• Beranda
  • Subscribe to my RSS
  • Twitter
  • FB Fan Page

.

  • Home
  • Kiprah Dakwah
    • Parlemen
    • Eksekutif
    • Teladan
    • Internasional
    • Aksi Sosial
    • Struktur
  • Kabar Dakwah
    • Internasional
    • Nasional
    • Palestina
    • Internasional
    • Bayan
    • Agenda
  • Suplemen
    • Wawasan
    • Inspirasi
    • Tokoh
    • Menjawab Fitnah
    • Pilar
  • Topik Khusus
    • Serial Cinta
    • Mavi Marmara 1
    • 2011
      • Revolusi Mesir
      • Operasi Menggoyang PKS
      • Kepergian Bunda Yoyoh
      • Kemenangan AKP Turki
    • Pilkada DKI 2012
    • Category
  • Resensi
  • Info
    • Beasiswa
    • Lowongan
    • Lomba
    • Category
  • Video
  • Opini
Tampilkan postingan dengan label Revolusi Mesir. Tampilkan semua postingan

Suara mercon terdengar di sana-sini, ketika saya keluar dari masjid, Jumat petang (11/2) ini. Langit yang gelap dihiasi oleh bunga-bunga api berwarna-warni. Terdengar siulan-siulan dan zaghrudah, mirip sebuah perayaan pernikahan. Firasat saya mengatakan ini adalah tanda sebuah pesta kemenangan.

Setengah berlari saya menuju rumah, kemudian segera menyalakan televisi. Semua breaking news-nya mengatakan: ”Mubarak telah meletakkan jabatannya”.

Maydan Tahrir dipenuhi teriakan histeris, sujud kebahagiaan, bendera-bendar Mesir dilambai-lambaikan. Hal serupa juga terlihat di Alexandria, Suez, Isma’iliyah.

Akhirnya, kesabaran para demonstran menuai hasil. Setelah melalui lebih dari dua pekan. Sejak Jum'at kelam yang menelan korban puluhan bahkan ratusan korban jiwa, ”Jum'atu al-Ghadhab” Jumat kemarahan. Kemudian, pada Jumat berikutnya yang mereka namakan ”Jum’atu ar-Rahil” Jum'at kepergian. Maka akhirnya pada Jumat ketiga yang bertajuk ”Jum'atu at-Tahaddy” (Jumat tantangan), setelah ia dan keluarganya terbang ke Syarm el-Syeikh.

Omar Sulaiman membacakan pernyataan yang sangat singkat tapi sangat ditunggu-tunggu oleh 80 juta rakyat Mesir. ”Dengan ini Presiden Mubarok secara resmi meletakkan jabatannya sebagai Presiden Republik Arab Mesir dan menyerahkan sepenuhnya urusan negara kepada Majelis Tinggi Angkatan Bersenjata”.

Saya bukan orang Mesir, tapi saya bisa merasakan kebahagiaan yang luar biasa, sebagaimana kebahagiaan orang Mesir. Tak seperti biasanya, tukang jahit di depan rumah saya segera menutup kiosnya. ”Hanahtafil” (kami akan berpesta). Ada bapak-bapak yang sehari-harinya menjadi tukang kebun, samar-samar ia mengusap dua matanya karena haru.


Di luar, suara-suara klakson mobil terdengar di mana-mana. Kali ini bukan karena kemacetan lalu-lintas, tapi karena sebuah luapan kebahagiaan. Kemenangan rakyat melawan tirani.

Sekat-sekat psikis yang selama ini mengepung rakyat kecil sekarang menjadi sirna. Ketakutan, terintimidasi, terbelenggu kebebasan berpendapat, terjerat rumitnya birokrasi keamanan, monopoli, dan berbagai modus kezhaliman yang diperankan sang penguasa selama 30 tahun terbebas.

Sore ini, malam ini bersama tenggelamnya matahari, tenggelam pula lah arogansi Sang Penguasa. Doa-doa sang mazhlum petang ini dikabulkan Allah. Setelah perjuangan panjang. Bermalam-malam di Tahrir melawan lapar dan dingin. Melewati hari mengerikan, pertempuran dengan polisi, scenario perang sipil dengan para pendemo palsu yang mendukung penguasa.

Mimbar-mimbar Jumat yang pekan lalu digunakan sebagai corong menyerang demonstran pro reformasi, kali ini, siang tadi sama sekali tak berani melawan arus. Karena sejak Selasa lalu bahkan puncaknya Kamis kemarin saat bukan hanya para pemuda yang dijuluki dengan ”generasi facebook” didukung oleh ikatan guru, para praktisi hukum, buruh, teknokrat, dan berbagai kekuatan-kekuatan sosial lainnya menyatakan satu tuntutan bulat: hengkangnya Mubarok!

Rupanya, transkrip lengkap pidato Mubarok tadi malam yang tak mau mundur --sebagaimana dinukil lengkap oleh koran el-Akhbar-- rupanya menyulut kemarahan yang sangat luar biasa bagi rakyat Mesir.

Sebelumnya, tak ada tanda-tanda bahwa ia akan mundur. Tapi belum sampai 20 jam dari pidatonya semalam, ia pun akhirnya mengibarkan bendera putih dan harus mengatakan bahwa rakyat menang.

Entahlah, apakah karena kurang punya nyali, pernyataan mundurnya dibacakan oleh Wakil Presiden, Omar Suleiman yang baru berumur dua pekan.

"Atas nama Allah yang Maha Penyayang, dalam situasi yang sangat sulit yang dihadapi Mesir, Presiden Husni Mubarak memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai presiden republik dan menunjuk Dewan Militer untuk menjalan tugas-tugas negara," kata Suleiman. "Semoga Allah membantu kita semua," ujar Suleiman.

Pengumuman yang disampaikan lewat televisi itu disambut meriah oleh massa di mana-mana, termasuk yang masih berdemonstrasi di Lapangan Tahrir dan kota-kota lain, seperti di Iskandariah.

"Rakyat telah menumbangkan rezim," teriak mereka. Mereka bersorak-sorai dan melambaikan bendera Mesir.

Di jalan-jalan Kairo, para pengemudi membunyikan klakson untuk merayakan pengunduran diri Mubarak. Terdengar juga tembakan. Ratusan ribu massa yang tumpah ke Lapangan Tahrir untuk semula mengadakan demonstrasi lanjutkan, kini bersorak gembira.

Kabarnya, setelah pengumuman ini, Mubarak tak jelas keberadaannya.

Andai ia mau mengalah sejak tanggal 25 Januari…, andai ia mau mengalah sejak tanggal 28 Januari… yang menjadikan malam kelam di Mesir, atau bahkan mau mengalah tanggal 4 Februari… ceritanya akan lain. Rakyat Mesir, mungkin masih mau memaafkannya.

”Sekarang terlambat,” demikianlah kata sebagian rakyat Mesir.

Tapi biarlah malam ini rakyat berpesta. Orang-orang shalih dan terzhalimi bersyukur pada Tuhannya. Rakyat-rakyat miskin meluapkan kebahagiaannya dengan caranya sendiri.

”Saya tak tahu harus berkata apa lagi kepada pemirsa dan Anda,” kata seorang presenter TV al-Arabiyah, seolah kehilangan kata-kata.

Meski bukan orang Mesir, saya bersyukur dan berterima kasih pada Allah azza wa jalla, bisa merasakan aura kebahagiaan rakyat Mesir. Mudah-mudahan berita-berita baik lainnya bagi mereka terus susul-menyusul. "Waj'alna min ibadika ash-shalihin."




Laporan Pandangan Mata
Reporter: Saiful Bahri
SUARA suara mercon

sumber: hidayatullah.com

Mesir, Jum'at (11/2) petang, Presiden Husni Mubarak akhirnya mengundurkan diri. Setelah akhsi demonstrasi rakyat mesir selama 18 hari yang menewaskan lebih dari 300 orang dan melukai ribuan lainnya.

Pengunduran diri Mubarak disampaikan Wakil Presiden Omar Sulaiman melalui pernyataan yang disiarkan langsung televisi nasional Mesir.Rakyat sontak menyambutnya dengan gegap gempita, jutaan rakyat Mesir yang tersebar di jalan-jalan kota Mesir bahkan sampai di luar Mesir" Rakyat telah mnumbangkan rezim, rakyat telah menumbangkan rezim" teriakan massa yang berulang-ulang terdengar di Alun-alun Tahrir, tempat yang menjadi pusat revolusi sejak 25 Januari lalu.

Takbir bergema di seantero Mesir, rakyat melambai-lambaikan bendera-bendera Mesir sebagai luapan perasaan suka cita yang luar biasa. Laporan wartawan Al Jazeer dari alun-alun Tahrir mengatakan "Saya belum pernah melihat hal seceria ini. Warga saling menyiramkan air dan terbenam dalam suasana kebahagiaan".

Seorang warga yang juga diwawancarai berbicara kelu karena tak bisa menahan tangis kebahagiaan."Akhirnya saya mendapatkan momentum ini" kata seorang perempuan.

Revolusi Mesir dengan kemenangan rakyat Mesir menandai lahirnya sebuah perubahan didunia arab dan dunia. Sebuah tsunami kebangkitan rakyat melawankediktatoran, bahkan Amerika maupun Israel tidak dapat membendungnya. Sebuah peristiwa besar dalam sejarah di Abad 21 ini, baru kali ini rezim di Mesir, negara para Fir'aun terguling oleh rakyat karena selama ini rezim tumbang karena rezim berikutnya. Selamat buat Rakyat Mesir, sejarah baru kembali dirangkai "Mabruk wa Alfu Mabruk".
Sumber : Kompas,Al Jazeera


Sejumlah besar Demonstran Anti Mubarak telah mengepung Istana Presiden, Radio negara dan bangunan televisi di Kairo 

Menurut koresponden Press TV, militer telah mengerahkan penembak jitu di sekitar istana yang ditempatkan di atap gedung.
Langkah itu diambil setelah pengunjuk rasa mulai berkumpul di luar istana presiden sesusai mengikuti shalat jum'at
 
Para demonstran telah membentuk barikade manusia di seluruh gedung, memblokir semua pintu masuk dan keluar.
Sementara itu
kerumunan besar demonstran pro-demokrasi sudah berkumpul di alun-alun  tahrir kairo. Lebih dari satu juta demonstran melakukan shalat Jum'at di sana
Para pengunjuk rasa di Lapangan tahrir terus meneriakkan, "Tinggalkan, tinggalkan Mubarak, Suleiman," "Tidak untuk Mubarak. Tidak untuk Suleiman," dan "pemogokan sampai tidak akan berhenti sampai runtuhnya Mubarak," koresponden Press TV.
Di tempat lain di Mesir, lebih dari satu juta demonstran pro-demokrasi telah berada di jalan-jalan Alexandria.
Presiden Mesir Hosni Mubarak, yang sekali lagi telah menantang panggilan untuk mundur dalam pidato televisi Kamis malam, bahkan mulai meningkatkan tekanan terhadap para demonstran yang selama ini mencoba berjalan damai  di seluruh negeri.
Dalam pidatonya, Mubarak mengatakan ia tidak akan menerima apa yang ia sebut "tekanan asing" dan mengatakan bahwa ia akan mendelegasikan sebagian kekuasaannya kepada Wakil Presiden Omar Suleiman.
Suleiman juga muncul di televisi negara, memuji Mubarak dan mendesak demonstran untuk pulang.  pidato Mubarak memicu kemarahan para demonstran.

Dalam pernyataannya yang disiarkan di televisi negara, Dewan Tertinggi Komando Militer memperingatkan terhadap segala ancaman terhadap keamanan nasional Mesir.
Militer juga mengatakan akan menjaga demonstran dan menjamin pelaksanaan perubahan yang diperlukan.
Militerjuga berjanji mengadakan pemilihan umum yang bebas dan adil tetapi tidak menetapkan tanggal spesifik untuk pemilu.
Pernyataan Militer yang mendukung statement reformasi yang direncanakan Presiden Mubarak membuat pengunjuk rasa menjadi bertambah marah

Para pemimpin dunia telah bereaksi terhadap pernyataan Mubarak yang menilak untuk mundur  PBB menyerukan agar proses transisi mesir berjalan damai
 
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengatakan aspirasi sah rakyat Mesir harus dipenuhi dan PBB siap membantu Mesir dalam proses tarnsisi
. Obama mengatakan Kairo harus memulai jalan yang jelas menuju demokrasi.
 
 Uni Eropa dipimpin oleh Inggris, Perancis dan Jerman juga menyerukan perubahan di Mesir.
Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle mengatakan pidato Mubarak telah menunjukkan bahwa Mubarak telah meninggalkan rakyatnya yang memantik kepedulian internasional
Lebih dari 300 orang telah tewas dan ribuan lainnya terluka selama-protes pro demokrasi di Mesir.
Sumber: Press TV
Fito ; Al jazeera English 


Di Taman Tahrir, atmosfer tampak rileks. Para demonstran mendirikan barisan penjagaan sendiri setelah penjagaan militer. Mereka memeriksa tanda pengenal dan tas warga. Banyak warga yang datang ke Taman Tahrir membawa roti, air, buah-buah, dan logistik lainnya.

Antrian panjang warga tampak menuju meja-meja yang membagikan teh dan roti. Di beberapa titik juga didirikan klinik tenda, yang terletak di jalan masuk toko-toko. Salah satunya di depan restoran cepat saji KFC. Di sini, tampak seorang pria menerima suntikan di lengannya. Di atas tenda terpampang tanda bulan sabit dan palang merah.

Lapangan Tahrir dan jalan-jalan utama di ibu kota Kairo pada Jumat petang praktis dikuasai pendukung pro-demokrasi setelah sekitar satu juta pendukung oposisi shalat Jumat di bundaran lapangan tersohor itu.

Shalat Jumat di Bundaran Tahrir ini merupakan pertama kali sejak unjuk rasa pertama pada 24 Januari lalu, wartawan ANTARA Munawar Saman Makyanie melaporkan.

Jumat (28/1) sebelumnya, para pengunjuk rasa shalat Jumat di masjid-masjid kemudian berbondong-bondong menuju Tahrir.

Selain di ibu kota Kairo, shalat Jumat di lapangan juga dilakukan pengunjuk rasa di berbagai provinsi seperti Iskandariyah, Suez, Asiut, Port Said dan Zakazik.

Mobil-mobil membunyikan klakson layaknya merayakan suatu kemenangan sambil mengibarkan bendera nasional negeri Piramida itu.

Banyak tokoh masyarakat, cendekiawan, artis, pengacara dan warga berbagai kalangan berbondong-bondong ke Tahrir dan sekitarnya.

Sementara pendukung Mubarak tidak tampak lagi setelah mereka muncul beberapa saat di sekitar Tahrir pada pagi hari namun dihalau keluar oleh tentara.

Para pengunjuk rasa pro-demokrasi yang memasuki Bundaran Tahrir diperiksa identitas mereka oleh militer untuk memastikan tidak ada provokator.

Tampak banyak orang tua membawa serta anak-anak mereka di Tahrir.

Seusai shalat Jumat, jamaah langsung meneriakkan yel-yel "rahil-rahil" (pergi, pergi), maksudnya agar Presiden Hosni Mubarak pergi meninggalkan Mesir seperti dilakukan timpalannya, Presiden Tunisia Zine Al Abidin Bin Ali yang mengasingkan diri ke Arab Saudi.

Para wartawan juga sudah diizinkan masuk ke Tahrir seusai shalat Jumat setelah pada pagi harinya sempat dihambat oleh tentara.

Militer telah berulang kali mengatakan tidak akan mengambil tindakan tegas terhadap pengunjuk rasa.

Kepolisian saat ini belum berfungsi sejak Jumat (28/1) dan keamanan diambil alih oleh militer.  


Sumber ; antaranews.com, republika.co.id, foto ; bbc
 
Ketua Persatuan Ulama Muslimin Internasional, Dr. Yusuf al-Qardhawi menyerukan seluruh komponen rakyat Mesir untuk bergabung dengan pengunjuk rasa di Lapangan Tahrir Kairo untuk mengobati luka parapengunjuk rasa. Beliau juga menyerukan pada pihak militer untuk campur tangan dalam melindungi rakyat dari kelompok penyerang yang selalu mengintai, yang diistilahkan oleh Qardhawi- sebagai upaya presiden Mesir untuk ‘mulai membantai rakyatnya’

Qardhawi – melalui wawancara stasiun Al-Jazeera – menyerukan kepada para pemuda yang berpartisipasi dalam demonstrasi untuk tetap teguh dan tidak meninggalkan tempat demonstrasi, serta mendorong mereka untuk terus melakukannya. Qardhawi  mengatakan : Sesungguhnya mereka –para demonstran – ada dalam dua pilihan : antara hidup mulia dan bahagia atau mati sebagai syuhada".  Dr Qardhawi juga mengajak pada kekuatan politik di Mesir untuk berdiri satu barisan mendukung dan menolong para pemuda tersebut. 

Qardhawi menegaskan bahwa para politisi jangan sampai berselisih dalam masalah ini, tapi  wajib bagi mereka untuk bersepakat  dan harus mengakui bahwa para pemuda demonstran itulah pemimpin mereka.Semua politisi hendaknya  mengikuti pendapat dan pikiran para pemuda, karena mereka telah menjadi pemimpin karena darah mereka yang tumpah, ,bukan karena hanya sekedar berkata-kata saja."

Qardhawi mengomentari bentrokan yang berlangsung antara pendukung dan penentang Mubarak di Lapangan Tahrir dengan mengibaratkan bahwa Presiden Mesir "mulai membantai bangsa sendiri". Ia pun  bertanya, "Bagaimana mungkin Mubarak  mengatakan mencintai rakyatnya sementara pada saat yang sama ia  mulai membantainya ?  Dan bagaimana mungkin ia mengadu satu kelompok dengan kelompok yang lain, seperti yang dilakukan Firaun kepada kaum Musa ?"

Qaradawi  menambahkan  - dan ia menujukan kepada Mubarok -  "haram  bagi Anda membunuh rakyat Anda," ia juga  mengingatkan Mubarok bahaya sebuah kezaliman dan ketidakadilan.

Beliau juga meminta lembaga-lembaga Islam,  baik skala Arab maupun internasional untuk turun tangan melindungi rakyat Mesir dari ketidakadilan dan penindasan.

Qaradhawi menyerukan kepada para khotib,  imam , dokter,  wartawan dan yang lainnya untuk mendukung para pemuda  demonstran di Mesir, dan untuk turun ke jalan bersama  mereka pada hari Jumat besok.

Beliau mengakhiri  wawancara dengan berdoa dan berharap penuh kepada Allah SWT agar memperteguh kekuatan mereka para pemuda ,  menolong mereka dari kezaliman dan penindasan, dan menghabisi kekuatan musuh – musuh mereka dengan sebenar-benarnya"

Kewajiban agama Al-Qaradawi mengeluarkan sebuab pernyataan  yang didalamnya, menyerukan warga mesir  untuk bergabung bersama pengunjuk rasa telah direncanakan besok dalam "Aksi Jumat Pamungkas", untuk meningkatkan tekanan terhadap Mubarak, yang telah kehilangan legitimasinya syar’i sebagai seorang pemimpin. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa "turun ke jalan - terutama pada hari Jumat - untuk berpartisipasi dalam protes tersebut, merupakan dan kewajiban syar’I bagi mereka semua yang dapat memperoleh akses ke tempat-tempat demonstrasi, dan tidak punya udzur yang menghalangi ...".

(diterjemahkan oleh Hatta Syamsudin dari aljazeera.net)
Islamedia.web.id
foto : al jazeera

Mesir Berdarah, Tiba-tiba saja demonstran anti Mubarak di serang oleh massa demonstran pro Mubarak. Lapangan Tahrir, Kairo seolah berubah menjadi medan perang. Situasi menjadi tidak seimbang ketika massa Pro Mubarak melempari Demonstran Anti Mubarak dengan benda-benda berbahaya, seolah sudah disiapkan untuk memberangus demonstran anti mubarak.

Sangat aneh ketika Demonstran pro Mubarak kemudian menembakkan gas air mata, alat yang biasanya hanya dimiliki polisi untuk mengatasi huru hara. Sehingga spekulasi bahwa demonstran pro Mubark adalah polisi yang tidak memakai seragam. Hal ini dikuatkan ketika demonstran anti Mubarak menangkap seorang demonstran yang menyerang mereka, didapati memiliki id seorang berpangkt perwira Polisi.

Situasi menjadi semakin mencekam ketika demonstran anti mubarak dilempari bom molotov dari atas apartemen, serangan sungguh sangat terencana, dari depan diserang dengan lemparan batu, pecahan kaca, disebutkan juga pada awal serangan demonstran pro mubarak menembakkan sesuatu yang dapat membakar, kemudian dari atas dilempari molotov, bahkan terdengar juga tembakan senjata api.

Ratusan orang terluka, dan puluhan korban jiwa mulai berjatuhan, diperparah dengan tidak adanya militer yang turun mengendalikan situasi, Demonstran anti Mubarak memang tidak siap untuk aksi berdarah seperti ini, mereka tidak membawa senjata atau alat embelaan diri yang lainnya. Sedangkan massa pro Mubarak nampak sangat siap untuk menyerang, dnegan perlengkapan dan skenario untuk memberangus masa anti Mubarak. Dari wawancara al jazeera diketahui bahwa masa pro mubarak adalah polisi dan preman yang memang sengaja diutus untuk membantai masa anti Mubarak.

Sumber : siaran langsung al jazeera



Situs ikhwan.online memperkirakan bahwa semua orang yang turun ke jalan menuntut turunnya rezim Mubarak di seluruh kota Mesir jika ditotal berjumlah 8 juta orang.
Di Tahrir Square saja, yang menjadi pusat demonstrasi tidak kurang dari 2 juta orang. Sehingga dikabarkan bahwa tempat yang asalnya sangat luas tersebut kini sangat sesak oleh lautan manusia.
Syekh Salman Audah dalam situsnya Islamtoday.net menyatakan bahwa aksi rakyat Mesir ini lebih jelas dari berbagai ceramah dan tulisan tentang keinginan mereka.
Koalisi hingga kini menolak melakukan negoisasi dengan pemerintah sebelum Mubarak dan seluruh kroninya sebelum mereka menyatakan mundur dari jabatannya.
Tepat pukul 23.00 waktu setempat, seperti dilansir Al jazeera Hosni Mubarak tampil di layar televisi dan memastikan bahwa ia tidak akan mundur dan terus menjadi presiden hingga saat-saat terakhir kepemimpinannya. Dia juga bertekad'memilih mati di tanah Mesir'. 

"Saya akan menggunakan beberapa bulan yang tersisa dari jabatan saya untuk melayani kehendak rakyat," kata Mubarak

Sontak hal tersebut memicu kemarahan demonstran, dan bentrokan antara masa pendukung mubarak dan demonstran yang menuntut turunnya mubarak tak terelakan walaupun tidak ada korban jiwa.

Nampaknya perjuangan rakyat Mesir harus terus dilanjutkan, dan merekapun telah bersumpah untuk terus melanjutkan perjuangan mereka sampai Mubarak sang diktator terguling dan hengkang dari bumi Mesir.

Sumber : Al Jazeera, Viva News, Islamedia.web.id
Foto : Al Jazeera


Korban terus berjatuhan dari rakyat sipil, sejumlah media mengabarkan bahwa rezim terus menekan demonstran mesir, korban terus berjatuhan, pemblokiran informasi terus dilakukan facebook,tweeter dan terakhir Stasiun televisi Pan-Arab Al-Jazeera ditutup. Masihkah ada harapan untuk menggulingkan Mubarak? 

Spekulasi terhadap gerakan rakyat mesir yang menuntut lengsernya mubarak bermuara pada dua pilihan, mubarak lengser atau sebaliknya mubarak akan memukul habis semua penggerak dan mengokohkan kembali eksistensi kediktatorannya. Pihak-pihak dibelakang layar mulai bermain, terutama Israel yang terus melakukan lobi dan protest karena tentu saja dengan tergulingnya mubarak akan membawa dampak besar terhadap kondisi Palestina.

Tapi rakyat mesir bukanlah pengecut, mereka menjawab skenario spekulasi terburuk dengan rencana pemogokan tak terbatas di Mesir dan "pawai 1 juta orang" pada Selasa besok (1/2) di Kairo, untuk meningkatkan tawaran penggulingan rezim Presiden Hosni Mubarak. Seperti yang dikatakan Eid Mohammed, salah satu pengunjuk rasa dan penyelenggara aksi,  kepada AFP."Diputuskan semalam bahwa akan ada satu juta orang berpawai pada hari Selasa besok,"

Kita akan lihat bagaimana dunia barat yang selama ini bicara besar tentang demokrasi,  selama ini barat cenderung mendiamkan kediktatoran dinegara timur tengah  karena memang kepentingan mereka terlayani, lihat saja fakta tentang Mubarak (dakwatuna.com) :
* Mubarak, 82 tahun, mengambil alih pemerintahan setelah Islamis menembak mati pendahulunya, Anwar Sadat, pada parade militer di tahun 1981. Komandan angkatan udara ini justru “lebih tahan lama” memerintah daripada yang dibayangkan pada saat itu.
* Ia memang belakangan giat melakukan reformasi ekonomi  dipimpin oleh kabinet di bawah Perdana Menteri Ahmed Nazif. Tapi dia menutup rapat pintu oposisi politik.
* Dia telah menolak perubahan politik yang signifikan bahkan di bawah tekanan  Amerika Serikat, yang telah menuangkan miliaran dolar bantuan militer dan lainnya ke Mesir karena menjadi negara Arab pertama yang bersedia berdamai dengan Israel, menandatangani perjanjian pada tahun 1979.
* Mubarak memenangkan pemilihan pertama multi-capres tahun 2005 meskipun hasilnya sudah bisa ditebak.  Kelompok hak asasi manusia dan pengamat mengatakan pemilihan itu penuh penyimpangan.
* Dia tidak mengatakan apakah ia akan memerintah untuk masa enam tahun keenam pada tahun 2011. Para pejabat telah mengindikasikan dia mungkin akan terus memerintah, walaupun pertanyaan tentang kesehatannya setelah operasi di Jerman Maret lalu menjadi perdebatan. Rakyat membaca ia bakal menyerahkan kekuasaan pada anaknya, Gamal, yang kini berusia 47 tahun. Namun baik Mubarak atau Gamal pernah menyangkal sinyalemen itu.


Pada  situasi seperti ini informasi menjadi senjata utama yang harus dikuasai, biasanya rezim memang akan membredel semua informasi perlawanan, dan bentuk dukungan terbesar adalah ketika kita terus menyebarkan informasi kebenaran, disini peran blogger begitu besar, disaat media di bredel dan disaat media terbeli untuk kepentingan corong penguasa. Seperti yang dilakukan Al Jazeera yang meminta bantuan blogger Mesir untuk terus menulis dan mengup load foto kondisi terbaru sesaat setelah kantor berita mereka ditutup ,pemerintah mesir menuduh stasiun televisi tersebut lebih berpihak ke arah pengunjuk rasa dan dapat mendorong kerusuhan yang lebih banyak.

Semoga Allah SWT memberikan pertolongan terbaik terhadap rakyat Mesir
Postingan Lama Beranda

Sahabat

Follow @jalanpanjangweb

Artikel Terpopuler Pekan Ini

  • Kiprah Ikhwah di Bidang IT
  • Aksi Tim Rescue PKPU
  • Inilah sekilas Profil Muhammad Badi Abdul Majid Samy, Murysid 'Aam IKhwanul Muslimin yang ke VIII
  • Garut Kelelahan Irwan Prayitno
  • Kepedulian Sejati Vs Etalase Kepedulian
  • Mars KORSAD






Designed by JalanPanjang