertama tadi adalah kategori yang kita maksudkan sebagai trendsetter, mereka inilah yang akan memimpin harakah dan juga sekaligus negara di masa yang akan datang. Kalau jatah DPW DKI adalah merekrut sekitar 162.000 kader sampai pada tahun 2009 nanti, ini adalah suatu proses yang wajar-wajar saja karena kita mempunyai cita-cita yang besar sebelumnya.

3.Uang
Uang yang kita maksud disini adalah sarana. Karena Allah SWT mengatakan,” Janganlah kalian memberikan harta-harta kalian kepada orang bodoh, yang harta itu adalah harta yang telah dijadikan Allah bagi kamu sebagai qiyaman, tulang punggung yang membuat punggungmu tegap.” Jadi kalau kita mempunyai ide besar,kita punya orang besar, kita mempunyai operator yang bisa membuat ide itu berjalan, maka kita juga musti mempunyai sarana yang membuat ide itu bekerja.
Gabungan dari tiga unsur inilah yang kita sebut sebagai asset-asset politik. Kita memerlukan ini untuk memimpin negeri ini di masa yang akan datang. Tetapi seandainya kita sudah mempunyai tiga asset ini. Belum tentu merupakan jaminan bahwa kita memenangkan pertarungan. Kita memerlukan suatu ketrampilan yang lain yaitu ketrampilan untuk mengkapitalisasi asset-asset yang kita miliki. Asset yang kita miliki yang tiga itu, aset ide, orang dan uang, harus kita kapitalisasi untuk menciptakan tiga hal laiinnya.
Tiga hal lainnya itu adalah :
1. Peristiwa
2. Berita
3. Cerita

Kalau kita memiliki tiga asset, maka asset ini harus kita gunakan untuk menciptakan peristiwa. Olah karena itu ikhwah sekalian, kita semuanya harus membangun ketrampilan dalam diri kita sebagai pencipta-pencipta peristiwa. Bukan lagi sekedar komentator. Kita ingin melampaui era ini. Dulu jika ada peristiwa yang muncul, kita berkomentar. Sekarang kita ingin menjadi sebaliknya. Kita yang menciptakan peristiwa dan biarkan orang lain yang bicara. Kemenangan kita pada tahun 2004 yang lalu adalah sebuah peristiwa dan orang semua bicara tentang hal itu. Ada begitu banyak skripsi, tesis master, disertasi doktor di dalam dan diluar negeri, ditulis tentan peristiwa itu. Kita menciptakan peristiwa itu. Jadi kalau kita menciptakan peristiwa , maka akan ada berita sesudah peristiwa itu. Kalau kita banyak berita, maka akan terangkai sebuah cerita tentang kita.
Sekarang apa yang kita baca tentang Khulafaur Rasyidin ? apa yang kita baca tentang seorang sahabat? Seluruhnya adalah sebuah cerita. Cerita-cerita itu ditulis setelah mereka menang, cerita itu ditulis oleh pemenang dan ditulis oleh pelakunya sendiri. Setelah mereka menang baru mereka menulis ceritanya. Sekarang kita akan menggunakan tiga asset ini semuanya, untuk menciptakan peristiwa-peristiwa yang akan menyebarkan berita-berita yang akan kita rangkai menjadi sebuah cerita di masa yang akan datang. Insya Allah.

Nah ikhwah sekalian,
Dengan demikian di kepala kita sekarang sudah ada sekitar 5 kosa kata yang harus kita hafal dengan baik.
1. Cita-cita Politik
2. Cita-cita Dakwah
3. Cita-cita Peradaban
4. Asset
5. Kapitalisasi

Sekarang kita perlu, mengetahui bagaimana prosedur kita melaksanakan semua hal ini. Langkah pertama dari hal itu adalah membangun kapasitas. Kalau kita punya kapasitas besar maka produktifitas kita juga besar. Tetapi kalau kapasitas kita kecil maka produktifitas kita juga pasti rendah. Oleh karena itu, kita perlu membangun kapasitas. Sekarang coba kita lihat, kalau kita ingin merekrut, misalnya 20% suara pada pemilu yang akan datang, maka kita membutuhkan suatu kapasitas yang besar. Itu sebabnya antum lihat 2 juta kader itu adalah kapasitas yang kita perlukan.
Apabila dengan rasio 1 kader akan merekrut 10 suara maka kita akan mendapatkan sekitar 20 juta suara di masa yang akan datang, pada tahun 2009 nanti. Itu kapasitas. Jadi 2 juta itu adalah kapasitas. Kalau kita mempunyai 33 DPW, 441 DPD misalnya , kemudian sekitar leibh 6000 DPC, dan lebih 60..000 DPRa misalnya, itu adalah kapasitas yang bisa kita gunakan untuk merekrut suara sebesar-besarnya. Jadi sekarang kita perlu membangun kapasitas kita. Kapasitas ini meliputi kapasitas individu, maupun juga kapasitas struktur. Kalau kita sudah mempunyai kapasitas maka di lapisan luar dari kapasitas ini namanya adalah kinerja. Kita tinggal menunjukkan kinerja kita di lapisan keduanya. Kalau kita punya kinerja yang bagus maka muncul lapisan ketiga, lapisan ketiga itu yang kita sebut citra. Jadi ikhwah sekalian , inilah tiga urutannya :
1. Kapasitas
2. Kinerja, dan
3. Citra

Citra itu bukan sesuatu yang kosong. Kita belajar sangat banyak misalnya dari partai lain yang membangun citra sebagai wong cilik. Tetapi karena citr ini mungkin tidak dibangun dari kapasitas yang sebenarnya, maka citra ini hanya akan bertahan beberapa tahun lamanya setelah itu keropos.
Sekarang, kita terlebih dulu membuktikan bahwa kita benar-benar peduli kepada masyarakat jauh sebelum kita menumbuhkan jargon tentang bersih dan peduli. Terlebih dahulu armada charity dan sosial kita sudah bekerja lama ditengah masyarakat. Jadi ketika kita mengatakan PKS itu bersih dan peduli, maka yang kita katakan itu adalah cerita tentang masa lalu kita. Kita hanya menyimpulkan dalam sebuah kalimat-kalimat pendek. Jadi citra ini adalah sesuatu yang kita
bangun sebelumnya dari kapasitas yang kita miliki dan dari total kinerja yang kita bangun. Maka muncullah citra itu.

Ikhwah sekalian,
Dengan demikian kita mempunyai delapan kosa kata yang harus kita hafal dengan baik.
1. Cita-cita Politik
2. Cita-cita Dakwah
3. Cita-cita Peradaban
4. Asset
5. Kapitalisasi
6. Kapasitas
7. Kinerja
8. Citra

Kalau kita sudah memiliki semuanya ini, hanya ada satu hal yang harus kita lakukan sesudah itu, yaitu berdoa. Kenapa ikhwah sekalian? Karena kita tidak tahu apa takdir kita yang ada di lauhul mahfudz di masa yang akan datang. Catatan hasil komputer 2009 nanti sudah ada di lauhul mahfudz. Kita tidak akan pernah mendapatkan bocoran itu, tidak pernah. Jadi kalau ternyata kalah, itu karena memang tidak ada catatannya di lauhul mahfudz. Tidak ada human error disitu lagi, Insya Allah. Semuanya sudah berjalan sesuai rencananya, tidak perlu menyesal, karena kita telah memenuhi seluruh standar manusiawi yang harus kita penuhi. Setelah itu kita berdoa, kita hanya perlu menyadari selanjutnya implikasi dari semua itu terhadap kehidupan kita, individu per individu. Implikasinya adalah bahwasanya waktu tidur kita berkurang, waktu kerja kita makin banyak, satuan-satuan waktu kita makin padat. Karena setiap satuan waktu kita sudah dipenuhi dengan satuan kerja. Tidak satu unit waktu kehidupan kita yang kosong. Itu sebabnya Imam Hasan Al-Banna menyadari masalah ini dengan baik, maka beliau mengatakan alwajibatu aktsaru minal auqat (tugas-tugas kita lebih banyak dari waktu yang ada). Begitu total pekerjaan kita, kita distribusi ke dalam satuan waktu, kita akan menemukan satu fakta bahwa ternyata satuan kerja itu, unit-unit kerja itu, ternyata jauh lebih banyak dari unit-unit waktu yang kita miliki, perindividu. Bahkan setelah total wkatu individu kita digabung menjadi waktu kolektif, maka total waktu kita secara kolektif pun terasa belum cukup untuk memenuhi total daftar pekerjaan yang harus kita lakukan.
Itu sebabnya dulu ada pepatah arab yang mengatakan, idzaa kaanatin nufuusu kibaaran, ta’ibat fi muraadihal ajsaamu. Kalau orang yang mempunyai cita-cita yang besar, maka badannya akan lelah mengikuti kehendaknya. itulah ikhwah sekalian yang kita rasakan. Tetapi sekali lagi kita semua bersyukur, karena kita ditakdirkan oleh Allah SWT melakukan ini semuanya pada saat kita semua masih muda. Mudah-mudahan wakaf hidup pada saat kita muda ini, akan membuat kita semuanya tercatat sebagai hamba-hamba Allah SWT (dari tujuh golongan) yang akan terlindungi dan ternaungi pada hari kiamat sebagai wa syabun nasya’a ibadatillah (golongan anak muda yang tumbuh dalam pengabdian dan ibadah kepada Allah).

Ikhwah sekalian,
Saudara-saudara kita di belahan bumi lain sangat mengharapkan lompatan-lompatan besar di Indonesia ini, karena mereka ingin belajar, mereka ingin belajar dari kita. Mereka ingin belajar tentang bagaimana menciptakan lompatan-lompatan itu. Suatu waktu mereka bertanya pada saya,”Kenapa antum tidak menulis pengalaman antum semua di PKS ini?” Saya bilang,”Tunggu, karena kemenangan kita ini belum sempurna. Insya Allah setelah kemenangan kita ini sempurna, sesuai denganb target yang kita harapkan, sampai pada suatu tingkat aman, kemenangan yang cukup stabil pada waktu-waktu yang cukup lama, saat itulah mungkin waktu yang tepat untuk membukukan pengalaman kita. “Jadi pasti orang-orang ingin belajar. Saudara-saudara kita di negara-negara Muslim lain ingin belajar, tentang bagaimana kemenangan-kemenang an itu diciptakan.

Ikhwah sekalian,
Kalau antum ingin mengetahui rahasia mengapa dulu Rasulullah SAW bersabda, ” Seandainya kalian semua menginfakkan seluruh harta kalian atau bahkan kalian menginfakkan gunung-gunung emas, maka kalian tdk akan bisa mendapatkan kesamaan pahala dengan pahala-pahala yang telah dicapai oleh sahabat-sahabat beliau. ” Antum tahu apa rahasia dibalik sabda ini? Karena ada satu sumber pahala yang diperoleh seluruh sahabat ini, yaitu pahala karena mereka menjadi guru, menjadi guru bagi seluruh generasi yang datang sesudahnya.
Setiap kita adalah murid mereka. Dan semua yang kita pelajari, lalu kita lakukan dapat mengalirkan pahala kepada mereka. Oleh karena itu, sumber pahala mereka senantiasa ada. Bukan hanya ketika mereka masih hidup, bahkan setelah mereka mati jumlah pahala mereka jauh lebih banyak dari yang mereka peroleh, dibanding ketika mereka masih hidup.
Oleh karena itu, ketika Umar bin Khattab melarang Khalid bin Walid untuk ikut berjihad, alasan Umar bin Khattab adalah, ” Wahai Khalid seluruh pahala yang kamu lakukan selama jihad ini sudah cukup untuk mengantarkan kamu ke surga.” Jadi tidak perlu ada jihad lagi sesudahnya. Sudah terlalu banyak pahala.
Ikhwah sekalian,
Dibalik seluruh amal yang kita harapkan, dalam proses menciptakan peristiwa, menciptakan pahala, menciptakan kemenangan-kemenang an, ada pahala lain yang ingin kita dapatkan, yaitu pahala menjadi teladan bagi orang-orang yang lain, bagi saudara-saudara kita di tempat lain. Pahala keteladanan ini merupakan pahala amal jariah bagi kita semuanya. Kita tidak pernah tahu berapa banyak pahala yang akan mengalir dari sumber ini setelah kita meninggal nanti, Insya Allah.
Mudah-mudahan Allah SWT mentakdirkan kita semuanya menjadi guru-guru yang baik bagi saudara-saudaranya di belahan bumi lain, di masa yang akan datang. Insya Allah.

foto : ferryardian.net
Alhamdulillah, pemilihan umum sudah terlaksana, kelelahan, debu dan peluh yang menemani ketika mengenalkan partai dakwah ini ditengah masyarakat.
Ditengah masa penghitungan sejenak saya kembali membuka buku yang dulu menginspirasi saya untuk bergabung dalam jama'ah dakwah ini, buku "bukan dinegeri dongeng".
Didalam buku ini sangat banyak ibroh yang bisa didapatkan, jika selama ini saya hanya melihat orang-orang yang pandai beretorika, di dalam buku ini banyak kisah yang membuat saya menangis haru, kadang berdecak kagum. tapi sekali lagi buku ini hanya mengisahkan sedikit dari ribuan kader partai keadilan sejahtera, semoga Alloh terus menjaga keistiqomahan kami di jalan dakwah.
LOWONGAN : Manajer Program "Indonesia Bebas Buta Huruf Quran 2012"
Hampir dua bulan ini Yayasan Rumah Ilmu Indonesia sudah membuka Kelas Beasiswa Calon Pengajar Tahsin- Tahfidz. Kelas ini adalah ujicoba dari sebuah rencana program jangka panjang yang kami sebut sebagai Program "Indonesia Bebas Buta Huruf Quran 2012" : Program ini meliputi :
* Penyediaan 1000 Tenaga Pengajar Quran hingga 2012
*Pelaksanaan Kelas Tahsin regular hingga 100.000 siswa hingga 2012
* Penyebaran Tenaga Didik Quran ke Berbagai Daerah
* Pelaksanaan Donasi 100.000 Mushaf Quran

Untuk itu kami mencari seorang ikhwan, dengan energi luar biasa guna membantu menggerakkan program ini secara berkesinambungan.
Syarat :
* Laki-laki
* Maksimal Usia 35 tahun
* Mobile
* Minimal D2
* Tidak sedang mengikuti perkuliahan
* Mampu bekerja Senin - Sabtu
* Bersedia bekerja di bawah tekanan
* Bersedia menjalani masa percobaan 3 bulan
Lamaran ditujukan ke : Yayasan Rumah Ilmu Indonesia Gg. Abah Iri no. 278 B C Dago Bandung 40135 Paling Lambat tanggal 20 April (stempel Pos)

Massa PKS Putihkan Wangon Banyumas


Menjelang berakhirnya masa kampanye pemilu legeslatif 2009 yang tinggal 1 hari lagi, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terus berusaha untuk memberikan pendidikan dan pencerdasan politik kepada masyarakat. Diantaranya melalui sosialisasi ke pertemuan-pertemuan warga dan kampanye terbuka yang dihadiri sekitar 10 ribu masa PKS. Antusiasme masyarakat pun sangat terlihat saat Caleg-caleg dan kader PKS datang kepada masyarakat untuk menjelaskan cara mencontreng dalam pemilu nanti.
Dalam setiap sosialisasi tentang pencontrengan PKS, masyarakat sangat senang mengingat pencontrengan PKS paling mudah yaitu, Pojok Kanan ataS, tanpa membuka seluruh kartu suara. Untuk itu bagi masyarakat yang ingin memilih PKS cukup membuka lipatan kertas yang pertama kemudian contreng PKS di pojok kanan atas.
Hingar bingar pesta demokrasi ditambah banyaknya partai politik dan caleg disisi lain juga membingungkan masyarakat. Banyaknya caleg peserta pemilu tidak serta merta dibarengi dengan kualitas dan kompetensi sang caleg tersebut. Masyarakat harus cerdas dan jeli dalam memilih, jangan sampai memilih caleg yang justru antirakyat, tidak jelas visi misinya, atau memilih karena diberi uang.
Oleh karena itu, dari awal PKS telah menyeleksi caleg dengan ketat untuk menghadirkan caleg-caleg yang memiliki kualitas dan kompetensi sebagai anggota dewan yang peduli rakyat. Banyaknya kasus anggota DPR mulai dari KORUPSI hingga perbuatan tidak terpuji seperti SKANDAL telah mengurangi kepercayaan masyarakat pada anggota dewan terhormat tersebut. Namun demikian, Alhamdulillah tak satupun anggota DPR dari PKS yang terlibat dengan kasus korupsi maupun skandal lainnya. Bahkan anggota dewan PKS telah berhasil mengembalikan uang gratifikasi kepada Negara sebesar Rp. 1,9 Milyar.
Yang jelas, dibutuhkan kerja keras dan kesungguhan agar dapat mereformasi DPR dan mengubah bangsa Indonesia yang berkeadilan dan sejahtera. Kesungguhan yang tak goyah oleh iming-iming uang, ataupun bujuk rayuan yang menyesatkan. Semua kriteria itu, insya Allah ada di PKS, yang sudah terbukti dan teruji selama 10 tahun sebagai partai Dakwah yang Bersih, Peduli dan Profesional.
Negeri ini masih sakit, masih terpuruk dan terbelenggu oleh jutaan permasalahan yang tak terselesaikan. PKS punya keyakinan sangat kuat bahwa bangsa besar ini mampu bangkit menjadi bangsa maju dan sejajar dengan bangsa lain. Untuk itu PILIH CALEG PKS UNTUK DPR BERSIH.
BANGKITLAH NEGERIKU HARAPAN ITU MASIH ADA!


Satu hal yang sangat berguna bagi kita adalah pemahaman yang baik tentang undang-undang pemilu kita. Kalau kita baca Pasal 200 dan seterusnya dalam undang-undang tersebut, maka sebenarnya tidak ada ruang bagi Gol-Put untuk menyebut diri sebagai bentuk perlawanan.

Dalam pasal-pasal tersebut diterangkan bahwa seberapa persen pun suara yang masuk maka jumlah kursi di DPR akan tetap terisi penuh. Hal ini dilakukan dengan cara membagi jumlah kursi yang tersisa pada partai-partai yang lolos electoral threshold, menurut prosentase perolehan suara mereka.

Dengan kata lain, walaupun hanya 10% dari pemilih potensial yang memberikan suara dalam pemilu, kursi DPR tetap saja akan terisi penuh dan tidak akan kosong. Kalau yang menang dari 10% tersebut adalah orang-orang yang korup, maka merekalah yang bakal memegang tongkat komando kebijakan negara ini. Kalau yang menang dari 10% tersebut adalah orang-orang yang anti terhadap Islam, maka sudah tentu semua kebijakan akan menjadi musibah bagi umat Islam negeri ini.

Begitu juga dalam pemilihan Presiden, yang berhak mencalonkan adalah mereka yang memiliki 20% perolehan suara pemilu. Jadi yang dapat 20% suara dari 10% orang yang ikut pemilu tetap berhak mengajukan capresnya. Dan capres yang memenangkan 51% suara dari 10% orang yang ikut pemilu tetap berhak menjadi Presiden RI walaupun 90% lainnya Golput.

Inilah romantika demokrasi, preview nya adalah Mesir, Hosni Mubarak memenangkan pemilu yang hanya diikuti tidak lebih dari 30% pemilih potensial karena calon-calon legislatif dari oposisi seperti kelompok Ikhwanul Muslimin habis ditangkapi dan dipenjarakan, selain itu para pendukung kelompok ini juga dipersulit bahkan dilarang ikut mencoblos di banyak TPS negeri itu. Al-hasil Hosni Mubarak tetap jadi presiden seluruh Mesir walau cuma beberapa persen dimenangkan.

Itulah demokrasi dan kita dituntut harus tetap cerdik menyikapi sistem demokrasi ini, kalau dulu Ust. Anis Matta membuat buku Menikmati Demokrasi mungkin sekarang sudah saatnya kita membuat Modul Bagaimana Menjadi Matador Demokrasi yang Sukses.

Kembali ke pokok permasalahan, pilihan Gol-Put sebagai perlawanan saat ini menunjukkan masih rendahnya PQ (Political Quotient) umat ini. Dan dalam Islam dijelaskan bahwa setiap sikap (pilihan) akan dimintai pertanggungjawaban termasuk memilih untuk merelakan kepemimpinan umat ke tangan para durjana.
Jadi alih-alih melakukan perlawanan, mereka yang Gol-Put malah harus mengikuti apapun kebijakan dari orang-orang yang mereka biarkan untuk menang dalam pemilu walaupun yang mereka biarkan menang itu adalah orang setingkat Fir’aun, raja Namruz atau pemimpin keji dan anti Islam lainnya sekalipun.

Mungkin kita bisa tertawa dan bisa menangis saat membaca opini para pendukung Gol-Put dari sebuah blog. Si penulis mengatakan bahwa semakin banyak orang yang Gol-Put maka Indonesia akan segera hancur, lalu saat itulah Khilafah Islamiyah akan didirikan. Dari situ saja kita bisa menebak-nebak seberapa baik dan canggih PQ dari saudara-saudara kita.

Apakah Gol-Put akan menghasilkan perbaikan? Dalam perspektif terbatas, bisa saja itu terjadi tapi pada kondisi Indonesia sekarang ini, sudah seharusnya berfikir berkali-kali. Karena boleh jadi Gol-Put malah menguntungkan partai-partai curang. Mengapa demikian? Karena dengan Gol-Put parpol culas bisa:

Mengurangi biaya pembelian suara. Kelompok yang Gol-Put bisa jadi menguntungkan parpol yang terbiasa tebar uang dan hadiah. Daerah-daerah yang dipetakan kurang prospektif dari segi potensi atau tidak lebih menguntungkan dalam jangka panjang, tidak akan terlalu serius diurus karena keterbatasan dana. Bisa jadi ada, namun tidak terlalu signifikan. Biarlah daerah yang kurang potensial tersebut dininabobokan dengan pasukan Gol-Put saja, agar tidak banyak memberi pengaruh pada perolehan suara.

Fokus pada daerah-daerah strategis dan potensial. Karena alasan budget juga, parpol cenderung memfokuskan pada daerah-daerah kaya potensi. Masyarakat daerah tersebut yang masih menengah ke bawah akan menjadi sasaran money politics. Sedangkan yang menengah ke atas didekati dengan rekruting menjadi caleg atau iming-iming proyek di masa kemenangannya. Intinya jangan sampai ada Gol-Put dan pilihan partai lain di daerah tersebut karena fokus anggaran partai sudah ditetapkan. Oleh karena itu secara umum, parpol yang memiliki budget raksasa adalah mereka yang paling berpotensi memenangkan perang gaya ini.

Memudahkan memupuk kekayaan dalam jangka panjang, minimal 5 tahun ke depan. Hasilnya tentu saja kekayaan yang berlimpah dari kesempatan bereksplorasi dalam lima tahun ke depan, menyiapkan pemilu berikutnya.
Sebagian kecil bisa saja dibagi agar pemilih merasakan dan mengurangi potensi Gol-Put masa berikutnya serta memupuk loyalitas pemilih, sebagian besar yang lain adalah logistik partai dan kekayaan orang-orangnya.
Pikir-pikir lebih jauh, akan ada juga keuntungan untuk partai atau kelompok dengan agenda de islamisasi atau Islam phobia. Dengan besarnya Gol-Put terutama dari muslim Indonesia maka dapat:
  1. Mengurangi keterwakilan muslim dalam pengambilan kebijakan
  2. Mengurangi peran-peran muslim dalam kehidupan berbangsa secara umum
  3. Mempreteli satu demi satu regulasi bernafaskan syariah
  4. Memudahkan jalan untuk mengembalikan Pancasila sebagai asas tunggal
  5. Memudahkan jalan melemparkan Islam dari ranah publik
Hal lain yang perlu diingat adalah TNI dan Polri sudah barang tentu berada pada pihak yang memenangkan pemilu (itu kata undang-undang). Mereka siap mengamankan apapun kebijakan yang berkuasa. Dan dukungan internasional juga akan mengalir bila lima agenda di atas mulai ter format dan bergerak. Toh yang memilih itu 100% atau cuma 50%, hasilnya akan tetap legitimate untuk menjadi penguasa.

Menakar Resiko Muslim Indonesia Bila Gol-Put Sukses
Dari 222 juta rakyat (menurut sensus 2006) = 170 juta pemilih. Dengan hitung-hitungan bodoh saja, bila persentase muslim Indonesia adalah 86% maka jumlah pemilih muslim adalah 170 juta x 86% = 146 jutaan, sedangkan non muslim adalah 170 juta x 14% = 24 jutaan. Dengan pendekatan pessimistic non scientific, anggap saja 40% dari muslim itu Gol-Put. Dengan data dari persentase Gol-Put Pil-kada lalu, terlihat daerah-daerah yang mayoritas penduduknya muslim ternyata memiliki angka Gol-Put yang tinggi, rata-rata 40%, sedangkan daerah yang mayoritas non muslim seperti Bali, NTT, Maluku, dan Papua malah memiliki angka Gol-Put yang rendah dengan rata-rata 20%.

Maka prediksi bila Gol-Put sukses dan berdasarkan hasil rata-rata maksimal total suara yang didapat partai Islam dalam beberapa pemilu sebelumnya, sekitar 20%, yang ikut memilih di pemilu mendatang 60% karena selebihnya Gol-Put.

Didapat lah perhitungan kotor sebagai berikut: Suara partai Islam = 20% x (60%x146 juta) = 17.52 juta atau hanya 10%. Suara muslim di partai sekuler = 80% x (60%x146 juta) = 70.08 juta atau hanya 40%. Sisa suara adalah mereka yang Gol-Put dan non muslim. Nah, kalau bisa tebak, dalam pemilu legislatif angka Gol-Put non muslim bakal sangat rendah atau bahkan mendekati nol persen. Hal ini terkait dengan isu keterwakilan mereka dan juga agenda-agenda lainnya. Dan kemungkinan besar bahkan bisa jadi pasti mereka tidak akan menjatuhkan hak pilih ke caleg muslim, ini sebuah misteri idealisme. Jadi anggap saja dari 24 juta pemilih itu semua memberikan suaranya pada wakil mereka. Jadi prosentasenya adalah sekitar 14%, melampaui suara gabungan partai Islam.

Hasilnya memang sungguh mengerikan, partai Islam 10%, partai sekuler (yang di dalamnya sudah pasti ada non) dan partai non Islam 40%+14%, sisanya sekitar 36% adalah suara umat Islam yang tak terpakai. Di dalam 36% itu; ada mereka yang tak kebagian money politik, ada mereka yang katanya protes dan menunjukkan bentuk perlawanan, ada yang katanya pemilu itu haram dan oleh karena itu tak ikut pemilu demi syariat Islam.

Untuk yang terakhir ini, tak bisa banyak berharap akan hadirnya Syariat, karena kondisinya saat itu sudah semakin membingungkan. Walaupun dengan dalih hasil sebuah survey yang mengatakan 72% orang Indonesia ingin syariah Islam, tetap saja faktanya akan terlihat di pemilu ini.

Bila afiliasi muslim Indonesia masih pada ideologi-ideologi sekuler dan materialistic sebagaimana sebagian dari mereka memilih partai non Islam dan sebagian lainnya memilih Gol-Put karena alasan materialistis, maka sudah barang tentu hasil survey tersebut hanya kamuflase. Bisa jadi survey dilakukan hanya untuk membesar-besarkan isu hingga terjadi radikalisme yang diharapkan atau bisa jadi sebagai alasan dana asing bisa masuk lebih banyak dengan tujuan de-Islamisasi. Atau bisa jadi ada error di survey tersebut. Siapa tau? Di pemilu 2009 inilah hasil-hasil survey itu akan terbongkar kebenarannya atau kebobrokannya.

Di mana kaum Gol-Put adalah tumbalnya. Bila si baik yang menang, maka mereka ikut menang dan menikmati hasil tanpa perjuangan. Lalu bila si bejat yang menang, maka mereka juga yang terlibat mengantarkannya ke tampuk kemenangan tanpa perlawanan yang katanya melawan.
Saudara-saudara seiman…

Kalau memang kita serius menginginkan akan adanya perbaikan. Mulailah mendaftar kalau belum terdaftar, urus semua kelengkapan pemilih kita. Lalu mulai cari daftar caleg yang ada.
Lihat-lihat dan kenali mereka dan tawaran serta program mereka. Cari informasi lebih dalam tentang mereka. Kalau memang otak ini sudah mumet, serahkan ke hati kita masing-masing. Bukankah Allah swt. akan selalu mengabulkan doa-doa kita.
Jangan lupa keshalihan lahiriah bisa jadi sebuah parameter. Selain itu kita lihat juga orang-orang yang menawarkannya dan atau di sekitarnya, apakah juga kesalehan itu tampak? Selama kampanye ikutan yang kita sreg dengannya, hitung-hitung wisata 5 tahunan. Yang sangat penting mulailah shalat istikharah sampai hari pemilihan tiba. Insya Allah, Allah swt. akan memberikan yang terbaik atas usaha kita itu. Lalu Pergi ke TPS, contreng saja kalau sudah yakin.

Kalau belum biarkan Allah swt. mengilhami, karena janji Allah swt. bagi mereka yang istikharah pasti terjadi. Kalau belum dapat juga, lihat saja wajah-wajah mereka, pilih yang bisa menyejukkan kita.
Terakhir, jangan lupa masukan ke kotak suara, dan ucapkan Alhamdulillah dan do’a kepada Allah, semoga yang dipilih adalah pilihan yang tepat dan dapat menghantarkan Indonesia ke gerbang yang lebih baik.
Dalam sebuah ungkapan disebutkan “Hati yang bersih akan memuluskan jalan keluar dari sebuah masalah. Allah swt. menganugerahkan hati sebagai salah satu alat selain kepala yang sering hang ini.” Allahu a’lam (sumber : dakwatuna.com)


jalanpanjang.web.id - Marokah siyasah terus berjalan, berbagai tipu daya dilancarkan musuh-musuh da'wah. Karena itu kita harus memiliki bekal-bekal terutama bekal ruhiyah dan fikriyah.

Alhamdulillah TPPN memberikan buku saku kader, buku pintar bagi kader terkait pemenangan partai dakwah kita. bagi yang belum memiliki hard copy, bisa download soft copynya disini, semoga bermanfaat. Allohu Ghayatuna...
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Sahabat

Follow @jalanpanjangweb

Artikel Terpopuler Pekan Ini

  • Perdana Mentri Turki - Recep Tayyip Erdogan
  • Antara Dua Ied (Al-Fithri dan Al-Adha) yang Penuh Barakah dan Rahmat
  • Freedom Flotilla-Jalan panjang menuju Gaza 1
  • Ust. Rahmat Abdullah
  • ISLAM, POLITIK, DAN KEPEMIMPINAN : SENYAWA TAK TERPISAHKAN
  • PKS Beri Beasiswa kepada Perakit Kiat Esemka






Designed by JalanPanjang