• Beranda
  • Subscribe to my RSS
  • Twitter
  • FB Fan Page

.

  • Home
  • Kiprah Dakwah
    • Parlemen
    • Eksekutif
    • Teladan
    • Internasional
    • Aksi Sosial
    • Struktur
  • Kabar Dakwah
    • Internasional
    • Nasional
    • Palestina
    • Internasional
    • Bayan
    • Agenda
  • Suplemen
    • Wawasan
    • Inspirasi
    • Tokoh
    • Menjawab Fitnah
    • Pilar
  • Topik Khusus
    • Serial Cinta
    • Mavi Marmara 1
    • 2011
      • Revolusi Mesir
      • Operasi Menggoyang PKS
      • Kepergian Bunda Yoyoh
      • Kemenangan AKP Turki
    • Pilkada DKI 2012
    • Category
  • Resensi
  • Info
    • Beasiswa
    • Lowongan
    • Lomba
    • Category
  • Video
  • Opini
Tampilkan postingan dengan label Teladan. Tampilkan semua postingan
 
 
jalanpanjang.web.id - Najlaa Ali Mahmoud resmi menjadi ibu negara bagi rakyat Mesir. Namun, ia tak mau disebut ibu negara. Naglaa lebih memilih sebutan pelayan bangsa. Dia menyatakan tidak ada istilah “Ibu Negara”, yang ada justru Pelayan Terdepan Mesir, karena kita semua adalah warga negara yang sama; kita mempunyai hak-hak sebagaimana juga kita memiliki kewajiban-kewajiban.
 Dalam pernyataan yang disampaikan hari Senin, 25 Juni 2012, Bunda Najla’ mengungkapkan bahwa sebutan dirinya adalah “Ummu Ahmad” atau Al-Ukh Najla’ atau Hajjah”. Karena dalam Islam tidak membedakan antara satu orang dengan lainnya. Kita semua adalah satu, untuk kemajuan negeri tercinta.

Istri presiden Mesir yang baru terpilih, Mohamed Morsi itu berbeda dengan Suzanne Mubarak. Najlaa memilih hidup sederhana dan bersahaja. 

Sebagai ibu rumah tangga, Naglaa memilih memakai abaya, sehingga mencerminkan perempuan kebanyakan di negara Piramida itu.

Inilah beberapa fakta menarik tentang kehidupannya:

Tentang Ikhwanul Muslimin:

“Dr Mursi bergabung dengan Ikhwanul Muslim 31 tahun yang lalu, saat kami tinggal di Los Angeles. Anggota gerakan tersebut sangat terbuka dan menjelaskan bahwa keterlibatan dalam gerakan berisiko penjara, dan salah satu hal yang penting adalah bahwa istri setuju dengan jalan hidup tersebut sehingga rumah tangga tidak goyah.''

''Bagi kami, keluarga adalah sangat penting. Jadi, jika sang istri tidak mampu menghadapi ekspektasi-ekspektasi tersebut, maka Anda tidak akan dipaksa bergabung. Dr Mursi datang pada saya dan mengatakan bahwa dengan bergabung menjadi anggota Ikhwanul Muslimin ada risiko penjara dan hilang pekerjaan. Semua itu terjadi pada saat kami masih di Amerika. Saya katakana padanya, ‘Tidak masalah. Tidak ada masalah. Mari kita jalani, Insya Allah.’”


Pesannya pada kaum Kristen Koptik di Mesir.

“Saya ingin mengatakan bahwa kita ada di tanah air yang sama, keturunan yang sama. Islam tidak membedakan antara Muslim dan Kristen. Sebaliknya, kami belajar bahwa dalam Islam, umat Muslim dan Kristen memiliki hak penuh yang sama di negara yang sama. Mereka memiliki apa yang kami punya, dan kita semua memiliki kewajiban yang sama. Saya pribadi mengenal anggota masyarakat beragama Kristen, baik perempuan maupun laki-laki, dan saya bersyukur pada Tuhan, hubungan saya dengan mereka baik.”

Tentang peran sebagai ibu negara dan presiden.

”Dalam Muslim Brotherhood, kedudukan presiden dianggap sebagai pelayan nomor satu, karena presiden republic ini seharunya menjadi pelayan utama Mesir. Ia yang akan menjadi sponsor, dan ini adalah ajaran Islam. Dalam Islam, siapa saja yang memimpin dan mengelola urusan negara, seperti yang dikatakan oleh khalifah Umar bin Khattab, ‘jika ada unta yang jatuh di daerah Levant, saya yang akan diminta pertanggungjawaban.’ Inilah Islam.”

Tentang suaminya.

”Ia orang yang sangat seimbang, sangat serius. Ini bukan karena ia suami saya. Tapi memang sifatnya seperti itu. Ia sangat seimbang dan rasional serta bermental politis. Saya telah menikah dengannya selama hampir 31, 32 tahun. Saya tidak bilang dia pelawak, tapi ia punya selera humor dan pandai menghibur. Ia serius di saat yang serius dan menghibur di kala susah.” (dari berbagai sumber)


 
jalanpanjang.web.id - Kehausan masyarakat akan hadirnya tokoh yang bersih dan bersahaja itu akhirnya terpenuhi. Tampilnya Hidayat Nur Wahid sebagai ketua MPR pada 13 Oktober 2004 lalu, bak oase yang menghapus rasa dahaga masyarakat. Betapa tidak, hanya lima hari setelah menjabat ketua MPR, mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu langsung menggagas kesepakatan yang layak menjadi teladan bagi pejabat tinggi lainnya. Bersama pimpinan MPR lainnya, Hidayat menolak mobil dinas Volvo yang dianggap sebagai lambang kemewahan.

Tak hanya itu. Pimpinan MPR juga menolak tinggal di kamar mewah Hotel Mulia Jakarta --dengan tarif sekitar Rp 5 juta per malam-- selama sidang MPR 18-20 Oktober 2004. Mereka akhirnya ditempatkan di kamar standar dengan tarif Rp 1,5 juta per malam. Hidayat bahkan sempat menginap di kantornya ketika jadwal sidang amat padat.

Dibanding pejabat tinggi lain, kekayaan Hidayat jauh di bawahnya. Saat awal menjabat ketua MPR, total harta kekayaan Hidayat sekitar Rp 233,269 juta dan 15.000 dolar AS. Jumlah yang boleh dibilang 'sangat sedikit' dibanding pejabat tinggi lainnya. a juga meninggalkan posisinya sebagai presiden partai, begitu terpilih sebagai ketua MPR. Suatu contoh baru dalam alam politik di tanah air. "Saya kira, perangkapan jabatan itu juga merupakan penyalahgunaan jabatan," kilahnya.

Cerita seputar kesahajaan dan keteladanan pria kelahiran Klaten, Jateng, 8 April 1960 itu masih berlanjut. Ayah empat anak dari pernikahannya dengan Kastrian Indriawati tersebut sempat menolak uang dinas untuk tiga hari kerja ke Makassar karena faktanya dia hanya sehari berada di sana. Jika ada undangan dari partainya untuk berkunjung ke daerah, Hidayat selalu menolak beragam fasilitas --termasuk kamar hotel mewah-- dari pemda setempat.

Suatu saat, Hidayat pernah marah terhadap kader PKS di Padang. Kala itu, Hidayat hadir di sana atas undangan partainya. Dia merasa aneh ketika ditempatkan di kamar mewah Hotel Bumi Minang. Setelah dijelaskan, bahwa biaya hotel ditanggung pemda setempat, Hidayat tak mau. Dia bersikeras membayar sewa kamar sendiri dan tak hendak membebani pemda.

Kunjungan ke daerah atas nama partai pun selalu menggunakan kursi pesawat kelas ekonomi, sesuai kemampuan pihak yang mengundang. Dia tak akan bergeser dari tempat duduk, sekalipun pramugari menyilakannya berpindah ke kelas bisnis atau eksekutif.

Lulusan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo itu memang selalu memberi contoh konkret. Saat badai tsunami menerjang Nanggroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004, dia ikut turun langsung ke lokasi musibah. Bukan sekadar meninjau, Hidayat ikut membantu untuk mengangkat mayat-mayat yang berserakan. Bersama kader partainya, ia pun melakukan shalat jenazah di lokasi terjadinya musibah.

Hidayat yang lulus S1, S2, dan S3 dari Universitas Islam Madinah, Arab Saudi itu lahir dari keluarga sederhana. Ayah dan ibunya adalah seorang guru. Karena itu, jiwa pendidik yang senantiasa memberi contoh akan selalu dipegangnya. "Anda tak mungkin menuntut komitmen orang lain kalau Anda sendiri tak memiliki komitmen," tutur anak dari Muhammad Syukri dan Siti Rahayu tersebut.

Dia pun berpendapat, asal ada komitmen kuat dari para pengambil keputusan, maka tak terlalu sulit untuk melawan korupsi. Menurut dia, korupsi hampir selalu terkait dengan kekuasaan. "Sedangkan kekuasaan itu ada di tangan pengambil keputusan. Ini ibarat mata air. Kalau mata airnya jernih, maka aliran air yang ke bawah juga akan ikut jernih," paparnya.

Sikap empatik, tak bermewah-mewah, dan hidup secukupnya (efisien) menjadi prinsip moral yang dipegangnya. "Saya sejak dulu punya prinsip qana'ah (merasa cukup dengan apa yang ada)," jelasnya. Prinsip ini dianggapnya sebagai cara ampuh menghindari godaan korupsi.

Dua hal yang ditakuti penggemar bulu tangkis itu adalah jika tak mampu menjaga istikamah (konsistensi) maupun memegang amanah (kepercayaan). Baginya, orang yang tak konsisten tidak akan mungkin mampu menjalankan tanggung jawab dengan baik. Di mata pengamat hukum perbankan Pradjoto, Hidayat dianggap tokoh yang luar biasa. "Semoga komitmennya bisa menular pada tokoh lainnya," kata Pradjoto ketika itu.

Sedangkan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan, Anwar Nasution, merasa amat terkesan terhadap sikap Hidayat. "Gerakan moralnya untuk memberantas korupsi dengan pola hidup sederhana perlu dijadikan contoh," paparnya beberapa waktu lalu.

Di saat kondisi bangsa masih carut-marut seperti ini, 'virus' yang dibawa oleh Hidayat amatlah diperlukan. Apalagi, 'virus hidup bersih' itu dihembuskan oleh seorang petinggi negara. Tentu saja gaungnya diharapkan bisa menggema ke seluruh penjuru negeri agar makin banyak melahirkan Hidayat-Hidayat yang lain. 
( Sumber : republika.co.id: , Foto : Tempo.co.id )



jalanpanjang.web.id - Innalillahi wainnailaihi rajiun, kami kembali kehilangan, salah seorang praktisi IT yang juga mantan Pemimpin Redaksi Eramuslim.com Ihsan Sabri (41 tahun) telah meninggal dunia. Almarhum menghembuskan nafas terakhir setelah mengalami kritis dan koma akibat gagal ginjal. Sebelumnya Akh Ihsan Sabri bertahun-tahun menderita (DM) Diabetes Mellitus yang akut. Penyakit diabet itu menyerang organ yang paling penting, yaitu ginjal.

Kabar meninggalnya Ihsan Sabri disampaikan beberapa kerabat dan teman dekatnya. Almarhum meninggal pada hari Selasa pukul 13.30 WIB di RS Sentra Medika Cibinong Kab Bogor, meninggalkan seorang istri serta 2 orang anak shalih dan shalihah yang masih usia SD. Saat itu di RS Akh Ihsan Sabri sedang dalam perawatan atas penyakit yang dideritanya.

Semasa hidupnya, Ihsan Sabri adalah salah satu tokoh pendiri situs Eramuslim.com. Dia juga pernah diberi amanah sebagai Pemimpin Redaksinya pada tahun 2006. Dan pada awal Linux masuk ke Indonesia, dia adalah salah satu user Linux. Almarhum juga termasuk anggota Muslim Information Technology Association (MIFTA) di masa awal-awal MIFTA berdiri.

Hingga menjelang wafatnya, Ihsan Sabri masih disibukkan dengan amanah dakwah yang di embanya sebagai salah seorang tim IT Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera. 

Salah seorang sahabatnya sesama Tim IT DPP PKS memaparkan melalui BBM nya bahwa : 

Akh Ihsan Sabri sungguh sangat besar jasanya, Mail Server beliau yg setup semua sampai production, seperti : https, dns, ldap, dan masih banyak lagi. 

Kinerjanya sangat handal, beliau tidak pernah menolak apapun permintaan yang kita ajukan, apabila ada request kita tentang sesuatu yang beliau belum tau caranya, beberpa hari kemudian ternyata sudah solve dan dapat di implementasikan. Bahkan amanah yang sangat benyak itu beliau kerjakan di rumah dalam keadaan sakit.

Istrinya menceritakan bahwa selama ini perjalanan beliau naik kereta ke kantor DPP PKS Tb Simatupang merupakan perjalanan yg berat dijalaninya, namun beliau tidak pernah menampakkan kepada Ikhwah lainya.

Di detik-detik sebelum meninggal rasa tanggung jawabnya terhadap amanah sangat luar biasa, Istri Almarhum berkali-kali meminta maaf karena banyak tugas IT DPP PKS yang belum dapat diselesaikan.

Sesuai dengan kemampuannya di bidang IT, banyak situs dakwah dan infrastuktur IT dakwah yang tidak lepas dari peranan dan kontribusinya. Oleh karena itu tidak berlebihan apabila kami menyebutnya “Mujahid IT”.

Segenap tim redaksi jalanpanjang turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Allahumaghfirlahu warhamhu wa afini wa’fu anhu. Engkau sudah memulai, dan kami akan terus melanjutkan perjuanganmu. Selamat jalan mujahid! Kami menjadi saksi perjuanganmu.
(islamedia)


Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Da'wah ini kembali kehilangan kader terbaiknya, Ust. Nurhuda Trisula ,Sang Perintis dakwah di Kalimantan Timur pada hari Sabtu 28 Januari 2012. Sekali lagi, kejujuran dalam dakwah ini ditunjukkan, dan sekali lagi kami ditunjukkan atsar keistiqomahan. Ust Nurhuda telah memenuhi janjinya, terus berjuang di jalan Allah swt. 

Sekilas Tentang Sosok Ust. Nurhuda Trisula
Semua yang mengenal Ustadz Nurhuda Trisula pasti sangat tahu bagaimana karakternya dalam da’wah, akhlaknya dengan sesama dan prinsipnya dalam hidup. Bahkan saat almarhum dalam keadaan sakit menahun pun, karakter, akhlak dan prinsip itu tak ikut luntur menghilang bersama lemah fisiknya. Bahkan di akhir-akhir hayatnya, beliau masih tetap meneladankan keseriusan dan pengorbanan fisik dan pikirannya kepada da’wah yang tiada terkira.

Dalam bulan-bulan terakhir, beberapa kali aku mendengar curhat dari beliau langsung tentang kegusaran istrinya akibat “keras-kepala” nya. Bagaimana Mba Win melarang untuk mengurangi aktifitas beliau, karena tanda-tanda stroke kedua yang kemungkinan mendekat. Sampai-sampai Mba Win pernah sms -sebagai bentuk gugatan kasih sayang- kepada beliau dan beliau ceritakan kepadaku; “aku telah menjadi istri yang gagal karena tidak mampu melarang suami untuk istirahat”. Beliau tidak pernah menanggapi dengan melankolis.

Ikhwah di DPW juga sering menutup-nutupi jadwal rapat demi keinginan seluruh ikhwah untuk tidak melibatkan beliau, karena melihat kondisi fisik beliau. Tapi beliau selalu menemukan cara dengan mencari tahu jadwal rapat dan memaksa ikut, memberikan kontribusi pemikiran dan solusi paling banyak dan paling sering mengarahkan seluruh ikhwah tentang langkah-langkah yang harus diambil berkaitan dengan strategi da’wah.

Hari Rabu, empat hari sebelum beliau tak sadarkan diri, aku masih di rumahnya dari jam 7 pagi hingga jam setengah 12. Aku masih membuat bahan presentasi untuk disampaikan beliau kepada BPH DPW. Diantara wajah letih beliau, beliau masih mau mendengarkan paparanku. Di sela-sela paparanku, beliau sempat berkata; “akh, saya lihat antum seperti berputar-putar badannya lho”. Aku langsung kaget dan menghentikan pembicaraan. Kataku; “Ustadz, kita stop dulu ya. Besok bisa kita lanjutkan. Antum istirahat dulu”. Tapi dengan tegas beliau mengatakan; “Tidak usah akh. Antum lanjutkan saja. Saya bisa mendengarkan sambil berbaring”.

Setengah jam kemudian, saat aku masih menjelaskan, beliau memotong dengan muka gusar; “akh, tangan saya dan kaki saya sebelah kanan tidak bisa digerakkan nih. Dari kemarin seperti ini”. Aku langsung cemas dan berkata; “Ustadz, kita stop dulu ya”. Beliau menjawab dengan tersenyum; “Tidak usah. Selesaikan saja. Santai akh”. Aku membatin, bagaimana bisa aku santai mendengar kondisinya. Akhirnya aku percepat presentasi dan mengcopy bahan presentasi itu ke flashdisk beliau. Saat aku diam begitu lama, sambil berbaring beliau berkata; “Akh, dua hari ini saya mengalami disorientasi. Jadi, saya bangun pagi dan tiba-tiba bingung mau ngapain. Saya bisa mengalami kebingungan hingga berjam-jam. Kata dokter, kalau kita disorientasi seperti itu, biasanya mau stroke yang kedua lho, dan itu alamat delapan puluh persen saya wafat”.

Beliau berkata seperti itu tanpa beban. Tanpa ketakutan. Tetap tenang dan sambil tertawa !. Aku saja yang mendengarnya begitu cemas. Waktu aku pulang, aku sempat berpesan; “syaikh, kalau boleh nyaranin, sebaiknya banyak istirahat”. Dan aku yakin, pesanku tak akan digubrisnya. Karena dia sudah menjadwalkan akan ke DPW seharian ini, ke Bontang esok harinya, ke DPP pada hari Jum’at dan ke Jakarta lagi untuk mengatarkan Adzkiya pada hari Ahad. Begitulah beliau dengan keteguhan dan sikap tak mau dikasihani-nya. Jika beliau bisa melakukan sendiri, buat apa minta bantuan yang lain katanya.

Kenangan tentang keteguhan beliau kerja keras beliau hingga wafat di jalan Allah juga di rasakan oleh sahabat-sahabat dekatnya. Ustadz Haris pernah jalan berdua bersamaku waktu ada acara Partai di Jakarta setahun yang lalu. Dan beliau dengan sangat gamblang menceritakan tentang Ustadz Nurhuda; “antum harus contoh Ustadz Nurhuda akh. Tentang obsesinya dalam da’wah, tentang komitmennya yang tiada pernah patah. Jangan pernah menyerah dengan masalah-masalah”. Kata-katanya membuatku tersenyum malu.

Saat aku bertandang ke rumah seorang ustadz yang sealmamater dengan beliau, setengah tahun lalu, Ustadz tersebut menceritakan bahwa dengan keteladanan akhlaknya, Ustadz Nurhuda menjadi orang yang bisa menengahi berbagai masalah di kalangan ikhwah di berbagai daerah. Saat ada konflik dan perbedaan pendapat, beliaulah orang yang didepan dua kelompok yang berselisih tersebut yang bisa menyatukan pandangan-pandangan ekstrim dan merangkumnya dalam sikap moderat dialiri kasih sayang dan persaudaraan

Orangtua Bang Icha, Ustadz Andre dan seluruh keluarganya, telah menganggap Ustadz Nurhuda adalah bagian dari anak dan saudaranya, karena mereka sangat lama berinteraksi dan memetik kebaikan, ketulusan, kasih sayang dan kuatnya ikatan persaudaraan dari Ustadz Nurhuda saat-saat da’wah ini di buka di Kalimantan Timur, dimana Bang Icha dan Ustadz Nurhuda berjibaku untuk pertamakali.

Beberapa saat setelah wafatnya Ustadz Nurhuda, saat Ustadz Zainal Haq masuk ke ruangan ICU sekitar pukul tujuh bersama Ustadz Hadi Mulyadi, beliau dengan suara terbata-bata menahan tangis menegaskan bahwa Ustadz Nurhuda adalah orang yang paling layak diteladani oleh seluruh ikhwah. Saat Ustadz Hadi Mulyadi memberi kata sambutan tentang kebaikan-kebaikan almarhum, beliau mengatakan, ; “Semua yang pernah mengenal almarhum, pasti kagum dengan kesungguhannya pada da’wah dan jama’ah. Dan harus diakui bahwa beliaulah yang merintis da’wah di Kalimantan, dan dengan segala kesungguhannya, kita menjadi orang-orang yang berdiri di jama’ah ini”.

Beberapa kali Ustadz Masykur juga pernah mengeluh kepadaku tentang Ustadz Nurhuda; “Memang akh, kalau mau belajar politik da’wah dan strateginya kita harus belajar kepada Ustadz Nurhuda. Tapi ya itu akh, semua mau dipikirkan dengan sangat serius. Beliau selalu ingin terlibat dan meng-eksekusi keputusan besar jama’ah. Padahal kan kita kasihan sama fisiknya. Takut ada apa-apa”. Di lain waktu, saat pidato pelepasan jenazah, beliau juga menegaskan bahwa; “semua ikhwah yang ada di Kalimantan, terutama Kalimantan Timur adalah murid-muridnya. Karena sebab almarhum dan izin Allah-lah, saya dan seluruh ikhwah mendapatkan hidayah Allah. Saya akui bahwa saya murid almarhum. Semua murid almarhum. Satu hal yang wajib kita lakukan adalah mencontoh semua kebaikannya”.

“Almarhum adalah ‘Arkanul Bai’at yang berjalan di antara kita. Kita tidak pernah meragukan pengorbanannya dalam da’wah ini. Kita begitu mengagumi keikhlasannya dalam jalan da’wah ini. Waktu menjadi anggota DPRD, beliau sampai memberikan duapertiga pendapatannya untuk da’wah dan sepertiganya untuk keluarga. Itupun masih terpotong untuk aktivitas da’wah sehari-hari. Bahkan almarhum pernah bercerita kepada saya bahwa almarhum hanya menyisahkan limaratus ribu untuk Bu Win dan anak-anak. Betapa kita sulit menemukan orang-orang seperti beliau. Kita wajib mengikuti jejak beliau, meneladani dan meneruskan apa yang menjadi cita-cita beliau”.

Begitulah beliau di mata sahabat dan kawan seiring perjuangan. Aku sendiri telah banyak menulis kenangan indah baik saat kami berdua mengunjungi kota lain, duduk berdua, atau bersama-sama saudaraku yang lain. Kurangkum sebagian kenanganku dalam sebuah tulisan pesan nan indah di hatiku. Dan sebagian kutuliskan untuk saudaraku yang lain, di “Penakluk Ribuan Hati”. (28 Januari 2012 / pelangikalasenja.wordpress.com)

Sosok Pekerja Keras yang Sederhana  (Ditulis di Kaltim Pos)
Tampil sederhana, kalem, dan gaya bicaranya tak meledak-ledak. Begitulah Nurhuda Trisula, mantan auditor di kantor pelayanan pajak yang akhirnya terjun ke politik praktis. Nurhuda yang sudah 10 tahun duduk di DPRD Kaltim, kini dicalonkan lagi untuk ketiga kalinya
.
Sejak usia 5 tahun, pria kelahiran Blitar, 6 Juni 1969, ini sudah dididik politik. Maklum, ayahnya Noorman (alm) memang aktif di partai politik. Ketika itu, ayahnya yang pegawai Dinas Pendidikan Blitar, Jatim, duduk di kepengurusan inti Partai Golongan Karya (Golkar).

Setiap hari, ayahnya selalu mengajak Nurhuda untuk mengikuti rapat-rapat di Partai Golkar.

"Saat itu saya masih duduk di kelas 4 SD," ucap Nurhuda membuka pembicaran.

Selain sebagai ketua Majelis Dakwah Islamiah Golkar, ayahnya juga ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Blitar. Namun, hawa politik yang makin memanas di internal Golkar membuat ayahnya memutuskan berhenti berpolitik.

"Karena sudah tahu hitam putihnya politik, beliau memutuskan berhenti dari Golkar," ucap pria yang dikenal cukup sabar ini.

Ibunya yang kepala sekolah di salah satu SD di Blitar punya obesesi agar Nurhuda menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Selepas lulus SMAN 1 Blitar, Nurhuda melanjutkan kuliah ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) di Jakarta. Ketika itu dirinya juga diterima di Fakultas Teknik Sipil Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. Tapi informasi kelulusan di Unibraw diketahuinya setelah dirinya sudah menjalani masa orientasi kampus di STAN.  

"Saya pun memutuskan tetap kuliah di STAN," ucap Nurhuda yang ditemui di sela mengikuti workshop untuk anggota DPRD tentang problematika pemilu di Jakarta beberapa waktu lalu.

Selama kuliah di kampus STAN Jakarta 1988 hingga 1991, ia pun aktif berorganisasi. Di antaranya dipercaya sebagai ketua PD Pelajar Islam Indonesia (PII) Kodya Blitar, dan ketua Masjid Baitul Maal STAN Jakarta. 

Lulus dari STAN pada 1991, ia bekerja di kantor pajak di bawah Departemen Keuangan (Depkeu) sebagai auditor. Ia ditugaskan ke Samarinda. Pekerjaan sebagai auditor pajak inilah yang mengantarkan dirinya mengenal banyak teman, termasuk pengusaha Kaltim, Yos Soetomo.

Sebagai auditor, ia tetap aktif berorganisasi dakwah. Bahkan, ia mendirikan lembaga dakwah dan majelis taklim.

"Jadi basis majelis taklim sekarang ini tidaklah muncul tiba-tiba. Ini sudah kami rintis sejak lama," sebut ayah 5 putra ini.

Nah, pada 1998, ketika Partai Keadilan (PK) -yang sekarang Partai Keadilan Sejahtera (PKS)- berdiri ia pun diajak bergabung oleh kawan-kawannya yang dulu satu almamater di kampus.

"Jaringan yang sudah kami bentuk inilah yang akhirnya mendorong lahirnya Partai Keadilan di Kaltim," ucap suami Purwinahyu ini.

Saat itu, dipercayakan Ketua DPW PK Kaltim Abdul Haris dan dirinya ditunjuk sebagai wakil ketua. Memasuki Pemilu 1999, ia termasuk yang dicalonkan untuk daerah pemilihan (dapil) Samarinda. Koleganya Haris dicalonkan dari dapil Balikpapan, dan Hadi Mulyadi dapil Kukar serta Kubar.

"Saat itu, dapil Samarinda yang justru perolehannya cukup signifikan dan memperoleh satu kursi," ucapnya.

Ia mengaku, satu kursi ini tak serta-merta diterimanya. Nurhuda mengaku malah  meminta Haris untuk duduk sebagai anggota DPRD.

"Saya lihat, Pak Haris lebih pantas," kata Nurhuda.

Namun Haris ternyata menolak. Demikian pula Hadi Mulyadi tak mau menerima jabatan itu. Akhirnya disepakati tiga nama diserahkan ke DPP PK untuk diputuskan. Yakni Nurhuda, Haris, dari Hadi Mulyadi (sekarang ketua DPW PKS Kaltim).

Bersama istri dan anak-anak
DPP PK memutuskan Nurhuda yang duduk di DPRD Kaltim. Alasannya, Nurhuda dianggap pernah di birokrasi. Sedangkan Hadi Mulyadi berlatar belakang dosen, sementara Haris adalah seorang dokter.

"Jadi saya dipilih bukan dianggap yang paling pintar. Karena pernah di birokrasi, saya dianggap bisa mengikuti berbagai program politik," tuturnya.
 
"Saya baru dapat kabar itu ketika saya akan bertolak ke Blitar menjenguk ayah yang sedang sakit. Ketika saya sampaikan penunjukan ini, saya sempat dilarang untuk masuk ke DPRD. Beliau takut, saya menyesal nanti ketika sudah terjun politik. Apalagi setelah tahu hitam putihnya politik," imbuhnya.

Namun, setelah diyakinkan, akhirnya ayahnya merestui masuk ke gedung DPRD Kaltim, Kelurahan Karang Paci, Samarinda, untuk periode 1999-2004. Hanya pesannya tetap diingat, ketika sudah masuk politik, akan mudah naik jabatan, tapi sebaliknya mudah juga turunnya.

"Dalam politik itu, yang paling penting integritas. Setelah berpesan itu, besoknya ayah saya meninggal," kenangnya.

Yang paling berkesan ketika masuk arena politik, perjuangan kerasnya bersama mantan anggota DPRD Kaltim Ridwan Suwidi (sekarang Bupati Paser).

"Saya berjuang keras bersama Pak Ridwan menuntut Kaltim diubah menjadi negara federal. Ya, semacam otonomi khusus.  Namun ini terhambat karena tak didukung secara politik dari Partai Golkar dan PDIP yang saat itu dapat perintah dari pusat. Karena dua partai besar menolak, akhirnya sulit untuk bargaining," ucapnya.

Dalam perjalanan politik di DPRD, yang menjadi prioritas dalam pembangunan terutama untuk program penyediaan air bersih, listrik, dan infrastruktur.

"Namun dalam proses tak sesederhana itu.  Banyak yang tak bisa tercapai," ucapnya.

Diakuinya, sampai 2009 ini, dalam pengambilan kebijakan di DPRD, tidak melibatkan partisipasi publik.

"Tidak ada transparansi dalam anggaran. Anggota DPRD-nya saja banyak yang tak tahu buku anggaran," sebutnya.

"Yang terjadi malah lobi-lobi setengah kamar," sambungnya.

Tak hanya itu, peran politik anggota DPRD terlikuidasi oleh orang partai yang punya jabatan.

"Dalam membahas anggaran pun pembahasan detail anggaran tidak dilakukan komisi," akunya.

Lantas apa enaknya menjadi anggota DPRD sehingga dirinya menjadi calon lagi? "Kalau saya, sih, kok malahnggak enak. Saya ini malah sudah tiga kali meminta untuk mundur, tapi tak dibolehkan partai," ucapnya.

Pertama, kata dia, pada 2003 ketika menjabat ketua tim pemenangan pemilu. Karena dirinya ingin konsentrasi untuk memenangkan pemilu, ia meminta untuk mundur dari DPRD.

"Tapi ditolak Pak Hidayat Nur Wahid (presiden PKS saat itu, Red.)," tuturnya.

Kemudian akhir Desember 2004, dirinya juga minta mundur karena serangan penyakit stroke selama tiga bulan. Tapi tetap ditolak partai.

"Terakhir saya minta untuk tak lagi dicalonkan dalam penyusunan caleg 2009 ini, tapi partai tetap menugaskan saya. Dan di PKS itu kalau sudah ditugaskan tak bisa menolak," tuturnya.

Bukankah jadi anggota DPRD itu gajinya besar? "Kalau mau cari materi, DPRD ini bukan tempat yang tepat. Malah lebih mapan teman-teman saya yang sekarang di Depkeu. Ini benar-benar pengabdian. Di sini justru banyak pengeluaran. Begitu naik jadi caleg (calon anggota legislatif, Red), semuanya mengeluarkan uang. Yang dihasilkan dengan yang dikeluarkan nanti memang ada selisih, tapi tak seberapa," katanya

Kesaksian Ikhwah

Kalau kita skrg sdg menikmati dakwah yg tumbuh subur di Kaltim. Ibarat hamparan kebun yg luas dengan pohon2  yg berbuah lebat  tumbuh subur dgn pohon yg kokoh dan rimbun, tahu kah kita kalau 24 tahun yg sebelumnya, kebun itu hanyalah tanah tandus dan gersang.. Lalu datanglah seorang Mujahid dakwah yg tangguh, yg penuh semangat tanpa kenal putus asa, pekerja keras tanpa kenal lelah, teguh, sabar dan sangat optimis, cita-cita dan kerja kerasnya menyatu dalam jihadnya…
Beliau-lah Sang Muassis yg menabur benih dakwah pertama kalinya diatas kebun gersang dan tandus di Kaltim ini, Beliau-lah yang dengan ulet dan penuh kesabaran,  cinta dan penuh kasih sayang merawat benih-benih dakwah itu dgn tangannya sendiri. Dengan ikhtiarnya sendiri. Dengan do’a nya sendiri. Hingga tumbuhlah benih-Benih itu menjadi pohon-pohon dakwah yg subur dan rindang. Berbuah lebat disepanjang tahun tanpa kenal musim. Buah-buahnya lalu menjadi benih-benih baru di tempat lain diseluruh bumi etam. Hingga pohon2 dakwah itu kini menjadi kebun dakwah yg luas.

Itulah kebun dakwah Kalimantan Timur yang lahir dari jihad sang Muassis tercinta. Ust. H. Nurhuda Trisula wallahu Yarhamuhu. Ya Allah. Jika jihad dan amal sholeh Beliau menghidupkan dan menegakkan dakwah di Kaltim ini Engkau terima di sisi-Mu ya Rabbi. Ust. Zaenal Haq (Sekretaris MPW PKS Kaltim)
...............
Selamat jalan saudaraku, Nurhuda. Perjuangan dakwahmu di bumi Kalimantan telah membuahkan hasil yang menggembirakan. Saya menjadi saksi kesederhanaanmu, kesungguhanmu, keikhlasanmu, ketegaranmu, kecintaanmu yang tanpa batas kepada dakwah dan ikhwah. Ust. Cahyadi Takariawan



jalanpanjag.web.id - Menteri Sosial Salim Segaf al Jufri sangat menikmati naik ojek dari pos pemantauan perbatasan desa Temajuk menuju dusun Camar Bulan. "Kalau tak ada yang nyopir tadi, saya sopiri sendiri motornya," ujar Mensos kapada para wartawan yang meliput kunjungan Mensos bersama Menko Kesra, Menteri Pekerjaan Umum dan Sekretaris Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) ke daerah perbatasan Sambas-Serawak ditemani Gubernur Kalimantan Barat dan Bupati Sambas (7/1).
 
Rombongan wartawan dan Gubernur Kalbar memang harus menempuh perjalanan darat Pontianak-Sambas selama empat jam, dilanjutkan Sambas-Temajuk selama minimal enam jam. Sementara rombongan menteri naik helikopter. "Kami harus menembus hutan, alhamdulillah jalannya bagus. Tapi saat menyeberangi sungai harus menunggu saat yang pas agar tidak hanyut atau tergelincir. Minimal 12 jam perjalanan dari Pontianak ke perbatasan," ungkap Ria, reporter RRI.

Saat ditantang, Mensos menyatakan siap jalan bersama wartawan suatu hari untuk meninjau daerah terpencil. "Tahun lalu saya pernah mengunjungi lokasi KAT (komunitas adat terpencil) di dusun Sisere, di kaki gunung Toposo, kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Kami naik motor trail dan jalan kaki ke lokasi," jelas Mensos. Pada tahun 2012-2014 program Kementerian Sosial diprioritaskn untuk 50 kabupaten tertinggal, sebagian di antaranya daerah perbatasan dan terpencil.

Pada kunjungan ini, Menko Kesra meluncurkan Program Terpadu Pembangunan Kampung dengan dukungan kementerian teknis. Sedangkan Kemensos merealisasikn Program Terpadu Penanggulangan Kemiskinan (Pronangkis) sesuai amanat Undang-undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin, dimana Kemensos menjadi leading sector. Program inisiasi di Camar Bulan antara lain: pembangunan infrastruktur jalan perbatasan sepanjang 14 kilometer oleh Kementerian Pekerjaan Umum (46 kilometer jalan sedang dalam proses pembangunan), perbaikan pasar desa, rehabilitasi 100 unit rumah tidak layak huni (senilai Rp 1 miliar), pemberian modal hibah untuk 100 kelompok usaha bersama (senilai Rp 2 miliar), pelatihan tenaga kerja terampil, dan lain-lain.

 "Pembangunan jalan perbatasan akan dilanjutkan BNPP dan Pemerintah Daerah. Sementara pembangunan perumahan nantinya didukung Kementerian Perumahan Rakyat. Pemerintah serius membangun daerah perbatasan dan menyejahterakan warganya," papar Menko Kesra Agung Laksono kepada wartawan. Setelah menandatangani prasasti, Menko Kesra bersama Mensos dan Menteri PU memeriksa rehabilitasi rumah dan menyapa Pak Nasir, salah seorang warga yang diperbaiki rumahnya. Saat ini tercatat warga desa Temajuk sebanyak 480 KK (1890 jiwa). Kondisi rumah mereka masih sangat sederhana, apalagi jika dibandingkan dengan rumah warga di negeri jiran

Bupati Sambas, Dra. Juliarti Djuhardi Alwi, menerangkn mata pencaharian warga sebagian adalah nelayan dan pekebun karet. Potensi alam yang belum tergali sangat banyak, antara lain tanaman lada yang dapat digarap secara massal. "Jika dilatih dan diberi peluang, maka warga kami siap membangun kampung halaman sendiri. Kami cinta negeri ini," kata bupati perempuan itu dengan penuh semangat.

Sementara Gubernur Kalbar Cornelis menegaskan agenda pembangunan daerah perbatasan bukan bersifat politis. Tapi demi menjaga keutuhan NKRI dan mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia di manapun berada. “Jangan ragukan nasionalisme kami,” seru Gubernur berapi-api.

Ada momen yang berkesan ketika mengakhiri sambutan resmi, Mensos membalas pantun yang disampaikan bupati dan gubernur. "Kalau tidak dengan tinta, tak kan kutulis syair ini. Kalau tidak karena cinta, tak kan kami hadir di sini," ucap Mensos yang disambut tepukan riuh warga Camar Bulan yang berkumpul di lapangan desa.

KUNJUNGI PANTI ANAK DI PONTIANAK
Sebelum berangkat ke Camar Bulan, Mensos Salim Segaf mengunjungi panti anak Al Amien di pinggiran kota Pontianak ditemani Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Makmur Sunusi, Direktur Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan Teguh Haryono, Sekretaris Daerah Provinsi Kalbar M. Zeet Hamdy, dan Kepala Dinas Sosial Provinsi Kalbar Junaidi (6/1).

Dalam arahannya, Mensos menegaskan Pemda perlu meningkatkan porsi anggaran kesejahteraan sosial dalam APBD. "Karena masalah sosial sangat kompleks, tak bisa ditangani hanya oleh pemerintah pusat sendiri. Anggaran Kemensos 2012 senilai Rp 4,57 triliun, sebagian besar dikirim ke daerah untuk Program Keluarga Harapan, dana dekonstrasi dan tugas perbantuan. Jika masalah sosial dibiarkan, maka akan mengganggu perkembangn ekonomi, dan sebaliknya bila masalah sosial tertangani akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan stabilitas keamanan," papar Mensos. Warga panti menyambut Mensos dengan pantun rebana dan silat Tarung Derajat.

Mensos menyampaikan bantuan Rp 30 juta kepada warga panti. “Panti ini didirikan secara swadaya sejak 2002. Saat ini alumni kami ada yang mandiri dan bekerja di perusahaan swasta,” ungkap Kepala Panti Mahlan Yani, sambil menangis terharu karena tidak menyangka akan diziarahi rombongan Mensos. Sekda Provinsi Kalbar menerangkan: "APBD Kalbar sekitar Rp 2 triliun, dianggarkan Rp 12 miliar untuk program kesejahteraan sosial. Memang masih minim. Dari 179 panti sosial yang ada, hanya tiga panti yang dikelola Pemda, pantai lain adalah inisiatif masyarakat.” Pemda Kalbar mendapat bantuan Kemsos senilai Rp 3,4 miliar untuk subsidi 137 panti (3.111 kelayan), masih ada 42 panti (1.260 kelayan) yang belum terbantu dan harus ditangani daerah. [depsos.go.id]


jalanpanjang.web.id - Gaya hidup Sedehana seolah sudah melekat dalam keseharian seorang Mahfudz Siddiq . Kebiasaan menggunakan kereta api dan makan di pinggir jalan bersama masyarakat masih sering dilakukan, demikian paparan anggota DPR yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).


Menurut Mahfudz menggunakan kereta api sangat mengasyikkan dan sekaligus dapat bertemu dengan banyak orang yang terkadang dapat menampung aspirasi langsung dari masyarakat. Setiap masa reses DPR, Mahfudz Siddiq rutin menggunakan kereta api saat mengunjungi konstituennya yang berada di Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat VIII yang meliputi Cirebon dan Indramayu.


Selain menggunakan kereta api, gaya hidup sederhana Mahfudz Siddiq terlihat dari kebiasaanya untuk selalu menyempatkan waktu khusus untuk membaur dengan masyarakat. Salah satunya dengan makan di warung makan kaki lima bergabung dengan masyarakat sekitar tanpa ada protokoler. Suasana keakraban saat makan inilah yang dilakukan Mahfudz untuk dengan mudah mendapatkan informasi dan keluhan-keluhan yang dialami masyarkat.


Sebagaimana yang dilakukan beberapa waktu yang lalu
pada Jumat (6/1/2012) saat kunjungan ke Indramayu, Mahfudz Siddiq menyempatkan diri makan bersama masyarakat di sebuah warung kaki lima Kecamatan Jatibarang-Indramayu setelah usai sholat Jum'at dimasjid Nurul Huda. Jatibarang.  Kehadiran Mahfudz Siddiq disambut hangat."sangat jarang anggota DPR RI mau makan dipinggir jalan dan duduk bersama masyarakat kecil." Ujar salah satu masyarakat dari desa sudi mampir.

Kehidupan sederhana dan semangat untuk berbaur dengan masyarakat yang dilakukan oleh seorang Mahfudz Siddiq ini semoga dilakukan pula oleh semua pejabat publik di Indonesia sehingga dapat memberikan spirit positif yang lebih luas lagi bagi masyarakat (islamedia.web.id)



jalanpanjang - Kali ini Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan berbaur dengan masyarakat, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan memulai aktivitasnya di Jumat (6/1/2012) pagi dengan mengendarai vespa keluaran tahun 1965 menuju Kampus Bina Sarana Informatika (BSI) Cabang Bandung di Jalan Sekolah Internasional Antapani. Jauh dari kesan perjalanan pejabat dengan protokoler yang identik dengan sirine meraung dan menyingkirkan siapa saja di depannya. Naik Vespa bukanlah hal baru bagi beliau, 14 tahun yang lalu Vespa merupakan kendaraan satu satu nya yang beliau miliki, yang selalu menemani beliau kemanapun beliau pergi termasuk ke al-Manar kantornya saat itu. 

Kedatangan Heryawan guna memberikan kuliah umum bagi tentang kewirausahaan di hadapan ratusan mahasiswa dan jajaran staf pengajar BSI.

Menurut Heryawan, dengan berkendara roda dua, selain mendapatkan suasana baru, bernostalgia, sekaligus mengkampanyekan keselamatan berkendara kepada masyarakat. "Kita inginkan agar masyarakat memperhatikan keselamatan dalam berkendara, khususnya bagi pengendara roda dua," ujar Heryawan.

Heryawan berangkat dari Kediaman resmi di Gedung Negara Pakuan Jalan Otto Iskandardinata Kota Bandung. Saat menunggangi Vespa, Heryawan mengenakan jaket lengkap dengan helm, diiringi 30 pengendara vespa dari Vespa Antique Club (VAC) Kota Bandung.

Dengan berkonvoi, Gubernur melalui sejumlah ruas jalan di Kota Bandung, antara lain Jalan Otista, Jalan Wastukencana, Jalan RE Martadinata, Jalan Taman Pramuka, Jalan Jakarta selanjutnya menuju Kampus BSI yang berlokasi di Jalan Sekolah Internasional 1-6 Antapani.

Kehadiran orang nomor satu di Jawa Barat dengan berkendara vespa disambut antusias ratusan mahasiswa dan pengajar yang sengaja menunggu kedatangannya. Komunitas VAC pun menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Gubernur Jawa Barat atas perhatian dan dukungannya. Khususnya dengan melibatkan komunitas vespa dalam kegiatan resmi Gubernur. Mereka merasakan adanya keakraban dan suasana hangat saat bersama Gubernur di kediaman Gedung Pakuan hingga selesai mengantar Ke kampus BSI.

"Kami sangat senang dan bangga, Gubernur orangnya cepat akrab, dan berharap akan ada kegiatan lain yang juga melibatkan komunitas kendaraan bermotor, baik itu vespa maupun jenis motor lainnya," ujar Tedi, Ketua VAC Bandung Raya. (inilah.com)
 
 
jalanpanjang.web.id - Natsir adalah tipe pejabat yang tak bergelimang harta. Natsir kecil lahir di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, 17 Juli 1908. Ia merupakan pendiri Partai Masyumi yang dibubarkan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1960. Selain pernah menjadi perdana menteri, ia sempat menjabat sebagai menteri penerangan selama beberapa periode.

Natsir, yang mendapat gelar sebagai pahlawan nasional pada 10 November 2008 dikenal sebagai sosok yang penuh sopan-santun dan rendah hati. Natsir juga negarawan yang sangat bersahaja dalam kehidupan sehari-harinya.

Indonesianis terkemuka dari Cornell University, Amerika Serikat (AS), George McTurnan Kahin, menuturkan kesan sederhana yang ia tangkap dari Natsir. Ketika itu, tahun 1948, Kahin tengah berkunjung ke Yogyakarta yang menjadi pusat pemerintahan RI dan bertemu Natsir.

Penulis buku "Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia" (1952) ini melihat penampilan Natsir yang hampir-hampir tak menunjukkan seorang menteri penerangan. Natsir mengenakan jas yang penuh dengan tambalan di sana-sini. Kahin belakangan tahu kalau para staf Kementerian Penerangan mengumpulkan uang untuk membeli baju buat Natsir.

Ketika menjadi perdana menteri pada Agustus 1950, penampilan Natsir juga tidak banyak berubah. Natsir menempati rumah bekas Soekarno di Jl Pegangsaan Timur (kini Jl Proklamasi), Jakarta Pusat. Sebelum pindah ke rumah tersebut, Natsir dan keluarganya tinggal menumpang di sebuah gang di Jl Jawa dan lalu di kawasan Tanah Abang.

Mengenai tunggangan Natsir kala itu, Majalah Tempo Edisi 14 Juli 2008 menulis, sang menteri penerangan itu pun cuma mempunyai mobil bermerk DeSoto yang telah kusam. Pada 1956, Natsir ditawari sebuah mobil sedan mewah buatan AS, namun ia menolak dengan halus.

Setelah melepas jabatan sebagai perdana menteri, Natsir menanggalkan mobil dinasnya di Istana Kepresidenan. Ia memilih untuk membonceng sopirnya pulang ke rumah Jl Proklamasi. Tak berapa lama, Natsir dan keluarga kembali pindah ke Jl Jawa.

Masih menurut Tempo, Natsir mengaku tidak punya uang ketika ada Ketua Muhammadiyah Kalimantan Selatan minta uang untuk pulang ke Kalsel. Natsir juga menolak sisa dana taktis kala menjabat sebagai perdana menteri. Dana itu akhirnya dimasukkan ke koperasi karyawan.

Semasa bergabung dengan PRRI, Natsir bersama anak istrinya menjalani hidup dari hutan ke hutan di Sumatera Barat (Sumbar). Ia lalu ditangkap dan dipenjarakan oleh Soekarno selama tahun 1960-1966. Karena kehilangan rumahnya di Jl Jawa, Natsir lalu membeli rumah yang kini berada di Jl HOS Cokroaminoto, Jakpus. Rumah itu ditempatinya hingga wafat pada 6 Februari 1993.(detik.com)




jalanpanjang.web.id - Waktu baru menunjukkan pukul 05.30 WIB. Anggota DPR Aus Hidayat Nur meninggalkan rumahnya di Jalan Kelapa Dua Raya RTM Cimanggis, Depok dengan membonceng sepeda motor. Salah satu anaknya yang mengendarai kendaraan roda dua itu.

Tujuan mereka adalah Stasiun Universitas Indonesia (UI). Perjalanan tak sampai 30 menit. Tiba di stasiun, politisi PKS ini segera membeli tiket KRL Eksekutif tujuan Stasiun Tanah-abang seharga Rp 5.500.

Pukul 06.15 WIB kereta yang ditunggu-tunggu datang. Pria ini langsung naik gerbong yang lumayan sejuk dan membuat mata ingin terperam.

Perjalanan ke Stasiun Tanah-abang memakan waktu sekitar 45 menit. Sekitar pukul 7, Aus sudah di berada di depan stasiun dan memanggil ojek. "Hampir setiap hari saya naik KRL agar lebih cepat sampai kantor," kata Aus Hidayat Nur.

Aus kembali naik ke boncengan motor untuk sampai ke kantornya di gedung DPR. Ongkos ojek Rp 20 ribu. "Sebetulnya harga normalnya Rp 10 ribu. Ya lumayan lah bisa sekalian membantu orang," kata pria yangdipercaya duduk di Komisi II DPR ini.

Setelah sampai di gedung DPR, pria ini mengikuti rapat internal Fraksi PKS yang digelar mulai pukul 7 sampai 10 pagi. Setelan itu. Aus sibuk dengan kegiatan di Komisi II DPR yang membidangi Pemerintahan Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, Aparatur Negara, Agraria dan Komisi Pemilihan Umum.

Aus mengatakan lebih sering ke DPR naik kereta. Tapi, bila kegiatan di parlemen sedang tak padat, ia datang menggunakan kendaraan pribadi, Proton Exora.

Mobil produksi Malaysia itu, menurut dia, dibeli secara kredit. Uang mukanya Rp 80 juta dengan tempo cicilan empat tahun. Setiap bulan. Aus membayar cicilan Rp 3,9 juta. Saat ini sudah masuk bulan kesepuluh. "Mobil itu lebih murah dari Toyota Innova," kata Aus.

Sebelum memiliki mobil sendiri. Aus beberapa datang ke DPR menggunakan Daihatsu Terrios. Menurut dia, mobil itu adalah kendaraan operasional DPP PKS. Ia bisa menggunakan kendaraan itu karena menjabat Ketua Pembinaan Wilayah Dakwah. Kini, mobil itu diguna-kan oleh istrinya. Susanti karena dia aktif menjadi pengurus di DPP PKS.

Pria yang dikaruniai enam orang anak ini mengatakan tak ingin bermewah-mewahan sebagai anggota DPR. Menurut dia, jabatan anggota legislatif itu tidak selamanya, hanya lima tahun.

Gaya hidup mewah, bagi Aus, akan membawa dampak buruk bila nanti sudah tak lagi menjadi anggota Dewan. "Bisa-bisa ter-kena post power syndrome," canda Aus.

Sebagai anggota Dewan, Aus memiliki kewajiban untuk melaporkan kekayaannya ke KPK. Ia menyebutkan kekayaannya berjumlah Rp 500 juta. Meliputi sebuah rumah dan sebuah mobil.

Aus mengatakan penghasilan sebagai anggota DPR lebih banyak disumbangkan ke partai. Setiap bulan hampir sepertiga gajinya diberikan kepada partai dan fraksi. Namun ia enggan mengungkapkan besarannya. "Wah nggak enak kalau disebutin angkanya. Yang penting lumayanlah," kata Aus.

Setiap bulan, anggota DPR memperoleh gaji Rp 64,8 juta. Jadi besarnya iuran yang dikeluarkan Aus untuk partai dan fraksi sekitar Rp 20 juta.

Aus tak mempersoalkan sepertiga gajinya harus diserahkan ke partai. Sebab, dia merasa tak perlu mengeluarkan uang banyak saat menjadi calon legislatif (caleg). Saat itu, dia justru banyak menerima sumbangan dari kader-kader di bawah.

"Karena sekarang sudah jadi anggota DPR, maka harus membantu kader yang ada di bawah. Jadi saling gantian bantulah," katanya.

Sebelum menjadi anggota Dewan, Aus menjalankan bisnis multi level marketing (MLM). Usaha dijalaninya sejak 2003. Penghasilannya sudah mencapai Rp 20 juta setiap bulan.

Namun sejak duduk di DPR penghasilannya turun. Sebab waktunya banyak tersita untuk kegiatan-kegiatan di Senayan. Akibatnya, dia tak bisa mengembangkan bisnisnya itu.

Kegiatan di Komisi II memang cukup padat. Tapi, Aus bersyukur ditempatkan di komisi ini karena tak banyak godaannya.

"Ada ungkapan bahwa Komisi II merupakan komisi air mata," ujar Aus bercanda.

Walaupun kegiatannya di Senayan sering sampai malam. Aus selalu menyempatkan untuk pulang ke rumah dan bertemu keluarga. Bila sudah tidak ada acara di DPR, Aus pulang setelah shalat Maghrib.

Dari DPR dia naik ojek menuju halte busway Ratu Plaza. Perjalanan selanjutnya ditempuh dengan bus Transjakarta menuju terminal Blok M. Dari sini, dia menumpang Metro Mini ke Pasar Minggu.

Dari terminal Pasar Minggu dilanjutkan naik ojek menuju rumahnya Cimanggis, Depok. "Paling telat sampai rumah jam setengah sembilan malam. Kalau malam kan lancar, jadi bisa cepat sampai rumah," katanya.

Ketika naik kendaraan umum. Aus menyembunyikan jas yang menjadi pakaian sehari-hari anggota DPR ke dalam tas. Ia hanya mengenakan kemeja lengan pendek, celana bahan dan sepatu kerja.

"Orang-orang yang naik Metro Mini bareng saya tidak ada yangtahu kalau saya anggota DPR. Apalagi saya tidak terkenal. Jadi saya tenang saja," ujar Aus sambil terkekeh-kekeh.

Pergi naik kereta dan pulang naik bus ini merupakan aktivitas

Aus selama DPR dalam masa sidang. Ketika masa reses, seperti anggota Dewan lainnya, Aus berkunjung ke daerah pemilihannya untuk bertemu konstituen. Aus menjadi anggota DPR daridaerah pemilihan Kalimantan Timur.

"Saya baru aktif lagi di DPR setelah reses," katanya. Rencananya, DPR kembali bersidang pada 9 Januari mendatang.(islamedia.web.id)


Gonjang-ganjing reshuffle kabinet banyak mendapatkan sorotan media akhir-akhir ini. Banyak media menilai PKS emosional mensikapi reshuffle ini lantaran seorang menterinya terkena dampak, harus meninggalkan kursi kementrian untuk diganti personal lain. Benarkah ada sikap emosional menghadapi reshuffle tersebut, dan bagaimana sikap Menteri yang terkena reshuffle ?

Menteri dari PKS yang terkena reshuffle itu adalah Suharna Surapranata. Apakah ia emosional menghadapi peristiwa ini ? Ah, berlebihan pertanyaan itu. Kang Harna, panggilan akrab sang menteri, ternyata biasa saja. Bersikap sangat arif dan tenang, sama sekali tidak ada kesan emosional.

Belum Pengumuman, Sudah Berpamitan

Bagi banyak kalangan, jabatan menteri dianggap sebagai sebuah posisi yang prestis dan terhormat, maka banyak orang berebut mendapatkannya. Oleh karena itu, bagi sebagian menteri, reshuffle sungguh merupakan tamparan dan menjadi momok yang sangat menakutkan. Namun tidak demikian dengan Kang Harna. Mantan Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS ini menganggap posisi menteri adalah amanah dakwah. Maka sebagai bagian utuh dari proses dakwah, ia siap ditempatkan dimanapun pos-pos yang bisa menjadi lahan baginya untuk berkontribusi secara optimal.

Begitu isu reshuffle sudah kian menghangat, dan sudah ada isyarat dari Istana Negara bahwa dirinya akan diganti, ia langsung menyiapkan segala sesuatu. Selasa pagi, 18 Oktober 2011, Kang Harna memimpin Rapim Menristek yang dihadiri para pejabat di lingkungan Kementrian. Pada Rapim tersebut, Kang Harna menyampaikan bahwa dirinya akan segera diganti oleh personal lain yang akan ditunjuk oleh Presiden SBY. Oleh karena itu Kang Harna menyampaikan kalimat pamitan dan beberapa pesan.

Tentu saja pernyataan tersebut sangat mengejutkan para pejabat di lingkungan kementrian Ristek, karena belum ada pengumuman resmi dari Presiden SBY terkait reshuffle. Banyak kalangan pejabat di kementrian yang merasa tidak percaya atas informasi tersebut. Selama ini hubungan sang menteri maupun kementrian Ristek dengan Presiden SBY baik-baik saja, tidak ada masalah atau kasus apapun yang layak dipersoalkan. Bahkan ada banyak kemajuan serta prestasi di Kementrian Ristek selama dipimpin Kang Harna.

Apalagi jika dibandingkan dengan beberapa kementrian lainnya yang tengah ada kasus, atau mendapatkan “raport merah” dari UKP4, atau ada masalah dengan laporan keuangan kementrian. Justru Kementrian Ristek posisinya aman-aman saja, bahkan mendapatkan nilai bagus, maka pernyataan pamit Kang Harna sangat mengejutkan para pejabat dan staf di lingkungan Kementrian Ristek.

Bukan hanya pamitan di forum resmi tersebut, namun Kang Harna juga mengunjungi seluruh lantai dan memasuki ruangan-ruangan untuk menyapa sekaligus berpamitan dengan para pegawai di lingkungan kementrian Ristek. Benar-benar kejutan, karena tidak menyangka Kang Harna menyapa mereka dan berdialog dengan para staf, sekaligus berpamitan. Kang Harna sudah pamit padahal reshuffle belum diumumkan SBY, sehingga belum ada kepastian apakah Menristek diganti atau tidak.

Para pegawai di lingkungan Kementrian Ristek memanfaatkan momentum itu untuk bersalaman dan berpotret bersama sang Menteri. Ya, Menteri Ristek di hari terakhir pengabdiannya. Sebagian pegawai bahkan terharu dan meneteskan air mata karena tidak menyangka Kang Harna akan segera meninggalkan mereka.

Usai mengungkapkan pamit, Kang Harna menyampaikan beberapa pesan kepada para pejabat dan staf di lingkungan Kementrian Ristek, bahwa jabatan itu hanya amanah yang setiap saat bisa selesai. Beliau mengatakan reshuffle Menristek itu hanya pindah nakhoda, karena semuanya sudah tersedia, seperti undang-undang, visi, misi kementrian dan perangkat lainnya. Untuk itulah Kang Harna meminta semua pejabat dan staf bekerja semakin profesional bersama menteri baru nantinya.

Telah Selesai Berkemas

Sesungguhnya, semenjak isu reshuffle bergulir, Kang Harna sudah memerintahkan kepada para staf khusus beliau untuk segera berkemas. Demikianlah Kang Harna menyikapi setiap ada isu reshuffle. Seakan sudah memastikan bahwa dirinya yang akan terkena. Hal sama beliau lakukan saat ada isu reshuffle setahun yang lalu, beliau sudah memerintahkan staf untuk berkemas. Namun ternyata waktu itu tidak jadi ada reshuffle.

Para staf segera melakukan perapihan di kantor Kementrian Ristek, dengan memilah barang-barang. Kang Harna berpesan agar cermat dalam melakukan packing. Jangan ada barang kementrian yang terbawa, dan jangan ada barang pribadi yang tertinggal. Hingga hari Senin 17 Oktober 2011, packing sudah selesai dilakukan oleh para staf. Barang-barang sudah dikemas dengan rapi dan tinggal membawa pergi.

Pulang Dengan Mobil Pribadi

Usai berpamitan dan berpesan dengan pejabat dan staf di lingkungan Kementrian, Kang Harna pun pulang. Luar biasa, siang itu, Selasa 18 Oktober 2011, beliau pulang mengendarai mobil pribadi. Mobil dinas Menristek beliau parkir di kantor, kunci serta seluruh perlengkapan mobil sudah dititipkan kepada pegawai yang berwenang.

Para pejabat yang melepas beliau semakin heran. Seseorang bertanya, “Mengapa tidak menggunakan mobil menteri?” Kang Harna menjawab, “Saya sudah pamitan. Itu jatah mobil menteri baru nanti”, jawab beliau.

Sebuah keteladanan yang luar biasa. Betapa banyak pejabat yang ingin selalu menikmati bahkan memiliki fasilitas dinas. Kalau perlu tidak dikembalikan, walaupun tidak lagi menjabat. Tidak demikian dengan kader senior PKS ini. Kang Harna memberikan contoh perilaku politik yang santun, beradab dan bertanggung jawab. Kang Harna simbol kesalihan seorang pejabat negera setingkat menteri.

Tidak perlu menunggu pengumuman resmi. Beliau sudah berpamitan. Beliau sudah mengemas semua barang. Beliau sudah menyerahkan mobil kementrian. Maka, siang hari itu, sejarah perpolitikan di Indonesia mencatat, seorang Menteri yang menuntaskan pekerjaan di hari terakhir tugasnya, dengan sempurna.

Luar biasa. Sikap konsistensi kepada keyakinan, sikap kesederhanaan, sikap kehati-hatian telah dicontohkan. Sejarah perpolitikan Indonesia harus mencatat peristiwa ini, sebagai pelajaran bagi seluruh pejabat di republik ini.

Mengembalikan Rumah Dinas

Kemana Kang Harna setelah selesai pamitan di Kantor Kementrian Ristek ? Selasa siang itu, 18 Oktober 2011, dengan menggunakan mobil pribadinya, Kang Harna langsung menuju rumah Dinas Menristek. Beliau meneliti kondisi rumah, dan memastikan bahwa rumah dinas tersebut sudah berada dalam kondisi rapi. Beliau memasuki rumah dan melihat semua bagian dan ruangan dengan detail. Jangan ada barang-barang milik dinas yang terbawa, dan jangan ada barang milik beliau yang tertinggal.

Setelah memastikan bahwa semua sudah beres dan rapi, beliaupun meninggalkan rumah dinas Menristek. Beliau ingin memastikan bahwa rumah dinas tersebut besok pagi sudah siap ditempati Menristek yang baru. Luar biasa, sebuah sikap kesederhanaan dan kehati-hatian yang pantas diteladani oleh semua masyarakat dan bangsa, khususnya bagi para pejabat negara.

Lagi-lagi, sejarah perpolitikan di Indonesia harus mengabadikan peristiwa ini. Sebuah pendidikan politik bagi para pejabat di seluruh level, agar bersikap profesional, sederhana dan bersahaja.

Mengganti KTP

Masih ada yang kurang, siang itu. Usai meneliti rumah dinas, Kang Harna segera meluncur ke Kantor Kelurahan. Apa yang beliau lakukan ? Ternyata beliau mengurus pergantian KTP.

Dalam KTP yang beliau miliki selama menjabat menjadi Menristek, tertulis identitas “Menteri” di KTP tersebut. Maka Kang Harna ingin semua selesai pada hari itu pula, Selasa 18 Oktober 2011, sebelum ada pengumuman resmi reshuffle kabinet. Beliau meminta agar dibuatkan KTP baru dengan identitas yang baru pula, karena besok pagi beliau sudah bukan Menteri.

Lega. Kang Harna menyelesaikan pembuatan KTP baru. Apa yang berbeda dari KTP tersebut ? Kalau semula tertulis identitas “Menteri” pada KTP beliau, sekarang tertulis “Wiraswasta” pada KTP yang baru.

Lagi-lagi, luar biasa Menteri yang satu ini. Perjalanan panjang dalam gerakan dakwah telah membentuknya memiliki karakter yang mulia. Beliau tidak ingin ada pemalsuan identitas. Beliau bukan lagi menteri, besok pagi. Maka tidak layak memiliki KTP yang bertuliskan identitas “Menteri”. Beliau ingin tampil dengan identitasnya yang asli, “Wiraswasta”. Bukan “Mantan Menteri”.
 
Jam 13.00 Sudah Selesai Semuanya

Ya, jam 13.00 wib hari Selasa 18 Oktober 2011, sudah selesai semua urusan Kang Harna. Sudah berpamitan dan memberi pesan di Kementrian Ristek. Sudah mengembalikan mobil dinas. Sudah meninggalkan dan merapikan rumah dinas. Sudah mengganti identitas di KTP. Lega, semua urusan sudah dibereskan. Rasanya tidak ada yang tersisa.

Masyaallah. Pengumuman reshuffle belum disampaikan. Belum ada kepastian apakah Kang Harna akan jadi diganti atau tidak. Namun semua urusan sudah dibereskan. Jika nanti malam Presiden SBY mengumumkan kabinet baru, dan ternyata dirinya benar-benar diganti, maka ia sudah menuntaskan seluruh urusannya. Tidak ada lagi yang menjadi bebannya.

Keluarga Menyambut Gembira

Kang Harna memang sudah dihubungi oleh Mensesneg Sudi Silalahi, yang menyampaikan pesan dari Presiden SBY bahwa dirinya akan diganti. Ia menerima pesan itu dengan perasaan “legowo”, tidak melakukan “pemberontakan” atau “perlawanan”. Misalnya dengan membuat pernyataan di media yang menyatakan bahwa dirinya dizalimi atau tidak terima kalau diganti, atau semacam itu. Tidak, sama sekali tidak.

Kang Harna justru mengirim kabar itu melalui sms kepada anak-anak beliau. Apa respon anak-anak atas berita itu ?

“Alhamdulillah Abi !” ini jawaban anak pertama.

“Alhamdulillah. Berarti Abi bakal lebih sering bersama kita. Kalau begitu kita perlu syukuran !” jawab anak kedua. Ya, semua keluarga menyambut gembira.

Dua tahun menjadi Menristek, membuat Kang Harna lebih sibuk daripada sebelumnya. Jam 06.00 wib Kang Harna sudah berada di kantor Kementrian Ristek. Ya pagi-pagi sekali beliau sudah berada di kantor, bahkan sering sebelum jam 06.00 wib beliau sudah masuk kantor. Setelah itu beliau berkegiatan di dalam kantor atau berkegiatan di luar lingkungan kantor Kementrian. Sore atau malam baru pulang ke rumah dinas.

Dengan irama kesibukan seperti itu, membuat beliau semakin jarang bertemu keluarga. Beliau ingin memberikan contoh teladan bagi semua pejabat, pegawai dan staf di lingkungan Kementrian Ristek, bahwa bekerja harus bersungguh-sungguh dan penuh dedikasi. Habis menunaikan shalat Subuh beliau sudah siap pergi ke kantor. Maka, sebelum jam 06.00 beliau sudah berada di ruangan Menristek. Kadang jam 05.30 sudah berada di ruang kerja kementrian.

Maka demikian bergembira anak-anak beliau, saat mendapat kabar bahwa Kang Harna akan digeser dari Menristek dan diganti personal lain yang ditunjuk Presiden SBY. Coba perhatikan respon spontan ini, “Alhamdulillah. Berarti Abi bakal lebih sering bersama kita. Kalau begitu kita perlu syukuran !”

Benar, malam harinya, Presiden SBY mengumumkan kabinet baru hasil reshuffle. Suharna Surapranata digantikan oleh Menristek yang baru, Gusti Muhammad Hatta.

Kinerja Kementrian

Penggantian Kang Harna dari Menristek sudah pasti bukan karena kinerja. Karena berdasarkan penilaian Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) dan BPK, kinerja Menristek diakui bagus. Bahkan laporan keuangan Kementrian dibawah Kang Harna dinyatakan WTP selama dua tahun berturut-turut, maka renumerasi Kemenristek dipercepat tahun ini.

Nilai “Wajar Tanpa Pengecualian” (WTP) adalah opini audit atas laporan keuangan yang paling bagus atau menempati posisi paling atas. Opini audit lainnya adalah “Wajar Dengan Pengecualian” (Qualified Opinion), “Tidak Memberikan Pendapat” (Disclaimer) dan “Tidak Wajar” (Adverse). Maka dengan melihat hasil penilaian UKP4 serta nilai WTP selama dua tahun di bawah kepemimpinan Kang Harna, menandakan kinerja Menristek tidak ada masalah.

Maka tatkala Presiden SBY mengumumkan kabinet hasil Reshuffle, dan ternyata Kang Harna keluar dari jajaran kementrian, publik layak bertanya, atas dasar apa pergantian itu ? “Sudahlah, tidak perlu diperdalam. Ini sudah terjadi”, jawab Kang Harna.

Seperti yang ditulis Kompas, “Kendati tak mengetahui alasan pasti terkait pencopotannya, mantan Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata mengaku legawa. Tak lupa, politisi Partai Keadilan Sejahtera ini mengucapkan syukur karena telah memiliki kesempatan mengabdi kepada negara”.

"Saya juga merasa bersyukur bisa membantu Presiden selama dua tahun ini," kata Suharna kepada para wartawan di sela-sela upacara pelantikan menteri dan wakil menteri di Istana Negara, Jakarta, Rabu (19/10/2011).

Ketika ditanya lebih rinci terkait detik-detik pencopotannya, Suharna enggan menceritakannya. Pencopotannya dipandang hak prerogatif Presiden sepenuhnya. Dirinya hanya mengaku menerima telepon dari Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi.

"Sudahlah. Saya kira ini tidak perlu diperdalam. Ini sudah terjadi," ujarnya singkat.

Suharna mengatakan, selepas menjadi menteri, dirinya ingin kembali ke PKS dan membangun partai. Pencopotan Suharna yang secara resmi disampaikan Presiden di Istana Merdeka, Selasa (18/10/2011), turut mengurangi jatah kursi menteri partai dakwah tersebut. Demikian ulasan Kompas.

Bahkan, saat acara serah terima jabatan Menristek di kantor Kementrian, Kang Harna menyampaikan, “Saya pinjam pantun Pak Tifatul. Ayu Ting Ting naik Kopaja, yang penting kita tetap bekerja.” Itulah slogan yang sangat nyata. Dimanapun Kang Harna, pasti akan terus bekerja untuk masyarakat, bangsa dan negara.

Kang Harna di Mata Saya

Beliau orang yang ramah, santun dan bersahaja. Beliau salah seorang jajaran qiyadah dakwah yang memberikan contoh konsistensi dalam kehidupan. Kader senior dakwah yang menapaki jalan panjang dan terjal, menghantarkan dakwah dari ruang-ruang tertutup menuju ruang-ruang kenegaraan. Dan beliau sendiri mencontohkan bagaimana sikap seorang negarawan.

Beliau tidak pernah berambisi jabatan apapun, baik dalam organisasi maupun dalam jabatan publik. Saat beliau mendapatkan amanah menjadi salah seorang calon menteri yang diusulkan oleh PKS, kami semua mengetahui bahwa beliau keberatan dengan posisi itu. Beliau merasa ada lebih banyak kader dakwah yang tepat pada posisi kementrian. Namun, beliau juga memberikan contoh bahwa amanah harus dilaksanakan dengan segenap kemampuan.

Itulah yang sering saya katakan, “Posisi-posisi dalam dakwah ini datang dan pergi. Bisa datang, bisa pergi, bisa kembali lagi, bisa pula tidak pernah kembali. Bisa ‘iya’ bisa ‘tidak’. Iya menjadi pengurus, pejabat, pemimpin dan semacam itu; atau tidak menjadi pengurus, tidak menjadi pejabat, tidak menjadi pemimpin, tidak menjadi apapun yang bisa disebut”.

Kang Harna telah memberikan contoh kepada kita. Beliau tetap bekerja, dimanapun berada. Beliau selalu di jalan dakwah, selalu istiqamah, saat masih duduk di bangku kuliah, saat perintisan awal dakwah, saat mengalami masa-masa pertumbuhan dakwah yang sulit, dan bahkan akhirnya menjadi pejabat negara, dan sekarang kembali lagi menjadi masyarakat biasa. “Wiraswasta”, begitu pilihan identitas di KTP-nya.
Tidak menyalahkan sana menyalahkan sini, tidak emosi karena dicopot dari menteri, justru beliau menampakkan sikap yang rendah hati.

Luar biasa. Gemblengan perjalanan dakwah puluhan tahun telah menampa Kang Harna memiliki karakter yang sangat kuat. Layak diteladani oleh para kader, tentang kesederhanaan, tentang ketekunan, tentang dedikasi, tentang konsistensi, tentang kehati-hatian, tentang kesantunan, tentang profesionalitas kerja, tentang kemampuan adaptasi di segala mihwar, tentang sikap kenegarawanan, tentang komitmen kekaderan, tentang visi yang terang benderang, tentang platform pembangunan Indonesia yang jelas.

Banyak, teramat sangat banyak yang bisa kita pelajari dari kader senior yang satu ini. Saya salah seorang kader yang merasa bangga, memiliki senior yang memberikan keteladanan mulia kepada generasi berikutnya. Semoga semakin banyak kader berkualitas Suharna Surapranata.

Oleh : Cahyadi Takariawan




jalanpanjang.web.id - Sangat banyak kader dakwah yang memiliki konsistensi melakukan khidmah melayani masyarakat dalam bidang-bidang yang spesifik. Salah satunya adalah Aryo Yudhoko, seorang kader dakwah yang konsisten menggeluti dunia buruh dengan segala permasalahannya. Aryo adalah salah satu “ikon buruh”, yang sejak awal keterlibatannya dalam dunia dakwah, ia telah meletakkan diri pada bidang ini.

Belum sempat kita semua berkenalan dengan kader yang satu ini, terlanjur Allah memanggilnya menghadap ke haribaan. Hari Kamis 15 Oktober 2011 tengah malam, Allah memanggil Aryo, di saat ia sangat lelah menyiapkan acara untuk para buruh, yaitu Jambore Buruh Nasional yang direncanakan akan dilaksanakan pada 28 Oktober 2011 mendatang. Kita semua sangat kehilangan dengan kader muda yang sangat energik untuk membina para buruh ini.

Aryo Yudhoko, Sang Pejuang Perburuhan
Aryo adalah alumnus FISIP Universitas Indonesia, sempat bekerja di Bank Muamalat dan mendirikan Serikat Pekerja di lembaga tersebut. Namun karena ingin konsentrasi melakukan advokasi terhadap hak-hak buruh, ia memilih keluar dari pekerjaan formalnya tersebut, dan totalitas terjun dalam advokasi perburuhan serta pembinaan para buruh.

Konsistensi Aryo menekuni bidang perburuhan sangat pantas mendapat acungan jempol. Ia ikut terlibat dalam kegiatan Advokasi Buruh Migran UNIMIG (Union Migrant) Indonesia, ia juga sempat menjadi Sekjen Asosiasi Pekerja (Aspek), ia juga aktif dan deklarator Serikat Pekerja Keadilan (SPK) bersama Edy Zannur dan Martri Agoeng, dan sejumlah orgnaisasi perburuhan lainnya.

Selama berkiprah dalam menangani perburuhan, ia mengembangkan komunikasi dan jaringan dengan berbagai asosiasi dan serikat buruh yang ada di Indonesia. Berbagai aktivitas bersama para buruh telah dia jalani dengan sepenuh ketekunan, walaupun kegiatan di sektor ini sering kali tidak memiliki “gebyar” sebagaimana di bidang lain. Bahkan mungkin tidak banyak mendapat perhatian publik.

Aryo Yudhoko juga aktif berkeliling Indonesia untuk menumbuhkan kepedulian para kader dakwah terhadap nasib perburuhan yang kerap dilupakan. Suatu saat Aryo menghadiri acara Temu Masyarakat Perkantoran di Aula Komplek DPR RI Kalibata Jakarta Selatan. Dalam acara tersebut Aryo menghimbau agar kader dakwah yang berprofesi sebagai pekerja di perusahaan milik negara maupun di perusahaan swasta harus peduli terhadap permasalahan buruh.

Untuk dapat mengetahui berbagai permasalahan yang di hadapi para buruh, Aryo menghimbau agar kader dakwah bergabung dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh para buruh. “Menebar kebaikan di kantor tidak hanya sebatas pengajian. Semua kegiatan yang memberikan kebaikan kepada semua orang adalah dakwah” jelas Aryo. Karenanya, ia meminta kader dakwah untuk terjun dalam aktivitas serikat pekerja, koperasi dan kegiatan keumatan.

Aryo Yudhoko juga mensosialisasikan berbagai program perburuhan, diantaranya pembinaan terhadap aktivis buruh, pemberian advokasi, pendirian cabang Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI), pelatihan penguatan keorganisasian dan kongres organisasi buruh tani dan nelayan.

Aryo juga pernah berkunjung ke wilayah Jawa Timur selama enam hari berturut-turut. Aryo didampingi  aktivis perburuhan melakukan silaturahim ke daerah Jatim yang menjadi kantong buruh, tani dan nelayan. Di antaranya adalah daerah Malang Raya, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Ngajuk, Lamongan, dan Gresik.

“Dakwah yang akan kita kembangkan adalah penyiapan dan pembekalan struktur, pembinaan dan pendampingan kaum buruh, tani, dan nelayan. Saya berpendapat bahwa mereka adalah kalangan potensial bagi Jatim yang wilayahnya notabene banyak desa dan laut,” kata Aryo saat temu kader dakwah di Surabaya.
Menurut Aryo, yang sudah digagas sampai saat ini adalah membuat jaringan buruh, tani, dan nelayan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. “Di daerah tersebut kita sudah kerap kali melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap kalangan buruh, tani, dan nelayan,” katanya. Untuk wilayah DKI, relatif sudah lebih maju dalam penggarapan kalangan buruh dibanding wilayah lainnya.

Khusus untuk buruh tingkat nasional, salah satu bentuk advokasi yang pernah dilakukan Aryo adalah bersama-sama anggota legislatif melakukan penolakan revisi UU nomer 13 tahun 2003 yang mencapai klimaksnya pada 1 Mei 2006.

Ia Ingin Pulang
Luar biasa, kader dakwah yang satu ini seperti tidak mengenal lelah. Hari-hari dipenuhi dengan berbagai kegiatan bersama buruh tani dan nelayan. Sampai kadang beberapa hari tidak sempat pulang, karena maraton dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya.

Kamis kemarin, 15 Oktober 2011, sampai dengan jam 21.00 Aryo Yudhoko masih melaksanakan rapat bersama para aktivis dakwah di Tangerang. Saat itulah Aryo mendapatkan perintah agar segera merapat ke Markaz Dakwah di Pasar Minggu, karena harus segera berkoordinasi dengan Panitia Jambore Buruh Nasional.

Begitulah Aryo Yudhoko, dari rapat di Tangerang, ia segera meluncur untuk rapat lagi di MD Building wilayah Pasar Minggu. Iapun segera datang dan melakukan rapat koordinasi untuk kegiatan Jambore Buruh Nasional. Rapat di MD Building berakhir sudah lewat dari jam 23.00 wib.

Seorang ikhwah bertanya kepada Aryo, “Antum tidak pulang malam ini?” Pertanyaan ini terlontar karena sudah beberapa malam Aryo menginap di MD Building. Aktivitas mengelola Jambore Buruh Nasional telah menguras  energinya, sampai kadang kamalaman dan memutuskan untuk tidur di Markaz Dakwah.

“Saya akan pulang malam ini”, jawab Aryo.

Namun Aryo menyempatkan diri untuk datang ke ahli refleksi di Pasar Minggu terlebih dahulu untuk menyegarkan badannya. Mungkin saat itu ia merasa sudah sangat tidak enak badan. Maka sebelum pulang ingin refleksi supaya pulang dalam kondisi lebih segar.

Kurang lebih pukul 24.00 wib, Allah memanggilnya. Di saat kelelahan puncaknya. Di saat ia ingin sejenak istirahat. Di saat rasa jenuh dan penat akibat maraton berkegiatan, dari rapat ke rapat, dari koordinasi ke koordinasi, dari advokasi ke advokasi. Semua untuk umat, semua untuk masyarakat, semua untuk buruh tani dan nelayan yang sangat dicintainya.

Aryo Yudhoko wafat pada kondisi tengah menunaikan amanah-amanah dakwah. Berhari-hari tidak pulang, tidak sempat bertemu denga isteri tercinta dan lima buah hatinya. Malam ini ia ingin pulang, sebagaimana disampaikan kepada seorang ikhwah usai rapat di MD Building.

“Saya akan pulang malam ini”.

Tapi badannya sungguh lelah. Tubuhnya sungguh gerah. berhari-hari terlibat aktivitas yang sangat padat. Menguras semua tenaga dan pikirannya. Dan ternyata ia benar-benar pulang malam itu. Benar-benar pulang.
Allah Yang Maha Pengasih, telah memanggilnya malam itu. Pulang ke haribaan-Nya.

Memang Begitulah Dakwah
Mendengar kisah menjelang wafatnya Aryo Yudhoko, saya segera teringat tausiyah ustadzuna Rahmat Abdullah, Allah yarham. Aryo menghadap Allah pada kondisi tubuhnya yang lelah didera amanah dakwah. Pikiran yang dipenuhi berbagai keinginan untuk berbuat terbaik bagi masyarakat perburuhan. Hati yang dipenuhi kecintaan tiada batas kepada jalan dakwah yang menghantarkannya pulang.

Cobalah sekali lagi kita baca tausiyah ustadz Rahmat Abdullah ini. Beribu kali saya membaca kalimat ini, rasanya tidak pernah bosan mengulangnya. Mengiring kepergian kader dakwah perburuhan, Aryo Yudhoko, kita menjadi lebih mengerti makna pesan beliau ini:

“Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai”.

“Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari”.

“Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yang diturunkan Allah”.

“Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam dua tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang”.

“Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan”.

“Tidak. Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih tragis”.

Selamat jalan, Aryo Yudhoko. Kami semua bersaksi atas kebaikan diri dan kebaikan amalmu. Bahagialah engkau di sisi TuhanMu Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

oleh Cahyadi Takariawan
Postingan Lama Beranda

Sahabat

Follow @jalanpanjangweb

Artikel Terpopuler Pekan Ini

  • Jangan Pernah Meninggalkannya
  • Jangan merasa tua untuk memulai karya
  • Lapangan Tahrir dikuasai jutaan rakyat mesir, tidak akan mundur sebelum mubarak turun
  • Ringkasan Eksekutif Platform Kebijakan Pembangunan Partai Keadilan Sejahtera
  • Dokumentasi Surat Rasulullah SAW
  • Statement Mubarak Membuat 8 Juta Demonstran Mesir Marah






Designed by JalanPanjang