• Beranda
  • Subscribe to my RSS
  • Twitter
  • FB Fan Page

.

  • Home
  • Kiprah Dakwah
    • Parlemen
    • Eksekutif
    • Teladan
    • Internasional
    • Aksi Sosial
    • Struktur
  • Kabar Dakwah
    • Internasional
    • Nasional
    • Palestina
    • Internasional
    • Bayan
    • Agenda
  • Suplemen
    • Wawasan
    • Inspirasi
    • Tokoh
    • Menjawab Fitnah
    • Pilar
  • Topik Khusus
    • Serial Cinta
    • Mavi Marmara 1
    • 2011
      • Revolusi Mesir
      • Operasi Menggoyang PKS
      • Kepergian Bunda Yoyoh
      • Kemenangan AKP Turki
    • Pilkada DKI 2012
    • Category
  • Resensi
  • Info
    • Beasiswa
    • Lowongan
    • Lomba
    • Category
  • Video
  • Opini


jalanpanjang.web.id - Hasil survei yang dilakukan Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan bahwa PDI Perjuangan, Partai Golkar, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan tiga partai teratas yang banyak dipilih responden, jika pemilu dilakukan saat ini. Ketika meluncurkan hasil survei “Perilaku Pemilih Indonesia 2008″ di Gedung CSIS Jakarta, Selasa, Ketua Tim Survei dan Penelitian Lapangan CSIS, Nico Harjanto, mengatakan PDI Perjuangan masih menjadi partai yang paling populer, dengan memperoleh dukungan sebesar 20,3 persen responden, diikuti Partai Golkar dengan 18,1 persen dan PKS dengan 11,8 persen.

Partai berikutnya ditempati oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan dukungan sebesar 6,8 persen, selanjutnya Partai Demokrat sebesar 5,2 persen, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan 2,7 persen dan Partai Amanat Nasional (PAN) dengan 1,7 persen.

Dalam survei juga terungkap bahwa loyalitas pemilih PKS sangat tinggi. Sebanyak 75,4 persen pemilih yang pada Pemilu 2004 lalu memilih PKS, menyatakan akan kembali memilih PKS pada Pemilu 2009, sedangkan loyalitas pemilih Partai Golkar sebesar 61 persen, diikuti PDIP sebesar 55,1 persen.

“Dukungan terhadap PPP dan PAN akan mengalami penurunan drastis dan banyak pendukungnya yang pindah ke PKS. Begitu pula dengan Partai Demokrat yang hanya menjadi ‘fenomena sesaat’, karena loyalitas pendukungnya sangat rendah,” kata Nico, yang didampingi sejumlah pimpinan CSIS, seperti Hadi Soesastro, Rizal Sukma, dan Indra J Piliang.

Dalam survei tersebut, sebanyak 30 persen responden menyatakan belum menentukan pilihan dan sebanyak 6,1 persen lainnya lebih memilih partai-partai lain.

“Sekitar 35 persen calon pemilih yang merupakan pemilih tahun 2004, berencana menetapkan pilihan pastinya pada hari pemungutan suara Pemilu 2009,” katanya.

Ia menambahkan, survei itu juga menemukan bahwa di kalangan pemilih pemula, Partai Golkar merupakan parpol yang paling populer, diikuti PDI Perjuangan dan PKS.

Selain itu, pengaruh “serangan fajar” seperti intimidasi dan pemberian uang saat menjelang pemilu tidak mempunyai pengaruh yang signifikan.

Hanya sebesar 12,9 persen calon pemilih yang mengaku pernah menerima sejumlah uang dan sekitar 2,5 persen calon pemilih yang mengaku mengalami intimidasi.

“Dari jumlah itu, hanya 21,4 persen dan 16,9 persen menyatakan akan memberikan suaranya kepada parpol yang memberikan uang dan melakukan intimidasi. Jadi, efektivitasnya sangat rendah,” kata Nico.

Calon presiden

Sedangkan terhadap pertanyaan calon presiden yang akan dipilih jika pemilu dilakukan saat ini, hasil survei menunjukkan bahwa Megawati Soekarnoputri masih menempati urutan teratas dengan 23,2 persen.

Urutan kedua ditempati Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan 14,7 persen, diikuti Sri Sultan HB X dengan 8,8 persen, Hidayat Nur Wahid dengan 7,9 persen, Wiranto 7,6 persen, Jusuf Kalla 4,2 persen, dan Gus Dur dengan 3,6 persen.

Sebanyak enam persen responden menjatuhkan pilihannya pada calon-calon presiden lainnya dan 24 persen responden menyatakan belum tahu akan memilih siapa.

“Menurunnya popularitas SBY sejalan dengan penilaian masyarakat yang sangat rendah terhadap kinerja pemerintahan SBY dalam isu-isu kesejahteraan rakyat,” kata Nico.

Di sisi lain, hasil survei juga menunjukkan bahwa hampir semua pendukung PDIP akan memilih Megawati pada Pilpres 2009, sementara pendukung partai-partai lainnya termasuk Golkar, akan terpecah dalam menentukan calon presidennya.

Survei atau jajak pendapat tersebut dilakukan pada pertengahan Mei 2008 terhadap 3.000 responden di 13 provinsi yang memiliki total 85 persen jumlah penduduk Indonesia dan mewakili sekitar 76 persen kursi di DPR RI.

Metode survei dilakukan dengan cara wawancara dan tatap muka. Penentuan sampel dilakukan dengan kombinasi “multi-stage purposive sampling” dan “random sampling”, dengan “margin of errors” sebesar plus minus 1,79 persen.

Menurut Nico, dalam melakukan penelitian itu pihaknya juga menerapkan cara baru ketika pertanyaan menyangkut calon presiden dan wakil presiden yang akan dipilih, dengan hanya memperlihatkan foto-foto kandidat, tanpa menyodorkan daftar nama kandidat.

Sementara itu, Direktur Eksekutif CSIS, Hadi Soesastro, mengatakan, hasil survei tersebut merupakan hasil sementara dari sejumlah survei lapangan yang sedang dan akan dilakukan CSIS, untuk mengetahui perilaku pemilih di Indonesia.

Survei serupa terhadap responden yang sama, katanya, juga akan dilakukan pada Oktober 2008 dan Februari 2009. (ant)


jalanpanjang.web.id - Informasi tentang apa itu Repdem :

Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) dideklarasikan 52 aktivis garis keras berdasarkan kebersamaan dalam cita-cita membangun dan membesarkan PDI Perjuangan untuk memperjuangkan kedaulatan rakyat. Di berbagai daerah, Repdem disambut positif. Kini telah terbentuk 24 cabang se Indonesia.
Luar biasa! Mungkin kata itulah yang tepat untuk menunjukkan fenomena begitu cepatnya organisasi Relawan Perjuangan Demokrasi Indonesia (Repdem) berkembang. Bayangkan, kurang dari empat bulan sejak dideklarasikan pada 3 Februari 2004, saat ini sudah memiliki 24 cabang di Indonesia. Artinya. organisasi yang bertekad menggalang para aktivis pergerakan ke PDI Perjuangan ini berhasil membangun enam cabang di tingkat kabupaten/kota per bulan. Tentu ini bukanlah pekerjaan ringan.
Sejarah Repdem berawal menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) Putaran II lalu. Pada saat itu, menurut Koordinator Repdem Bambang Beathor Suryadi, yang terjadi adalah Megawati yang mewakili kelompok sipil berhadapan dengan Susilo Bambang Yudhoyono yang mewakili kelompok tentara. Demi memperkuat posisi sipil, maka lahirlah elemen-elemen yang mendukung Megawati. "Ada elemen yang menyebut dirinya barisan sipil bersatu, jaringan demokrasi sipil, terus jaringan-jaringan yang menyatakan sipil dan demokrasi," ujar Beathor. Ketika Megawati sudah mengatakan kekurangan suara, maka beberapa di antara aktivis berkumpul di Jatinegara. Dan di Jatinegara inilah terlontar pembicaraan untuk mendirikan Repdem yang berafiliasi ke PDI Perjuangan.


"Bergabungnya Masinton yang telah melakukan perlawanan terhadap militer, kemudian Budiman Sudjatmiko yang juga menyatakan diri mau ikut ke partai. Ini gabungan dari beberapa kelompok yang menyatakan diri bersedia masuk ke partai PDI Perjuangan," lanjut Beathor.
Patut dicatat, melalui berbagai pendekatan dan komunikasi yang intens, sebagai langkah awal terhimpunlah 52 nama yang selama ini dikenal sebagai aktivis "garis keras": Mereka siap mendeklarasikan diri sebagai Repdem. Uniknya, dalam organisasi ini tidak hanya aktivis yang dicap "kiri" seperti Budiman Sudjatmiko, Wignyo, dan lain-lain yang bergabung, tetapi aktivis dari Gerakan Pemuda Islam pun ada, seperti Ben Yono.
"Faktor yang mempersatukan adalah cita-cita dan kebersamaan. Memiliki kebersamaan dalam cita-cita membesarkan dan membangun partai," tandas Beathor. Cita-cita bersama itu kemudian dirumuskan dalam sebuah platform yang terdiri dari beberapa point. Salah satunya, ideologi ke­rakyatan berdasarkan Piagam Pancasila 1 Juni 1945 (berdaulat secara politik, mandiri dibidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebuda­yaan).
Mengapa menggunakan nama "relawan"'? "Sempat terpikir gerakan pro-demokrasi. Tapi karena gerakan pro-demokrasi banyak yang menyeberang ke pihak militer yang menindas demokrasi, maka kami alergi menggunakan nama pro-demokrasi. Kami pakailah relawan," jelas Beathor.
Masuknya aktivis Repdem ke PDI Perjuangan mendapat tanggapan positif dari berbagai cabang. Hal ini menunjukkan akar rumput PDI Perjuangan sangat gembira dengan bergabungnya aktivis-aktivis tersebut. "Saya sangat setuju. Seperti Budiman Sudjatmiko, yang kami tahu adalah pejuang demokrasi. Sudjatmiko ini orang keras. Mudah-mudahan bisa mewarnai," kata Ketua DPC Kabupaten Pandeglang Aris Turis Nadi.
Sebagai organisasi anak muda pro PDI Perjuangan, Repdem tentu memiliki target. Pertama, mendapatkan kembali suara yang hilang sebesar 16 juta suara. Kedua, merebut suara pemilih pemula sebesar 25 juta. Ketiga, meraup suara golput sebesar 20 persen dari jumlah pemilih yang terdaftar di KPU. Keempat, mengumpulkan kembali suara kader yang berserakan karena "kecewa" dengan melakukan rekonsiliasi.
Untuk mencapai target tersebut, Repdem memiliki enam agenda. Pertama, aksi protes massal maupun delegasi atas berbagai kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat. Kedua. advokasi kasus perseIisihan rakvat dengan pemerintah. Ketiga, kampanye simpati pemilih pemula dalam bentuk keljasama entertaintment seperti olahraga dan musik. Keempat, kerjasama/binamitra dengan kelompok penggerak golput. Kelima. menggalang solidaritas sosial peduli benca alam (bakti sosial). Keenam, kegiatan kajian seperti diskusi, seminar, dan training atau pendi­dikani politik.

Untuk tetap meneguhkan aktivis yang bergabung di dalamnya, Repdem membuat semacam kode etik yang disebut Prinsip Dasar Repdem. Kader-kader Repdem wajib menjunjung tinggi prinsip dasar tersebut. Prinsip dasar itu ada tujuh. Di antaranya, pertama, Piagam PDl Perjuangan, AD/ART.Kedua, menjaga semangat dan ketulusan aktivis partai agar dekat dan erat dengan rakyat. Ketiga, mengawal terlaksananya program partai di kalangan massa rakyat secara disiplin. Dan keempat, kader-kader perjuangan yang tidak tinggi hati, ramah pada rakyat, dan mencari keuntungan material dari partai dan dari rakyat".
Repdem ke depan, menurut Masinton Pasaribu sekretaris Repdem, adalah membangun cita-cita nasional, demokrasi, kerakyatan bersama-sama dengan masyarakat atau konstituen PDI Perjuangan lainnya dalam rangka penegakkan kedaulatan . "Seperti apa
yang pernah diutarakan oleh Bung Karno dulu dengan istilah Trisakti. Berdaulat di bidang politik, mandiri dibidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan," kata Masinton.
Lalu bagaimana, soal gagasan perubahan yang kini banyak disebut-sebut menjelang kongres? Masinton setuju dengan perubahan. "Partai memang perlu dibenahi. Repdem sangat mendukung perubahan. Tapi perubahan bersama Mega".
(Arsip K.Prawira: "Repdem: Perubahan bersama Megawati", BANGSA, Edisi 10 Senin 28 Maret 2005)


Pantun Tifatul untuk Nomor Urut PKS

Jjalanpanjang.web.id - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring
bersyukur atas kemudahan dan kelancaran dalam proses mengambil nomor
urut partainya. Kali ini PKS mendapat nomor urut 8 sebagai peserta
Pemilu 2009.

"Semua nomor sama saja. Kami bersyukur atas itu," ujar Tifatul usai
pengambilan nomor urut partai di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU),
Jakarta, Rabu (9/7/2008).

Tifatul juga sekaligus menunjukkan coretan tangannya berupa puisi di
secarik kertas. berikut satu bait puisi buatan Tifatul:

Cantik selendang putri melayu
Menata bunga di atas nampan
Kalau ingin Indonesia maju
Pilih saja nomor delapan

"Ini cuma iseng tadi sambil duduk," singkatnya. (Rosmiyati Dewi
Kandi/Sindo/ kem)

Perhatikan tidak, urutan no partai kita tercinta sejak dari pertama kali ikut pemilu
Pemilu 98 = no urut 24
Pemilu 2004 = No urut 16
Pemilu 2009 = no urut 8



SEBUAH pidato terlontar di depan anggota partai politik Liga Muslim pada 29
Desember 1930 di Allahabad, kini di bagian Uttar-Pradesh, India. Sang
pembicara adalah presiden baru partai yang sedang menyampaikan visi tentang
masa depan British India, nama negeri mereka ketika itu.

Pilihan diksinya ringkas, tenang, dan menyentuh. Sarannya sederhana:
terapkan teori dua bangsa (two-nation theory) untuk memecahkan problem tak
berkesudahan antara warga Hindu dan muslim yang sudah mengakar berabad-abad.
Dirikan sebuah negara bagi umat Islam, kaum minoritas di antara mayoritas
pemeluk Hindu British India.

Liga Muslim dan teori dua bangsa? Dua frase ini biasanya bersekutu menghela
imaji pembaca kepada nama Muhammad Ali Jinnah (1876-1948), sang
Quaid-e-Azzam, pemimpin besar Pakistan. Dan memang, Jinnah pernah menekankan
pentingnya ihwal yang sama pada pidato pelantikannya sebagai ketua partai
pada 22 Maret 1940—satu dekade setelah pidato bersejarah pada 1930 yang
disampaikan oleh 'Allama Muhammad Iqbal.

Kiprah Iqbal sebagai politikus memang tak terdengar sekuat perannya sebagai
seorang filsuf-cum-penyair. Padahal posisinya di ranah politik Pakistan sama
sekali bukan peran picisan. Meski sebagian besar waktunya habis untuk
menggeluti dunia hukum dan puisi, kekecewaan Iqbal terhadap dominasi
kelompok Hindu di Kongres Nasional India membuat partisipasinya di bidang
politik yang hanya "pas banderol" di awal abad ke-20 kian mengental.

Berkat dukungan para karibnya, seperti Maulana Mohammad Ali, tokoh vokal
pendukung terbentuknya Khilafah Islamiyah, atau Ali Jinnah, yang saat itu
hidup di pengasingan di London, Iqbal membulatkan tekad untuk bertarung
dalam pemilihan umum parlemen, merebut satu kursi untuk daerah pemilihan
Punjab. Ia terpilih menjadi senator pada November 1926 dalam usia 49 tahun.

Di situ, sebagai senator ia mengerahkan segenap energi dan waktunya untuk
mengegolkan proposal konstitusi usul Ali Jinnah yang bertujuan menjamin
hak-hak politik muslim, memperluas pengaruh politikus muslim di parlemen. Ia
juga bekerja sama dengan Sultan Muhammad Shah (Aga Khan III), presiden
pertama Liga Muslim, dan para pemimpin muslim lainnya untuk membenahi
faksi-faksi yang bertikai dalam partai yang berdiri pada 1906 tersebut.

Selama menjadi senator, Iqbal terus berkeliling Pakistan, memberi aneka
ceramah dengan topik hubungan Islam dan politik. Hasilnya adalah buku
berjudul Reconstruction of Religious Thought in Islam (1930). Dengan
hipotesis bahwa Islam adalah ajaran agama, politik, dan filsafat hukum,
Iqbal menggodam laku politikus muslim yang digerogoti tiga kelemahan:
moralitas melenceng, pengejar jabatan, dan tak memiliki hubungan erat dengan
masyarakat muslim sendiri.

Sepanjang periode itu, Iqbal terus berkorespondensi intensif dengan Ali
Jinnah yang masih hidup di London. Pada salah satu suratnya Iqbal menulis:
"Saya tahu Anda orang yang sangat sibuk, tapi saya harap Anda tak keberatan
jika saya kerap menulis surat, karena Andalah satu-satunya muslim di India
saat ini tempat masyarakat bisa mencari panduan keselamatan untuk melewati
badai yang sedang mendekati barat laut India (maksudnya wilayah Pakistan
sekarang) dan, bahkan, seluruh India."

Berkali-kali pula Iqbal meminta Ali Jinnah segera pulang kampung, sebuah ide
yang akhirnya dilakukan Jinnah pada 1935. Meski akur secara pribadi,
perbedaan ide mereka tentang bentuk negara ideal bisa selebar langit dan
bumi. Ketika Iqbal yakin Islam sebagai basis utama untuk menjalankan
pemerintahan, Ali Jinnah lebih percaya pada bentuk pemerintahan sekuler
karena "Islam tak ada urusannya dengan urusan bernegara". Saat Iqbal
menyerukan perlunya ditegakkan kembali kekhalifahan Islam, Ali Jinnah
berpendapat ide semacam itu hanya bisa muncul akibat "kegilaan beragama".
Dan ketika Iqbal sudah mengkampanyekan pemisahan India-Pakistan (sejak
1930), Ali Jinnah masih mengupayakan kolaborasi Hindu-muslim di parlemen.

Sejarah mencatat, satu dekade kemudian Ali Jinnah merangkul ide Iqbal, yang
saat itu sudah dua tahun meninggal. Ketika akhirnya Pakistan berdiri pada
1947, atau sembilan tahun setelah kematian sang penyair, Ali Jinnah
mengumumkan bahwa Iqbal termasuk salah seorang Bapak Bangsa dengan panggilan
penuh takzim: sang Pemandu Zaman.


jalanpanjang.web.id -Pesta Demokrasi JATENG sudah berlalu, dan sudah bisa dipastikan siapa pemenangnya. Banyak orang yang bertanya kepada PKS, bahkan salah satu televisi nasional memberikan komentar terhadap jalannya pilkada jateng ini, "Mesin politik PKS yang biasa ampuh nampaknya tidak banyak berkutikdi PILKADA JATENG ini".

Dari ketua DPW PKS JATENG sendiri mengatakan,"kemenangan PASLON Bibit-Rustri sudah bisa dipastikan mampu memimpin perolehan suara, terkait dengan hasil survei dari beberapa lembaga survey nasional".

Terlepas dari itu semua saya mempunyai beberapa pendapat pribadi terkait PILKADA JATENG (sekali lagi ini adalah gagasan pribadi, tidak mewakili kebijakan dari PKS), Memang secara Historis JATENG adalah basis merah, tapi apakah itu saja yang menjadi alasan untuk menang? kenapa sampai megawati juga sibuk turun langsung kelapangan, jika memang JATENG basis merah?

ternyata bukan hanya itu alasannya, kekuatan PDIP salah satunya adalah dari Rustri, dia mampu menyapu bersih suara di JATENG selatan dan barat, karena memang satu-satunya calon yang berasal dari daerah tersebut, kedua faktor militansi dari kadernya di dewan, (denger-denger untuk ngusung PASLONnya harus patungan sampai ratusan juta) siapa yang mau kehilangan uang begitu banyak kalau kalah (saya nda mbayangkan kalau PILKADA ada putaran kedua, bisa tekor kali yah?)
Ketiga, mesin politik PKS nampak tidak ampuh, kenapa? saya sampaikan..mungkin kita sudah kalah pada serangan awal (strategi serangan udara), media sudah melakukan(black campaign?) terhadap sukawi..yang katanya terbukti koruptor..tapi sekarang setelah PILKADA nda ada gaungnya lagi? hal ini membuat kader PKS cukup kesulitan untuk melakukan direct selling.

Keempat... sudah takdir je..
(Masukan untuk kader, simpatisan PKS, jangan mudah percaya dengan media..rekayasa sosial pertama kali bisa dilakukan disana..tetap yang harus pertama kali kita percayai adalah ikhwah)
Hikmahnya...hehe ternyata suara PKS naik dari hasil PILKADA ini, keep istiqomah bro
Sebuah analisis pinggiran

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Sahabat

Follow @jalanpanjangweb

Artikel Terpopuler Pekan Ini

  • Perdana Mentri Turki - Recep Tayyip Erdogan
  • Antara Dua Ied (Al-Fithri dan Al-Adha) yang Penuh Barakah dan Rahmat
  • Freedom Flotilla-Jalan panjang menuju Gaza 1
  • Ust. Rahmat Abdullah
  • ISLAM, POLITIK, DAN KEPEMIMPINAN : SENYAWA TAK TERPISAHKAN
  • PKS Beri Beasiswa kepada Perakit Kiat Esemka






Designed by JalanPanjang